
"Adik Hui...!" panggil Han Beng dengan rasa haru dan kedua mata mereka saling beradu.
"Ya, ada apa kak Beng?" tanya Yi Hui yang menatap Han Beng dengan rasa penasaran.
"Pakaian kamu kan juga cuma satu? Apakah kamu tidak memikirkan diri kamu sendiri?" tanya Han Beng dengan penasaran.
"Eh, Iya." kata Yi Hui dan dia tak menyangka kalau pemuda dihadapannya itu memperhatikan keadaannya.
"Kalau begitu, nanti dalam perjalanan kita jika menemui toko pakaian lagi, kita akan berhenti lagi ya!" pinta Han Beng yang membuat Yi Hui menganggukkan kepalanya lalu mengulas senyumnya.
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan dengan berlomba lari menyusuri jalan di pematang sawah dan ladang para penduduk sekitar.
"Ayo kejar aku kakak Beng!" seru Yi Hui yang sudah melewati Han Beng.
Pemuda itu mengulas senyumnya dan mengejar Yi Hui dengan tenaga biasanya, karena dia tak mau menggunakan jurus meringankan tubuh yang dia pelajari dari Hua Li.
Andai saja dia menggunakan jurus itu, sudah sedari tadi Han Beng meninggalkan Yi Hui di pematang sawah itu. Namun dia tak melakukannya, untuk bisa selalu mengimbangi nona cantik itu.
"Tunggu aku adik Hui...!" balas seru Han Beng dan keduanya berlarian susul menyusul.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tepi pedesaan, dan keduanya berhenti sejenak untuk mengatur pernapasan mereka.
Han Beng dan Yi Hui menebarkan pandangan mereka, dan banyak para penduduk yang berlalu lalang.
Han Beng menemui salah satu penduduk yang hendak ke ladngnya.
''Ma'af tuan saya mau bertanya." kata Han Beng yang kemudian seorang laki-laki setengah baya yang membawa peralatan taninya, menghentikan langkahnya.
"Ada apa tuan? Apa yang akan tuan tanyakan?" kata laki-laki itu yang berbalik bertanya dengan ramah.
"Apakah di desa ini ada yang menjual pakaian?" tanya Han Beng dengan sopan.
"Oh, ada! Toko pakaian itu ada di tengah kampung ini. Anda jalan lah secara lurus, dan nanti akan menemukan beberapa deret toko pakaian. Terserah anda mau pilih kota yang mana, karena mereka menjual pakaian berbeda-beda model dan ukurannya." jelas laki-laki itu.
"Oiya, terima kasih tuan." balas Han Beng dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Permisi." pamit laki-laki itu yang kemudian melanjutkan perjalananya.
"Iya tuan, sekali lagi terima kasih!" seru Han Beng yang melambaikan tangannya dan kemudian dia menghampiri Yi Hui yang sedang duduk diatas batu yang berada di tepi jalan.
__ADS_1
"Bagaimana kak?" tanya Yi Hui yang penasaran.
"Kita harus jalan lurus dan akan kita temui beberapa toko pakaian disana!" jawab Han Beng sesuai petunjuk dari laki-laki tadi.
"Baiklah! Tunggu apa lagi, ayo kita jalan!" seru Yi Hui yang sudah berdiri disamping Han Beng.
"Ayo,tapi kita jalan biasa saja ya!" seru Han Beng.
"Iya kak, agar tak mengundang perhatian para penduduk. Benar tidak?" tanya Yi Hui.
"Duh, pintar sekali adikku ini!" balas Han Beng dengan mengulas senyumnya.
Keduanya pun berjalan secara beriringan dan akhirnya mereka telah sampai di tengah kampung. Memang benar mereka melihat beberapa toko pakaian disana.
"Kita pergi ke toko yang lebih besar dari toko lainnya itu saja kak!" seru Yi Hui yang menunjuk ke arah toko yang dia maksudkan.
"Benar, sepertinya toko itu yang paling ramai!" balas Han Beng.
"Bagaimana kalau kita saling membelikan?" tanya Yi Hui.
"Maksudnya?" kata Han Beng yang balik bertanya.
"Iya kakak membelikan baju buat Yi Hui dan Yi Hui membelikan baju buat kakak Beng!" jawab Yi Hui yang mengulas senyumnya.
Keduanya masuk ke dalam toko dan mulai berpencar mencari pakaian yang mereka inginkan.
"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan yang sedari tadi memperhatikan Yi Hui yang melihat-lihat di gerai pakaian laki-laki.
"Saya mau mencari pakaian untuk pemuda itu." jawab Yi Hui seraya menunjuk ke arah Han Beng.
"Oh, buat suaminya ya?" tanya pelayan itu yang membuat Yi Hui mengerutkan alisnya, aku tetapi tidak marah.
"Aku belum bersuami dia itu sahabatku!" kata Yi Hui dengan singkat.
"Aih, maafkan saya, Nona. Saya kira sahabatmu ganteng itu akan pantas sekali kalau memakai pakaian ini, dan yang ini." kata pelayan itu seraya menunjukkan beberapa pasang pakaian laki-laki.
Yi Hui dengan senang hati memili-milih pakaian itu, dan dia akhirnya memborongkan semua sisa uangnya untuk bermacam pakaian pria.
Di bagian lain, Han Beng juga membeli banyak pakaian untuk Yi Hui dan pengurus toko yang juga amat cerdik banyak membantunya memilih segala macam pakaian. Dia sama sekali tidak mengerti tentang pakaian wanita, apalagi pakaian dalam, maka pengurus toko itulah yang membantunya.
__ADS_1
Ketika keduanya keluar dari toko masing-masing membawa sebuah buntalan besar dan keduanya saling pandang sambil tersenyum-senyum.
Dan tak lama kemudian, di dalam sebuah hutan sunyi, bagaikan dua orang anak kecil baru saja menerima hadiah dan kini membuka buntalan dan mengagumi semua hadiah pakaian itu, Han Beng dan Yi Hui tertawa-tawa gembira sambil mengagumi pakaian mereka.
.
"Aih, tentu banyak sekali uang yang Kakak Beng keluarkan untuk membeli semua ini!" seru Yi Hua dengan mengulas senyumnya.
"Tidak lebih banyak daripada yang kau keluarkan, adui Hui!" balas Han Beng yang juga membepehatikan pakaian yang dia kenakan pada saat ini.
"Aduh, indah sekali celana dan baju ini! Kau pandai sekali memilih untukku, kakak Beng.Terima kasih banyak ya!" seru Yi Hui yang memutar-mutar tubuhnya, merasakan pakaian yang menempel ditubuhnya itu.
"Eh, ternyata kau pun pandai memilih untukku adik Hui." kata Han Beng yang kemudian melihat ke arah Yi Hui.
"Hei, kenapa kau?" tanya Han
Beng yang terkejut melihat Yi Hui yang tiba-tiba menangis, duduk di atas tanah sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan dan terisak-isak.
"Kenapa au menangis, adik Hui?" tanya Han Beng yang kemudian berlutut di dekat Yi Hui dan sangat khawatir kalau-kalau dia telah menyinggung perasaan gadis itu.
Sampai beberapa lamanya Hui Im tidak mampu menjawab, hanya sesenggukan dan Han Beng membiarkannya saja, menanti sampai gadis itu menjadi tenang kembali.
"Adik Hui, sekarang ceritaka lah kepadaku apa yang menyusahkah, hatimu sehingga kau menangis tadi." kata Han Beng yang melihat YiHui dapat menguasai dirinya.
Sepasang mata yang bening itu agak memerah ketika memandang pada Han Beng.
"Maafkan aku, kakak Beng. Akan tetapi semua kebaikanmu membuat aku teringat bahwa hanya kaulah satu-satunya orang yang baik kepadaku, mengingatkan aku bahwa aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini." jawab Yi Hui yang menyeka air matanya.
Han Beng menghela napasnya, sedikit lega dihatinya. Karena yang terjadi pada Yi Hui tidak seperti apa yang dia bayangkan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...