
"Kami dari perguruan Hoa San tidak mencari permusuhan, akan tetapi kami percaya bahwa perguruan ular kobra tidak mencuri harta karun itu. Maka jika mereka difitnah, kami siap membelanya!" seru ketua perguruan Hoa San.
Biarpun tidak mengeluarkan kata-kata, namun sikap para murid perguruan walet putih dan perkumpulan pengemis tongkat merah, juga beberapa orang pendekar aliran putih, tampak dari sikap mereka bahwa mereka siap bertempur membela perguruan Ular kobra.
Sementara itu ketua Thio Kong kini mengangkat kedua tangan depan dada, memberi hormat kepada semua orang.
"Saudaraku sekalian, percayalah bahwa kami sama sekali tidak tahu apa-apa tentang harta karun, apalagi mencurinya. Kalau kami mencurinya, tidak mungkin para orang gagah di sini membela kami. Maka, kami harap kalian tidak sembarangan menuduh dan mempercayai berita bohong, dan memancing keributan dan permusuhan di sini. Kalau memang ada yang mencuri harta karun dan mengaku tinggal di perguruan ular kobra ini. Marilah kita berlumba untuk mencarinya, dan tidak saling bermusuhan memperebutkan barang yang tidak ketahuan di mana adanya!" seru ketua Thio Kong dengan lantang.
"Siapa yang butuh dan peduli akan harta benda? Sekarang, selagi kita berkumpul, hayo aku tantang siapa saja yang berani mengadu jurus silat denganku, Cu Liong, silakan maju!" seru Cu Liong dengan lantang.
Akan tetapi, semua orang menganggap ucapan ketua Thio Kong tadi benar dan mereka tidak peduli akan tantangan Cu Liong. Selain agak jerih menyambut tantangan ketua Bukit Merak ini, juga mereka semua datang ke perguruan ular kobra ini karena tertarik kepada harta karun Kerajaan Han, bukan untuk mengadu ilmu yang mungkin akan mendatangkan maut bagi mereka.
Mereka lalu mulai membubarkan diri meninggalkan tempat itu. Cu Ai ingin sekali menemui Hua Li, akan tetapi ayahnya sudah menarik lengannya, diajak pergi dari tempat itu bersama yang lain-lain.
Sementara itu, dengan ramah dan hormat ketua Thio Kong mempersilakan mereka yang tadi berpihak dan mendukung perguruan ular kobra untuk masuk dan berbincang-bincang di bangunan utama perguruan ular kobra.
Yang menerima undangan itu adalah Thian Yu dari perguruan walet putih dan tiga orang muridnya, ketua Kui dari perkumpulan pengemis tongkat merah, Heng Tin dari perguruan Hoa San, Sin Lan dan Sin Lin dari Lembah seribu bunga bersama dua orang murid bunga persik Ling Ling dan Ching Mei, Liu Ceng serta Hua Li.
__ADS_1
"Terima kasih atas kedatangan dan pembelaan saudara dan saudari yang terhormat, terutama sekali atas kepercayaan kalian semua bahwa kami sungguh tidak mengambil harta karun itu. Kami juga mendengar bahwa harta karun peninggalan Kerajaan Han itu kabarnya dicuri orang yang mengaku tinggal di pegunungan tengkorak. Kalau hal itu benar, marilah kita menyelidiki karena pegunungan Tengkorak itu luas sekali. Akan tetapi tentu kalian sudah mengetahui bahwa sesungguhnya yang berhak memiliki adalah saudara Liu Ceng ini, yang menerima peta sebagai warisan ayahnya, yaitu Panglima Kerajaan Han, mendiang Liu Bok. Sekarang, kami harap saudara Ceng bisa menceritakan kembali asal-usul harta karun itu kepada kami semua agar kami mengetahui lebih jelas, juga niat saudara Ceng mendapatkan harta karun itu." kata ketua Thio Kong dengan ramah.
Semua mata memandang kepada Liu Ceng. Hua Li tidak berani memandang langsung karena setiap kali bertemu pandang dengan pemuda yang dicintanya itu, hatinya tergetar.
Dia merasa bahwa dia telah melukai perasaan hati pemuda itu ketika dahulu pernah menceritakan bahwa dia telah bertunangan dengan pemuda lain, yaitu kakak seperguruannya Chen Bun. Padahal antara dia dan Liu Ceng sudah terdapat pertalian cinta kasih yang mendalam. Akan tetapi dalam pandang mata Liu Ceng kepadanya, sama sekali tidak terkandung penyesalan atau kemarahan, hanya keharuan yang membuat Hua Li semakin tunduk, iba dan haru yang memenuhi hatinya.
Kemudian terdengar Liu Ceng bercerita dengan suaranya yang selalu lembut dan tenang itu.
"Saudara-saudariku sekalian yang terhormat, saya akan menceritakan dengan singkat saja. Harta karun itu adalah harta Kerajaan Han yang dikorup atau dicuri oleh pejabat Bong yang dulu berkuasa dalam istana. Harta itu lalu disembunyikan oleh pejabat Bong dan dia membuat sehelai peta untuk tempat persembunyian harta itu. Ketika Ayah sebagai panglima menyerbu dan membinasakan pejabat yang korup, jahat dan yang bersekutu dengan orang Mongol itu, Ayah menemukan peta itu dan menyimpannya. Kemudian sebelum Ayah dan Ibu tewas dikeroyok pasukan yang dipimpin Panglima Mongol Lim Bao dan para pembantunya, Ayah meninggalkan peta itu kepada saya. Dengan cara yang licik Panglimaom Bao dapat memaksa saya dan saudari Hua ini dengan menawan adik saya Liu Hong. Kami terpaksa menyerahkan peta dan membantunya mencari harta karun. Ternyata harta karun itu ditanam di Bukit Surga akan tetapi setelah kami temukan, peti tempat harta karun itu kosong dan hanya ada ukiran ular kobra di dalamnya. Kami berhasil meloloskan diri dan sejak itulah tersiar berita bahwa harta karun itu dicuri orang dari perguruan ular kobra maka semua orang lalu berbondong-bondong datang ke pegunungan tengkorak. Saya merasa berkewajiban untuk menemukan harta karun itu dan memenuhi pesan Ayahku bahwa harta karun itu harus saya serahkan kepada yang berhak menerimanya." jelas Liu Ceng.
"Siapa yang berhak menerimanya itu? tolong jelaskan agar kita semua mengetahui dan merasa yakin bahwa kami berada di pihak yang benar," pinta ketua Thio Kong.
Semua orang menganggukkan kepalanya, yang di menyatakan persetujuan mereka.
"Kalau demikian tujuannya, kami semua siap untuk membantumu menemukan harta karun itu, saudara Ceng!" seru salah satu dari mereka. Mereka lalu bersepakat untuk mencari secara berpencar dan kalau ada yang menemukan tanda-tanda di mana adanya harta karun itu.
Kemudian Hua Li, Liu Ceng The Kui Lan, The Kui Lin, Ling ling, dan Cing Mei tree. Enam orang muda ini mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap dan saling berkenalan.
__ADS_1
Sin Lin dengan lincahnya memperkenalkan dua orang murid wale kepada Cun Giok. Dalam suasana gembira, mereka mengatur rencana pencarian harta karun itu.
"Kakak Ceng, kami berdua akan membantumu dan kami akan mencari. Kalau berhasil, tentu kami akan memberi kabar melalui perguruan ular kobra" kata Sin Lan.
"Kami berdua akan menemani kalian, kakak Lan dan Lin!" kata Ling Ling yang bersemangat.
Liu Ceng dan Hua tersenyum mendengar hal itu. Dua orang gadis bunga persik itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa kagum dan sukanya kepada dua orang kakak beradik itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...