Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 236


__ADS_3

Serigala Emas ini diutus oleh Cang Jin untuk mencari keterangan kesitu ketika tadi mendengar bahwa usaha mereka untuk merampok Liu Tai itu mengalami kegagalan.


Diam-diam Cang Jin mengadakan hubungan kerjasama dengan gerombolan pemberontak, biarpun pembesar itu sama sekali bukan seorang yang berjiwa patriot atau menderita karena melihat kehidupan rakyat yang sengsara tertindas oleh pemerintah yang mengerahkan tenaga rakyat untuk menjadi pekerja pembuat Terusan Besar.


Dia menyogok Liu Tai dengan maksud agar mendapatkan laporan baik ke atasan di kota raja, dan diam-diam dia menghubungi Cang Jin agar harta itu dirampok dan tentu dia pun akan memperoleh bagian.


Hok Cu mengerutkan alisnya dan merasa heran melihat munculnya dua orang dari Siong-an ini. Dari sikap mereka ketika berada di rumah makan, yaitu selagi mereka marah-marah dan hendak menyerang Hong Lan, mereka seperti mati kutu dan tidak berani ribut-ribut karena ruangan restoran akan dipergunakan oleh Cang Jin, ia sudah menduga bahwa dua orang jagoan takut atau setidaknya segan kepada para pembesar itu.


Tapi sekarang tahu-tahu mereka memiliki hubungan baik dengan para pemberontak yang memusuhi para pembesar. Hok Cu curiga dua orang jagoan memang merupakan mata-mata pihak pemberontak untuk menyelidiki keadaan para pembesar di kota-kota.


Akan tetapi ia pun diam saja dan hanya menonton. Kini ia pun sudah dapat melihat betapa lihainya Hong Lan dan diam-diam, merasa kagum. Pemuda itu selain memiliki kepandaian tinggi, juga amat tabah dan berani.


Di dalam sarang gerombolan yang demikian kuatnya, di mana tidak saja terdapat banyak orang pandai, akan tetapi juga memiliki anak buah yang amat banyak. Kalau mereka itu mengerahkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan, sungguh amat berbahaya bagi keselamatan Hong Lan.


Pemuda itu kelihatan tenang saja, bahkan gembira seolah-olah dia sudah merasa yakin akan hasil baik akibat ulahnya itu. Kini pemuda itu berhadapan dengan Gan Lok, dan Hok Cu ingin sekali melihat kelanjutan ulah pemuda itu.


Dia diam-diam ia memperhitungkan bahwa walaupun dua orang itu juga merupakan lawan berat, namun jelas bahwa pemuda itu akan mampu membela diri dengan baik dan bukan tidak mungkin akan dapat mengalahkan mereka.


Semua orang merasa terkejut dan juga penasaran mendengar pemuda itu menantang Gan Lok untuk maju mengeroyoknya. Semua orang tahu bahwa tingkat kepandaian Gan Lok itu tidak jauh bedanya dengan tingkat kepandaian wakil ketua yang tadi kalah.


Kalau mereka maju bersama, berarti merupakan lawan yang dua lebih berat daripada Gan Lok.


Para pengikut Gan Lok juga merupakan orang-orang yang angkuh dan tinggi hati, terlalu menghargai diri sendiri terlampau tinggi hati sehingga biasanya mereka memandang rendah kepada orang lain.


Karena merasa sudah jarang ada yang dapat melawan, mereka pun hampir tidak pernah maju bersama. Seorang saja dari mereka sudah jarang menemukan tanding.

__ADS_1


Tapi ketika tadi mereka datang, sempat melihat kalau wakil ketua mereka kalah oleh pemuda itu. Mereka merasa gentar kalau harus maju seorang demi seorang. Kini, mendengar pemuda itu menantang mereka untuk maju bersama mengeroyok tentu saja mereka menjadi girang.


Mereka tidak perlu merasa kehilangan muka sekarang kalau maju bersama, karena mereka ditantang.


"Bagus! Orang muda yang sombong memang agaknya sudah nasibmu untuk mampus di tangan kami. Kami menerima tantanganmu untuk maju bersama'-sama!" seru orang tertua dari mereka sudah menggerakkan cambuknya ke atas kepala, diikuti pula oleh temannya.


"Tarr.....tarr....tarr.....!"


Suara cambuk meledak-ledak di udara dan nampak asap mengepul, dua orang yang berpakaian serba kuning itu sudah berpencar mengepung Hong Lan dari tiga penjuru, cambuk mereka meledak-ledak di atas.


Sepertinya mereka seperti mengambil ancang-ancang untuk berlomba-lomba untuk merobohkan lawan mereka.


Hong Lan bersikap tenang namun penuh kewaspadaan. Dia berdiri tegak, sama sekali tidak tegang dan bahkan melemaskan seluruh tubuhnya, namun setiap lembar syarafnya siap menghadapi serangan dari mana pun datangnya.


Tenaga sakti berputar-putar dalam pusarnya, siap dikirim ke mana saja bagian tubuh membutuhkan.


Tiba-tiba ada sinar emas menyambar dari arah kiri, menyambar bagaikan kilat dari angkasa, mengarah kepala Hong Lan. Pemuda yang sudah siap siaga memiringkan tubuhnya dan cambuknya menyambar tanpa suara itu memecut lewat.


Akan tetapi segera disusul sambaran cambuk dari kanan dan dari depan. Namun, dengan gerakan yang amat gesit, Hong Lan dapat mengelak dari sambaran dua batang cambuk itu.


Sebelum dia sempat berbuat sesuatu untuk membalas, cambuk pertama sudah menyambar lagi dan kini, dua batang cambuk itu sambung-menyambung, menyerang bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada Hong Lan untuk membalas sama sekali.


Hong Lan mempergunakan kesigapannya, dengan jurus meringankan tubuh yang tinggi, tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar cambuk.


Diam-diam dia terkejut juga. Kiranya setelah bekerja sama, dua batang cambuk ini amat berbahaya, kalau dilanjutkan begini, dia selalu akan diserang dan tidak ada kesempatan lagi untuk membalas.

__ADS_1


Namun Hong Lan adalah seorang yang amat cerdik. Sebentar saja dia sudah mendapat akal bagaimana agar dia dapat terlepas dari kepungan sinar cambuk itu.


Dia melihat bahwa cambuk-cambuk itu hanya menyerang secara bergiliran dan dia tahu mengapa demikian. Kalau tiga batang cambuk yang panjang itu menyerang secara berbarengan ada bahayanya ujung cambuk-cambuk itu akan saling bertemu, bahkan saling belit sehingga akan merugikan mereka sendiri.


Jelaslah bahwa kalau yang satu menyerang, yang dua lainnya hanya bersiap untuk menyusulkan serangan berikutnya andaikata serangan pertama itu dapat dielakkan oleh lawan. Dan ke mana pun Hong Lan mengelak, selalu dalam pengawasan dua orang yang lain agar dapat menyusulkan serangan berikutnya yang tepat.


Mula-mula Hong Lan mencoba untuk menggunakan pedangnya menangkis serangan dengan maksud membabat putus cambuk lawan. Tapi usahanya bukan saja gagal karena cambuk itu terbuat dari bahan yang kuat dan lembek tidak mungkin dibabat putus, bahkan hampir saja pedangnya terampas karena ujung cambuk.


Bagaikan ular telah membelit pedang itu dan baru setelah sulingnya digerakkan menghantam ke arah cambuk, pedangnya dap red kalau jalan satu-satunya hanyalah bahwa dia harus balas menyerang seketika, dan Hong Lan lalu mengubah siasatnya.


Begitu ada cambuk dari depan menyambar, Hong Lan bukan hanya mengelak melainkan meloncat dengan kecepatan kilat.


Tubuhnya mencelat ke atas dengan gerakan jurus ilmu silat Naga Siluman, yang mana tubuh itu tahu-tahu membalik dan menyerang ke arah lawan yang berdiri di sebelah kirinya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2