
"Bukankah yang kau hormati itu pakaian dan sepatuku? Bukan diriku yang kau suguhi hidangan, melainkan pakaian dan sepatuku inilah!" seru pemuda itu.
Hok Cu semakin tertarik kepada pemuda yang selain tampan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, ternyata juga halus tutur sapanya dan luas pula pandangannya itu.
Demikian sebaliknya dengan Hong Lan yang kini sudah tergila-gila benar kepada Hok Cu. Belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis seperti Hok Cu. Biarpun dia hanya mencuri-curi pandang, dia sudah melihat jelas kalau gadis itu lincah jenaka, gembira dan penuh gairah hidup, wajahnya demikian cantik jelita dan manis, dengan dandanan yang rapi dan pantas walaupun tidak terlalu pesolek.
Memang sejak menjadi murid biksu Hek Bin, Hok Cu tidak begitu pesolek lagi seperti ketika ia masih menjadi murid Mo Li. Kini pakaian dan dandanan rambutnya rapi dan segalanya nampak bersih, namun cukup sederhana, tidak mewah.
Tiba-tiba Hong Lan memberi isyarat kepada Hok Cu untuk mendengarkan. Mereka berdua mengerahkan tenaga kearah pendengaran mereka yang menjadi peka sekali sehingga mereka dapat mendengarkan percakapan antara kedua orang pembesar itu.
"Ha...ha....ha...., kami merasa terhormat dan gembira sekali menerima kunjungan tuan Liu Tai. Seperti Liu Tai lihat, keadaan di sini baik-baik saja, semua pekerjaan berjalan dengan lancar dan kami selalu berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan pemerintahan yang baik," kata pemilik rumah makan itu dengan menyeringai, sikapnya merendah dan menjilat.
Wajah yang dingin dari Liu Tai tidak berubah, akan tetapi matanya menatap tajam wajah tuan rumah.
"Akan tetapi bagaimana dengan pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja untuk melancarkan jalannya pembangunan terusan, Cang Jin?" tanya Liu Tai yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Ah, hal itu juga terjadi dengan lancar dan baik-baik saja. Bukankah kami telah mengirim ribuan orang pekerja dari daerah kami ini ke tempat pembangunan terusan? Kami sudah membantu banyak....." kata Cang Jin.
"Lalu apa artinya berita yang kami terima tentang pemaksaan tenaga kerja, penekanan dan uang tebusan bagi mereka yang mampu membayar agar terbebas dari tenaga paksaan!" seru Liu Tai yang kini sepasang mata pembesar tinggi kurus dari kota raja itu menatap wajah tuan rumah penuh selidik.
Sejenak wajah Si pemilik rumah makan yang gendut itu berubah agak pucat, akan tetapi dia lalu membungkuk-bungkuk dan menyeringai lebar.
"Aih, Liu Tai yang mulia, tidak perlu mempercayai kabar angin seperti itu! Tidak pernah terjadi hal demikian. Memang ada beberapa orang yang kami hukum, akan tetapi mereka itu memang membandel dan memberontakt menghasut penduduk agar tidak membantu pemerintah. Padahal, karmiselalu menyerahkan uang bagi mereka yang menjadi sukarelawan membangun terusan, sesuai dengan perintah atasan kami di kota raja." kata Cang Jin.
"Hmm..... mudah-mudahan saja benar apa yang kau katakan itu, Cang Tai." kata Liu Tai dengan sikapnya tetap dingin seperti juga wajahnya.
__ADS_1
"Aih, tuan Liu Tai tentu lebih percaya kepada laporan saya dari pada laporan orang-orang yang tidak suka kepada saya bukan? Kami percaya atas kebijaksanaan Liu Tai agar kelak melaporkan ke kota raja bahwa semua tugas sudah kami laksanakan dengan sebaiknya. Untuk kebaikan hati tuan Liu Tai ini, kami tentu tidak akan melupakannya. Tuan Liu Tai, sekarang juga kami telah menyediakan bekal untuk tuan Liu Tai dalam perjalanan pulang, disertai pula dua orang teman seperjalanan yang masih gadis dan merupakan kembang dari seluruh gadis penghibur di daerah kami. Silakan tuan Liu Tai melihat dan berkenalan dengan mereka." kata Cang Jing yang kemudian memberi isyarat kepada seorang pengawalnya.
Pengawal ini cepat keluar dari rumah makan dan tidak lama kemudian dia pun kembali mengantar dua orang gadis yang berusia antara lima belas dan delapan belas tahun, berwajah cantik berkulit putih mulus. Selain dua orang gadis itu, ada empat orang pengawal menggotong sebuah peti yang kelihatan berat.
Cang Jin menyuruh dua orang gadis itu duduk di atas bangku di kanan kiri Liu Tai. Sebagai dua orang gadis hiburan yang terlatih baik, walaupun mereka masih gadis, dua orang itu dapat menyuguhkan arak dan menyumpitkan daging dengan gaya yang manis memikat.
Kemudian Cang Tai menyuruh Pengawal membuka tutup peti dan nampaklah barang-barang yang amat berharga di dalam peti itu, bongkahan-bongkahan emas dan perak, juga gulungan sutera dan perhiasan yang serba mahal, hanya sebentar saja peti itu dibuka, lalu ditutup kembali.
Liu Tai mengelus jenggotnya, tersenyum dingin biarpun diapit dua orang gadis yang hangat.
"Hm, apa artinya pemberian ini, Cang Jin? Apa yang telah kulakukan maka kau memberi hadiah sebanyak ini?" tanya Liu Tai yang menatap Cang Jin secara tajam.
"Aih, Liu Tai yang mulia. Sumbangan ini tidak ada harganya kalau dibanding dengan jasa Taijin membuat laporan yang baik ke kota raja tentang pekerjaan saya. Biarlah kelak saya berkesempatan untuk dapat menghaturkan sumbangan yang lebih banyak." kaya Cang Jin dengan menyeringai.
Hok Cu memanggil pelayan untuk membayar harga makannya.
"Biarlah saya yang membayarnya sekalian, Nona, tentu saja kalau Nona tidak berkeberatan, sebagai tanda perkenalan kita."kata Hong Lan.
"Hei, pelayan! hitunglah semua harga hidangan kami berdua!" seru Hong Lan.
"Hm, agaknya kau meniru pemilik rumah makan yang gendut itu!" seru Hok Cu yang membuat Hong Lan juga tertawa.
"Ha...ha...ha....!"
Kemudian Hong Lan membayar harga makanan dan minuman kedua meja itu kepada pelayan, kemudian, seperti dengan sendirinya dan sewajarnya, mereka keluar dari tempat itu bersama.
__ADS_1
"Nona, aku ingin menghadang kereta pembesar kurus itu di luar kota dan menyerangnya. Bagaimana menurut kamu?" tanya Hong Lan dengan lirih.
Hok Cu terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan heran.
"Sungguh aneh sekali! Aku pun mempunyai niat demikian! Bagaimana jalan pikiran kita dapat sama?" tanya Hok Cu.
"Ini namanya bahwa kita memang berjodoh untuk menjadi sahabat baik dan bekerjasama!" seru Hong Lan dengan tersenyum gembira.
Hok Cu merasa betapa jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas rnendengar ucapan itu, akan tetapi karena sikap pemuda itu sopan, ia pun segera mengalihkan percakapan.
"Aku mengetahui untuk apa kau menghadang dan menyerangnya?" tanya Hok Cu.
Hong Lan adalah putera kandung dan murid Beng Cu, seorang datuk besar dunia hitam, namun dia Cerdik bukan main dan dia tahu bahwa kepada seorang wanita seperti Hok Cu yang agaknya seorang pendekar wanita dia harus mampu menggunakan kedok seorang budiman.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1