
Dan jika tak ada yang sanggup membayar pajak, anak-anak mereka yang akan menjadi jaminannya.
Tak ada seorang pun berani menegur, karena pernah seorang mencoba untuk menegur kepala kampung itu tapi hasilnya orang itu sendiri ditahan dan dijadikan budak karena dianggap memberontak terhadap pemerintah.
Sore hari menjelang malam, Hua Li merasa khawatir jika kemalaman perjalanannya, karena itu dia mencoba mencari rumah penginapan.
Setelah memasuki perkampungan, Hua Li memasuki sebuah penginapan. Tapi sangat mengherankan, penginapan itu yang seharusnya biasa dibuka, kini tertutup dan tidak menerima tamu.
"Maaf, Nona, rumah penginapan tidak dibuka lagi," kata seorang bekas pelayan rumah penginapan itu.
"Kenapa tidak buka?" tanya Hua Li yang heran.
"Kami tidak kuat membayar pajak dan perampokan pada pengunjung hampir tiap hari!" jawab pemilik penginapan.
"A..apa!" seru Hua Li yang terkejut.
"Ma'af sebaiknya nona mencari penginapan yang lainnya." ucap pelayan itu yang kemudian menutup pintu penginapan itu.
Hua Li menghela napasnya, dan kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke rumah makan. Ketika sampai di depan rumah makan, Hua Li hendak memesan makanan di rumah makan tersebut, dan ternyata ia mendapat jawaban yang serupa.
Keadaan desa itu membuat ia merasa curiga dan menduga pasti ada apa-apa. Kemudian gadis itu bertanya kepada seorang wanita yang tampak muram dan duduk di depan rumahnya.
"Ma'af bibi, apa yang sebenarnya telah terjadi di desa ini?" tanya Hua Li pada wanita itu.
Wanita itu memandangnya dengan mengernyitkan kedua alisnya dan kemudian laki-laki tua itu menengok ke kanan dan kiri, kemudian dia segera mempersilakan Hua Li masuk, lalu mengunci pintu rumahnya.
"Sepertinya nona bukan warga desa ini, karena kau membawa-bawa buntalan, kecapi dan pedang di punggung. Nona selama di desa ini jangan kau bicara sembarangan!" bisik wanita setengah baya itu.
"Ada apakah, bibi?" tanya Hua Li yang heran.
Wanita itu lalu menceritakan jika kepala desa yang tadinya berbudi dan adil itu kini berubah menjadi pemeras rakyat yang kejam.
"Bibi, tadi sebelum sampai ke desa ini, saya melihat ada mayat, dan mayat itu memakai baju biru dan celana abu-abu." ucap Hua Li.
__ADS_1
"Kalau begitu, dia adalah Han Xie!" seru bibi itu yang seketika wajahnya berubah sedih.
"Han Xie? Siapakah Han Xie itu, bibi?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Dia...dia adalah adikku!" jawab bibi itu yang dengan suara serak dan air matanya berlinang di kedua pipinya.
"Apa! adik bibi? kenapa beliau bisa begitu bi?" tanya Hua Li yang semakin penasaran.
"Han Xie ditangkap karena berani mencela kepala desa dan katanya dia akan dijadikan pelayan dirumah borddil." jawab bibi itu seraya menyeka air matanya.
"Tapi kenapa dia dibunuh secara kehi seperti itu?" ucap bibi itu yang masih terisak.
"Mungkin saja bibi Xie hendak melarikan diri, namun naas nyawa bibi Xie yang menjadi taruhannya bi!" ucap Hua Li yang mencoba menyimpulkannya.
"Sepertinya benar apa kata kamu anak muda, sebaiknya aku minta bantuan warga untuk mencari mayat adikku itu!" seru si bibi itu yang kemudian bangkit dari tempatnya duduk.
"Iya bi, hati-hati." pesan Hua Li. Dan si bibi itu keluar dari rumahnya dan menuju ke satu persatu rumah warga di sekitarnya untuk diajak mencari mayat adiknya, Han Xie itu.
Sementara itu Hua Li juga merasa kesal dan marah sekali. Ia menganggap perbuatan kepala desa itu sewenang-wenang dan memang harus diberi pelajaran.
Setelah bertanya kesana dan kemari, akhirnya dia menemukan gedung kepala desa yang bercat kuning yang tertutup pintunya.
Kemudian Hua Li mengetuk pintu dengan keras dan pintu dibuka oleh seorang pengawal bersenjata golok yang bertubuh tinggi besar.
"Kurang ajar! siapa yang telah mengganggu kami! apa mau mati, hah!" seru salah satu laki-laki yang bertubuh tegap itu.
Tapi ketika ia telah membuka pintu dan melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis yang cantik sekali, wajah yang tadinya tampak kejam itu berubah dan kini orang tinggi besar itu tersenyum-senyum ceriwis dan menyebalkan.
"Eh, Nona cantik! kamu ma mencari siapa?" tanya salah satu laki-laki itu.
"Kalian siapa?" ucap Hua Li yang malah bertanya.
Mendengar apa yang diucapkan Hua Li, orang tinggi besar itu memperlebar senyumnya.
__ADS_1
"Aku adalah seorang penjaga keamanan di sini. Apakah Nona hendak bertemu dengan kepala desa?" tanya salah satu penjaga itu,dan Hua Li mengangguk.
"Ya, tolong panggilkan kepala desa. Katakan aku hendak bertemu dengan dia." jawab salah satu penjaga itu dengan tersenyum lagi.
"Kalau begitu tunggu sebentar, biar aku sampaikan pada tuan kepala desa!" seru penjaga itu yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar.
"Kau dipersilakan masuk menghadap di dalam, Nona." ucap penjaga itu, dan Hua Li mengikuti penjaga itu memasuki ruang dalam.
Gadis itu bersikap hati-hati karena ia tetap menaruh kecurigaan besar. Mereka tiba di ruang dalam yang cukup luas dan di atas sebuah kursi di belakang mejanya duduk seorang laki-laki tua.
Hanya memandangnya sekilas saja Hua Li tahu bahwa orang itu adalah seorang terpelajar dan baik hati, tapi sepasang matanya redup dan layu seakan-akan menderita hebat di dalam batinnya.
Ketika melihat ia datang, orang tua itu bersikap sombong dan angkuh, tapi Hua Li yang bermata tajam sering menerima wejangan dari ayahnya dan dapat mengenal wajah dan sifat manusia, maka tahulah ia bahwa sikap itu adalah paksaan belaka.
"Kamu ini siapa, dan datang dari mana serta ada keperluan apa mencari aku?" tanya kepala desa itu dengan suara angkuh.
"Kepala Desa, mohon ma'af jika aku mengganggumu. Aku adalah seorang perantau yang kebetulan lewat di desa ini, tapi keadaan ganjil yang terjadi di desamu membuat aku merasa tidak enak dan aku harus menegurmu." jelas Hua li.
Wajah kepala desa itu berubah pucat. Agaknya merasa cemas dan marah.
"Nona kau seorang gadis muda janganlah mencampuri urusan pemerintahan. Lebih baik pergilah dari desaku dengan aman!" seru kepala desa itu dengan membelalakkan kedua matanya.
"Kepala desa! Kau berlaku kejam sekali dengan memeras rakyatmu sendiri, menghisap orang-orang desa yang mengangkatmu menjadi kepala! Tidak tahukah kau bahwa dengan peraturanmu itu membuat banyak orang-orangmu menderita kelaparan? Tidak dengarkah kau betapa mereka mengeluh dan menangis karena peluh dan darah yang mereka peras di ladang ternyata kau rampas hasilnya!" seru Hua Li dengan geram.
"Diam kau bocah ingusan! Kau...cepat keluar dari sini!" teriak kepala desa itu dengan keras sedangkan wajahnya semakin pucat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...