
Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu gerbang dan para pengemis itu melihat mereka, tentu saja para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu menjadi geger.
Mereka segera mengenal tiga orang itu dan segera menghadapinya dengan senjata tajam seperti golok, pedang, tombak dan lain-lain.
Sebagian pula memegang tongkat pengemis mereka dengan sikap mengancam. Akan tetapi, Kwe Ong menghadapi mereka sambil terkekeh-kekeh.
"Ha ..ha ..ha....! kalian jangan panik jangan ribut. Aku datang untuk menemui sahabat baikku, Sin Kai untuk membicarakan kesalahpahaman antara kita tadi. Katakanlah kepadanya bahwa sahabat baiknya yang bernama Kwe Ong datang untuk bicara dengan dia!" kata Kwe Ong yang sedikit memerintah.
"Kwe Ong?"
Terdengar seruan-seruan di antara mereka dengan kaget.
Tentu saja nama ini tidak asing bagi mereka, dan mereka pun merasa jerih. Kiranya kakek gembel yang amat sakti dan yang membuat mereka tadi kocar-kacir
adalah Kwe Ong si kerua Pengemis dari Propinsi Hok-kian.
Pantas demikian lihainya, pikir mereka, kini menjadi ragu-ragu untuk lancang tangan.
"Hayo cepat kabarkan padanya, ataukah kalian mau main-main lagi dengan kami? Akan tetapi hati-hati, sekali ini aku tidak akan menggunakan tangan lunak terhadap kalian!" seru Kwe Ong dengan sedikit ancaman ini, dan berhasil membuat mereka semua menjadi jerih beberapa orang lalu lari ke dalam membuat laporan.
Tak berapa lama kemudian muncullah empat orang pengemis setengah tua yang sabuknya berwarna merah tua, tanda bahwa tingkatnya sudah tinggi. Meraka berempat itu menghadapi Kwe Ong dengan sikap hormat.
"Ketua kami mempersilakan anda untuk masuk dan menghadap beliau!" seru salah seorang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu.
"He...he....he...! sejak kapan Setan tua disebut Raja, Hah seperti seorang bangsawan tinggi saja? He...he...he...! ingin aku melihat mukanya kalau mendengar pertanyaanku ini." kata Kwe Ong sambil terkekeh-kekeh, kakek jembel itu lalu mengajak Han Beng dan Yi Hui untuk memasuki sarang perkumpulan pengemis sabuk merah.
__ADS_1
Tentu saja diam-diam Han Beng bersiap siaga menghadapi segala kemungkin karena siapa tahu, para pengemis hanya menjebak saja, seperti menggiring harimau ke dalam perangkap.
Pemuda ini agak khawatir melihat gurunya. Gurunya itu masih sakit, panas dan batuk dan baru sempat makan obat satu kali saja di rumah keluarga Yi. Tentu kesehatannya belum pulih benar dan sekarang memasuki sarang harimau.
Empat orang pimpinan perkumpulan pengemis sabuk merah menjadi penunjuk jalan dan tiga yang tamu itu mengikuti mereka, memasuki sebuah ruangan besar di dalam bangunan.
Ternyata isi bangunan itu mewah sekali sehingga berulang kali Kwe Ong mengeluarkan suara pujian.
"Wah, bukan main! Aku ini memasuki rumah para pengemis ataukah memasuki istana raja?" kata Kwe Ong seraya menebarkan pandangannya.
Ruangan yang mereka masuki itu luas,dua puluh lima meter panjangnya lima belas meter lebarnya. Agaknya tempat ini dipergunakan untuk keperluan kalau banyak orang berkumpul, pesta, tempat atau juga berlatih silat.
Di bagian pinggirnya terdapat sebuah meja panjang di mana nampak duduk lima belas orang, mengelilingi meja, dan di kepala meja duduk seorang kakek berjenggot panjang yang sikapnya berwibawa.
"Heiiiii! Setan Tua, sejak kapan kau menjadi seorang raja yang kaya raya!" Tegus kwe Ong yang memandang kakek berjanggut panjang itu.
"Ah, kiranya Kwe Ong yang muncul. Silakan duduk, silakan duduk!" seru Sin Kai yang menyambut munculnya rekannya sesama pengemis dengan sikap dingin saja tanpa bangkit berdiri, akan tetapi menjawab dengan cukup hormat.
Han Beng yang berpenglihatan tajam itu melihat betapa sinar mata gurunya berkilat aneh mendengar sambutan itu, namun gurunya yang agaknya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak wajar itu bersikap biasa saja, dengan bebas dan tanpa sungkan-sungkan dia pun duduk di atas sebuah kursi kosong dan memberi isarat kepada Han Beng dan Yi Hui untuk mengambil tempat duduk pula.
Empat orang pengawal tadi mengundurkan diri dan keluar dari ruangan luas itu. Biarpun dalam ruangan itu hanya terdapat belasan orang pimpinan perkumpulan pengemis sabuk merah yang dikepalai oleh Sin Kai, namun tiga orang tamu ini maklum bahwa di luar ruangan itu sudah siap puluhan bahwa mungkin ratusan anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu yang siap setiap saat dapat diperintahkan menyerbu dan mengeroyok mereka.
"Kwe Ong, kami merasa menyesal sekali bahwa kau dan muridmu telah menimbulkan keributan di kota raja. Kalau saja aku tidak ingat bahwa diantara kita masih ada hubungan persahabatan dan kita sama-sama menjadi pimpinan pengemis, tentu tadi kalian tidak kubiarkan masuk, dan sudah ku suruh menangkap kalian!" tegur Sin Kai yang jelas saja membuat Kwe Ong, Han Beng dan Yi Hui sangat terkejut.
"Ha...ha....ha....! akal maling memang begitu, sebelum tertangkap lebih dulu teriak maling agar tertutup kesalahannya. Sin Kai, justru kedatanganku ini untuk minta keterangan darimu! Muridku ini minta obat kepada toko obat milik Nona Hui ini, untuk mengobati aku yang sedang sakit. Akan tetapi muncul tiga orang anak buahmu yang melarang. Nona Huu memberi kepada muridku. Karena Nona Souw merasa terhina, maka ia lalu melawan tiga orang anak buahmu itu melarikan diri. Kemudian aku dan muridku diundang oleh keluarga Yi, dan tiba-tiba saja para pembantumu muncul bersama pasukan keamanan kota raja melakukan penyerbuan! Sekarang aku datang untuk bertanya kepadamu Sin Kai apa artinya semua ini? Kenapa sikap anak buahmu jauh sekali dibandingkan yang dahulu?" jelas Kwe Ong sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Hmm, tidak ada yang berubah pihak kami, Kwe Ong. Kaulah yang berubah karena kau bersekutu dengan para pemberontak perguruan Elang sakti untuk melawan pasukan pemerintah! Sudah menjadi peraturan kami bahwa seluruh kota raja dan wilayahnya merupakan wilayah kami, dan pengemis dari mana pun juga yang hendak mengemis disini harus mendapatkan persetujuan kami lebih dulu! Hal ini untuk mencegah terjadinya perebutan dan kesalahpahaman. Akan tetapi muridmu mengemis tanpa lebih dulu memberitahukan kepada kami, tentu saja dilarang oleh para anggota kami." jelas Sin Kai.
"Oh jadi begitukah? Dan kau bergabung dengan pasukan pemerintah untuk menindas rakyat!" seru Kwe Ong yang menyimpulkan penjelasan Sin Kai.
"Kwe Ong...!"
Tiba-tiba Sin Kai bangkit berdiri dan belasan orang pembantunya juga bangkit berdiri, sikap mereka mengancam.
"Lancang engkau bicara! Kami adalah golongan rakyat yang baik, bukan pemberontak, tentu saja berbaik dengan pemerintah. Kami tidak menindas rakyat, melainkan menentang para pemberontak!" seru Sin Kai.
"Aku masih menganggap kau sebagai rekan, sama-sama pengemis, dan yang membawa keributan itu kau lakukan tanpa sengaja dan karena tidak mengerti. Mengingat itu, berjanjilah bahwa kau malam ini juga akan keluar dari kota raja dan tidak akan kembali lagi, dan aku akan membebaskan kau dan muridmu!" sambung Sin Kai seraya membentak.
Han Beng sudah mengira hal ini akan terjadi, demikian juga dengan Yi Hui yang memandang pada para pimpinan pengemis itu penuh kebencian. Mengingat bahwa merekalah yang menjadi penyebab hancurnya keluarganya dan kematian ayahnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1