Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 106


__ADS_3

"Eh, mengapa begitu? Bukankah harta karun Kerajaan Han itu menjadi hak milikmu karena petanya diwariskan mendiang ayahmu kepadamu, Liu Ceng?" tegur Ban tok yang merasa heran.


"Iya, tapi kami telah membagi dua dengan tuan putri Yu." kata Liu Ceng.


"Siapa pula itu tuan putri Yu itu?" tanya Siauw Tek dengan heran.


Liu Ceng dan Hua Li saling pandang, merasa tidak enak kalau harus memberitahu bahwa Tuan Putri itu adalah gadis yang dulu bernama atau dikenal sebagai Yauw Lie dan yang kini menjadi calon istri Liu Hong. Mereka berdua memandang kepada Liu Hong dengan pandang mata menuntut agar Liu Hong yang memberi penjelasan dan pengakuan kepada orang tuanya.


Dengan gayanya Liu Hong yang maklum akan isi hati kakak misan dan kakak angkatnya, segera berkata kepada ayah dan kedua ibunya.


"Begini persoalannya, Ayah dan Ibu berdua dan guru. Sebetulnya, setelah mengetahui bahwa kakak Ceng berniat menyerahkan harta karun kepada wakil rakyat pejuang, para tokoh yang tadinya ikut memperebutkan harta karun lalu mendukung kakak Ceng. Semua orang mencari harta karun akan tetapi akhirnya, adik Hua dan kakak Ceng yang berhasil menemukan peti berisi harta karun Kerajaan Han itu. Kemudian muncul tuan putri Yu yang minta agar harta karun diserahkan kepadanya sebagai wakil Kerajaan Mongol karena dia utusan istimewa dari Kaisar." jelas Liu Hong.


"A....apa, enak saja! Dasar tuan putri Mongol yang curang dan jahat!" kata Ban-tok dengan marah.


"Tidak, guru! tuan putri Yu tidak jahat!" seru Liu Hong cepat membela tuan putri Mongol itu.


"Buktinya, dia tidak mengerahkan pasukan untuk merampas harta karun, bahkan melarang dua orang pembantunya yang lihai, Beng Ong dan Si Mayat Betina yang hendak merampas harta karun. Dia minta harta karun itu secara baik-baik, mengajukan alasan yang masuk akal." jelas Liu Hong.


"Hemm, alasan masuk akal bagaimana yang dia ajukan?" tanya Siauw Tek pada putranya Liu Hong yang sebenarnya bernama asli Siauw Hong itu.


"Begini, Ayah. Tuan putru mengatakan bahwa harta pusaka itu tadinya milik Kerajaan Han, akan tetapi karena Kerajaan Han telah kalah oleh pasukan Mongol maka semua harta miliknya menjadi barang rampasan Kerajaan Mongol. Lagi pula harta karun itu ditemukan di pegunungan tengkorak yang juga menjadi wilayah kekuasaan Pemerintah Kerajaan Mongol maka sudah semestinya menjadi hak milik Kerajaan Mongol yang diwakili oleh tuan putri Yu yang membawa lencana emas dari kerajaan Mongol. Maka, alasannya itu tak dapat dibantah kebenarannya dan cukup kuat," kata Liu Hong.


"Dan kau menyerahkan setengah bagian harta karun itu kepadanya, Ceng'er?" tanya Ban Tok..

__ADS_1


"Tidak, Ibu." jawab Liu Ceng yang juga menyebut guru kepada Ban-tok karena ia menjadi saudara angkat Liu Hong dan otomatis menjadi murid angkat tiga orang tua di Pulau Ular itu.


"Tuan putri Yu berdebat dengan saya, masing-masing mengajukan alasan. Saya sebagai pelaksana pesan terakhir Ayah dan dia sebagai utusan istimewa Kaisar. Masing-masing tidak mau mengalah dan akhirnya Tuan Putri Yu menantang untuk diadakan pi-bu satu lawan satu. Yang menang berhak memiliki harta karun itu." jelas Hua Li.


"Hemm, aneh sekali! Bagaimana seorang tuan putri Mongol bersikap segagah itu?" tanya Ban tok yang heran.


"Memang Tian putri Yu seorang pendekar, guru!" kata Liu Hong yang mengulas senyumnya.


"Dia pantang bertindak curang, tidak mau mengerahkan pasukan untuk merampas harta karun melainkan mengajak adu jurus secara adil seperti seorang pendekar!" lanjut jelas Liu Hong.


 "Lalu bagaimana ceritanya?" tanya Siauw Tek ingin sekali mendengar kelanjutan cerita itu.


"Adik Hua mewakili saya dalam adu jurus itu, karena sama-sama perempuan. Dan tuan putri itu lalu bertanding melawan adik Hua. Mula-mula adu tenaga sakti, setelah ternyata tenaga dalam mereka berimbang kekuatannya, mereka lalu bertanding silat tangan kosong. Juga dalam pertandingan ini mereka berimbang." jelas Liu Ceng.


"Memang Tian putri itu lihai sekali, guru!" kata Liu Hong dengan bangga.


"Kemudian mereka bertanding ilmu pedang. Biarpun ilmu pedang mereka seimbang juga, namun jurus meringankan tubuh adik Hua yang lebih tinggi sehingga akhirnya tuan putri Yu mengakui kekalahannya," kata Liu Ceng melanjutkan cerita Liu Hong.


"Tentu saja tuan putri Yu tidak ada yang dapat menandinginya. Kalau tidak demikian, belum tentu tuan putri itu akan kalah!" seru Liu Hong berkata dan jelas suaranya membela tuan putri Yu.


"Nah, kalau pendekar Hua yang menang, berarti harta karun itu menjadi milikmu semua, mengapa hanya setengah dan mengapa pula yang setengah diserahkan kepada pangeran itu?" tanya Ban Tok yang penasaran.


"Kalau tidak saya serahkan setengahnya, tuan putri itu sebagai utusan istimewa Kaisar tentu akan menerima hukuman berat karena tugasnya mengalami kegagalan," jawab Liu Ceng.

__ADS_1


"Akan tetapi, peduli apa dia mau digantung atau dipenggal kepalanya? Kenapa kalian begitu melindungi seorang pangeran Mongol yang menjadi wakil Pemerintah Kerajaan Mongol?" tegur Ban tok kepada pemuda yang kini menjadi murid angkatnya itu.


"Guru, kami tidak berurusan dengan Pemerintah Mongol, melainkan urusan pribadi. Kami tidak ingin tuan putri Yu dihukum karena selain dia bertindak adil dan tidak menggunakan kekerasan merampas harta karun dengan pengerahan pasukan yang tentu tidak akan mampu kami lawan, juga mengingat bahwa tuan putri itu adalah...... calon ipar saya," kata Liu Ceng yang menatap Liu Hong.


"Calon iparmu? Liu Ceng, apa maksudmu dengan kata-kata itu?" tanya Siauw Tek dan semua orang memandang Liu Ceng dengan mata terbelalak heran.


"Ayah, dengan membagi harta karun, Kakak Ceng telah bertindak bijaksana dan adil. Berarti kakak Ceng dapat melaksanakan kewajibannya terhadap mendiang ayah kandungnya, dan tuan Putri Yu juga dapat melaksanakan tugasnya sebagai utusan Kaisar. Dan dengan demikian, tidak terjadi pertempuran besar karena kalau pemerintah mengerahkan pasukan, tentu kami semua tidak mampu melawan. Selain itu, hendaknya Ayah dan Ibu berdua mengetahui bahwa aku telah menautkan hati pada tuan putri Yu." jelas Liu Hong dengan hati-hati.


"A...apa!" bentak Ban Tok dengan marah.


"Siauw Hong, apakah kau sudah gila! Bagaimana kau memilih seorang Tuan putri Mongol itu untuk menjadi calon jodohmu? kau seorang pemuda yang gagah dan pandai, keturunan terhormat, apakah kurang pendekar-pendekar sakti yang gagah perkasa untuk menjadi jodohmu? Mengapa seorang tuan putri Mongol yang jelas anak dari penjajah bangsa Han!" seru Siau Tek yang tak habis pikir dengan putranya.


"Putraku! Coba kau jelaskan, bagaimana engkau sampai memilih Tuan putri Yu itu sebagai calon istrimu?" tanya Lu Siang, ibu kandung Liu Hong yang sedari tadi menyimak percakapan mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2