Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 286


__ADS_3

"Tutup mulutmu yang kotor itu!" bentak Hok Cu dengan tajam.


"Aku lebih suka mati daripada menjadi isteri seorang keji dan jahat macam engkau!" lanjut seru Hok Cu.


"Hong Lan," panggil Han Beng dengan suara tenang namun tegas.


"Kalau kau memang seorang laki-laki yang jantan, bebaskan kami dan mari kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Sebaliknya, kalau kau hanya seorang iblis yang licik dan curang, setidaknya engkau tentu mengenal malu untuk mencurangi seorang wanita. Bebaskan Hok Cu dan kau siksa dan bunuh saja aku. Hok Cu tidak bersalah apa-apa kepadamu!" seru Han Beng.


"Tidak! Hong Lan manusia terkutuk! Han Beng hanya ikut dengan aku ke sini. Akulah yang memiliki urusan pribadi dengan Si Iblis Betina Mo Li. Ia telah membunuh Ayah Ibuku dan aku akan mencabut nyawanya untuk melenyapkan penasaran Ayah dan Ibuku! Bebaskan Han Beng, aku yang bertangung jawab! Kalau kau memang jantan, biarkan aku bertanding mengadu nyawa dengan Mo Li, kemudian kau boleh menandingiku dan mengeroyok aku kalau kau berani!" sahut Rani yang berseru.


"Ha...ha....ha...! enak saja kalian bicara. Kalian adalah tawanan kami, kalian tidak berdaya dan kamilah yang menentukan syarat, bukan kalian!" seru Hong Lan yang tertawa-tawa mengejek seraya mengamati pedang tumpul buruk milik Hok Cu yang dirampasnya.


Pedang itu butut dan tumpul, sama sekali tidak menarik, namun dia tahu bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh. Memang Pedang Baja Bintang milik Hok Cu itu adalah sebatang pedang yang langka, pemberian dari Biksu Hek Bin.


"Hm, agaknya kalian saling mencinta. Kalian saling berebut untuk mengorbankan diri asal yang lain dibebaskan. Mengagumkan sekali. Cinta kasih seperti itu jarang ditemui di jaman ini, Ha....ha....ha....!" seru Hong Lan yang kembalibtertawa.


Dia sengaja bersikap demikian karena dia ingin sekali mengambil hati dua orang muda yang dia tahu amat lihai itu. Mereka berdua itu jauh lebih lihai dibandingkan semua pembantunya. Kalau saja Han Beng dan Hok Cu mau membantu dia, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat dan dia tidak akan takut menghadapi siapapun juga.


Mendengar ucapan itu, wajah Hok cu menjadi kemerahan. Demikian juga Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras. Lebih tepatnya ucapan Hong Lan yang tentu saja hanya merupakan ejekan itu.


Dia memang mencinta Hok Cu dan akan rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan gadis itu. Akan tetapi dia juga marah sekali karena tahu bahwa ucapan itu tentu saja merupakan hal yang amat memalukan Hok Cu, bahkan juga menghina.


"Pimpinan utama! Gadis itu pernah menjadi sahabatku, oleh karena itu, kalau wakil ketua memperbolehkan, serahkan saja kepadaku. Aku cinta padanya dan aku akan membujuknya agar ia suka bekerja sama dengan kita." kata San Bo, pemuda kurus kering bermuka pucat, murid Kok Sian yang dahulu pernah menggoda Hok Cu itu.


"Berikan saja kepadaku, pimpinan utama! Aku sanggup menundukkan Hok Cu!" seru Siok Boan pemuda yang gendut dan mukanya seperti kanak-kanak itu. Dia murid dari Lui Seng yang menjadi ketua dari aliran Bumi dan Langit.

__ADS_1


"Kepadaku saja, Pimpinan Utama! Aku dapat membikin ia jinak!" teriak pula Kian So, adik seperguruan dari Siok Boan, yang berhidung pesek dan bertubuh pendek. Memang dua orang murid dari Lui Seng Cu ini pernah tergila-gila kepada Hok Cu ketika gadis ini masih menjadi murid Mo Li seperti juga San Bo


"Aih, sungguh kalian bertiga tidak tahu diri!" kata Koan Tek, pemuda putera Koan Bok yang juga menjadi pembantu utama di dalam perkumpulan aliran Bumi dan Langit itu.


"Akulah yang pantas menjadi suami Hok Cu. Pimpinan utama berikan saja ia kepadaku!"


Melihat betapa empat orang pera pembantunya itu memperebutkan Hok Cu, dan Hong Lan pun tertawa.


"Ha...ha...ha...! kau mendengar sendiri, Hok Cu dan Han Beng. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Pertama, kalian menakluk kepa kami dan berjanji menjadi pembantu kami yang setia, berjuang bersama kami dan mendapatkan kedudukan yang terhormat dan mulia. Dan ke dua, kalau kalian menolak, terpaksa aku membiarkan empat orang pemuda yang sudah tergila-gila kepada Hok Cu ini untuk memilikinya, mempermainkannya sepuas hanya mereka di depan matamu, Han Beng. Mereka akan memperkosanya sampai gadis yang kaucinta ini mati di depan matamu, kemudian barulah kami akan menyiksamu sampai mati. Nah, sekarang kalian pilih yang mana?" kata Hong Lan yang membuat pilihan.


"Aku pilih mati daripada harus takluk padamu!" bentak Hok Cu dan tiba-tiba gadis itu mengerahkan tenaga dan bersama kursinya sudah meloncat ke depan.


San Bo yang ingin berjasa tertubruk untuk menangkapnya, akan tetapi gadis itu bersama kursinya menerjang ke arahnya dengan kekuatan hebat.


"Dugh ..!"


San Bo mengaduh dan tubuhnya terjengkang, bergulingan di terjang gadis yang masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi itu.


"Itu pula jawabanku, keparat!" Han Beng berseru dan dia pun meniru perbuatan Hok Cu.


Tubuhnya yang masih terbelenggu pada kursinya itu menerjang ke depan, ke arah Can Hong Lan. Akan tetapi pemuda sakti ini dengan mudah mengelak sambil menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh Han Beng yang tidak mampu menggerakkan kaki tangan Itu terpental ke samping oleh tendangan itu.


Koan Tek yang mencabut pedang menubruk ke arah Han Beng dan menyerang dengan bacokan ke arah perut pemuda yang terbelenggu itu. Han Beng melihat kesempatan baik sekali.


Diam-diam dia mengerahkan sin-kang sepenuhnya untuk melindungi kakinya dan ketika pedang menyambar, dia malah menyambut dengan kaki yang terbelenggu, pedang itu membabat belenggu ke kakinya. Pedang itu berkelebat.

__ADS_1


"Brettttt!"


Kain celana dan belenggu itu terbabat putus, dan kulit kaki kanan Han Beng tergores sedikit karena sudah dilindungi kekebalan. Kedua kakinya bebas.


Han Beng meloncat dan sekali kaki kirinya menendang, tubuh Koan Tek terlempar sampai lima meter jauhnya dan terbanting keras. Padahal Koan Tek memiliki tingkat kepandai yang cukup tinggi.


Namun tendangan tadi merupakan tendangan yang khas dari ilmu silatnya sehingga Koan Tek yang sudah memandang rendah lawan yang terbelenggu itu terkena tendangan.


Untung yang tertendang pahanya sehingga dia tidak sampai terluka parah, hanya nyeri dan terkejut saja.


Dua orang tawanan itu mengamuk. Han Beng yang sudah bebas kedua kakinya, walaupun kedua tangan masih terbelenggu dan kursi itu masih melekat dipunggung, mengamuk dengan tendangannya dangan kedua kakinya.


Hok Cu juga mengamuk, gadis ini masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi, akan tetapi kursi itu menerjang ke sana-sini dengan ganasnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2