
Kalau dia berada di situ lebih lama lagi, dia khawatir kalau pikirannya akan berubah lagi. Tanpa diketahui suami isteri dan anak tereka, diapun meninggalkan tempat pengintaiannya.
Coa Siang dan Cu Ming membawa anak mereka memasuki rumah selelah senja melarut dan malam hampir tiba. Mereka hidup bertiga saja, tanpa Pembantu di dalam rumah mereka yang tidak berapa besar namun yang bersih dan rapi.
Mereka lalu makan malam dan setelah selesai makan malam, Cu Ming membersikan meja makan dan mencuci mangkok, piring, sedangkan Coa Siang mengajak Coa Ki bermain-main di ruang tengah.
.Malam itu hawa udara amat dinginnya. Biarpun bulan sedang purnama sehingga dunia diluar rumah amatlah indah dan romantisnya, namun jarang ada penghuni dusun yang mau keluar meninggalkan kamar mereka yang hangat karena diluar, hawa dingin menusuk tulang, bahkan mereka itu tidur sore-sore.
Demikian pula dengan keluarga Coa Siang . Mereka berdua sudah berada di kamar putera mereka, dan keduanya menina bobok putera tersayang itu dengan nyanyian dan dongeng.
Setelah Coa Ki akhirnya tidur pulas ayah ibunya menyelimutinya, meniggalkan kamar putera mereka itu dengan membiarkan sebuah pelita kecil bernyala di sudut kamar, lalu mereka sambil bergandengan tangan lalu memasuki kamar mereka sendiri yang bersambung dengan kamar putera mereka.
Akan tetapi, begitu tiba di dalam kamar mereka, suami isteri itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat karena mereka melihat bahwa di atas pembaringan mereka telah duduk seorang laki-laki muda yang mengenakan caping lebar.
Pemuda itu menurunkan capingnya ke belakang dan kini dia memandang kepada suami isteri itu sambil tersenyum. Wajah pemuda itu sungguh tampan ketika tersenyum, dia nampak semakin ganteng dan melihat pakaiannya, mudah diduga bahwa dia seorang sastrawan atau setidaknya seorang pelajar. Dan sebuah buntalan berada di atas meja.
"Siapa kau?" tanya Coa Siang dengan suara kaku dan alis berkerut.
"Dan mau apa kau datangi kamar kami?" lanjut tanya Cu Ming yang sangat terkejut.
"Bagaimana kau dapat masuk sini?" Coa Siang yang penasaran.
Wajah pemuda ini tadi mengerling ke kanan dan melihat kalau jendela dan pintu masih tertutup, pemuda itu tersenyum dan sepasang matanya berbinar-binar penuh kegembiraan yang sejak tadi ditujukan kepada Cu Ming sedemikian rupa.
Cu Ming merasa seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya, membuatnya bergidik dan juga marah.
"Manis, aku datang karena aku jatuh cinta padamu ketika melihat kau di taman tadi." kata pemuda itu dengan sikap biasa saja seolah-olah dia mengeluarkan ucapan yang wajar.
Tentu saja seketika wajah suami isteri itu menjadi merah padam. Coa Siang melangkah maju.
"Kau ini seorang yang gila atau memang sengaja hendak mengganggu kami! ayo katakan siapa kau dan apa maksudmu datang seperti ini!" bentak Coa Siang.
__ADS_1
Kini sepasang mata itu ditujukan kepada Coa Siang yang menjadi terkejut melihat mata itu mencorong.
"Aku tidak butuh denganmu!" kata pemuda itu degan sikap yang angkuh sekali.
"Keluarlah kau dari kamar ini, aku hanya ingin meminjam isterimu untuk malam ini!" lanjut seru pemuda itu.
Coa Siang terbelalak dan Cu Ming bahkan mengeluarkan jerit kecil. Kemarahan mereka tidaklah sebesar keheranan mereka mendengar ucapan seperti itu.
Kiranya hanya orang yang berotak miring saja yang mampu bicara seperti itu, hendak meminjam isteri orang dan menyuruh suaminya keluar dari kamarnya sendiri.
Akan tetapi, setelah keheranan itu lewat, kemarahan membawa wajah Coa Siang merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi.
Selama dua belas tahun mereka tinggal di dalam dusun itu, tidak pernah satu kali mereka terlibat urusan kekerasan, dan mereka sama sekali tidak pernah mempergunakan ilmu silat mereka, bahkan untuk berkelahi maupun hanya sebagai latihan.
Malam ini, muncul seorang pemuda yang demikian beraninya melakukan penghinaan secara luar biasa sekali. Sikap pemuda itu membuat mereka dua saling pandang dan merasa curiga.
"Hei, katakan siapa kau? Kenapa kau sengaja datang untuk mengganggu kami yang tidak mengenalmu! Siapakah yang menyuruh kau bersikap seperti ini terhadap kami?" tanya Cu Ming yang kini bicara dan sikapnya tidak lagi seperti seorang wanita biasa, melainkan ia sudah kembali bersikap seperti dulu.
Sikap ini membuat pemuda yang bukan lain adalah Hong Lan itu berdiri dan memandang heran.
"Manis, kaulah yang menyuruh aku datang malam ini. Sore tadi aku kebetulan lewat di luar taman dan melihat kau demikian cantik jelita dan manis.. hm, aku merasa seperti ditarik besi semberani dan di sinilah aku sekarang! Mari, Manis, mari kau layanilah gairahku ..." kata Hong Lan dengan mengembangkan kedua lengan seperti hendak memeluk.
Suami isteri itu tidak dapat menahan kesabaran mereka lebih lama lagi.
"Plakk....!"
"Manusia gila! kau sungguh kurang ajar dan patut dihajar!" bentak Coa Siang yang sudah mengirim tamparan keras kearah mulut pemuda itu.
Tamparan Coa Siang bukan tamparan biasa, melainkan tamparan yang amat kuat karena biarpun selama belasan tahun pria ini tidak pernah berlatih, namun dia memiliki tenaga dalam yang kuat dan memang ilmunya sudah mendarah daging dalam dirinya.
Hong Lan terkejut bukan main, karena tadinya dia mengira bahwa suami isteri itu hanyalah orang-orang dusun biasa. Sungguh tidak disangkanya bahwa "petani" itu mampu menamparnya dengan kekuatan sedahsyat itu.
__ADS_1
Tahulah dia bahwa dia menghadapi lawan lihai. Akan tetapi, dengan tenang saja dia sengaja mengangkat lengan untuk menangkis, tentu saja diam-diam mengerahkan pula tenaga dalamnya.
"Dukkk.......!"
Akibat tangkisan ini, tubuh Coa Siang terpelanting. Bukan main heran dan kagetnya Coa Siang. Tak disangkanya bahwa orang yang amat kurang ajar dan mendekati gila ini memiliki tenaga yang sedemikian hebatnya.
Maka, tanpa banyak cakap lagi karena dia kini maklum bahwa orang itu memang sengaja datang untuk mencari keributan, dia lalu maju menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat dari ilmu silat perguruan Harimau Hitam.
Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya selain cepat, juga penuh tenaga dasyat, mencengkeram kesana-sini dibagian tubuh berbahaya dari lawan.
"Ah, kiranya kau bukan petani dusun biasa, melainkan seorang ahli silat yang agaknya menyembunyikan diri di sini!" seru Hong Lan yang heran, akan tetapi dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dengan amat lincahnya, mengelak, menangkis dan membalas serangan lawan.
Terjadilah perkelahian yang seru di dalam kamar itu. Namun, Coa Siang merasa semakin kaget khawatir karena dia mendapat kenyataan betapa lihainya pemuda bercaping lebar ini.
Cu Ming juga melihat betapa suaminya tidak akan menang menghadapi lawan yang amat tangguh itu. Dia mencoba menebak, siapa pemuda yang luar biasa lihainya itu.
Merasa keadaan sangat genting, Cu Ming secara diam-diam menuju ke sebuah lemari yang mana ia masih menyimpan beberapa buah senjata rahasianya yang sudah belasan tahun tidak pernah dipergunakannya.
Untung bahwa di dalam kantung itu masih terdapat empat batang Piauw Beracun Pencabut Nyawa.
Dengan cepat ia mengambilnya dan menyambit-nyambitkan empat batang piauw itu dengan hati-hati, agar jangan mengenai suaminya sambil berteriak nyaring.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...