
Tentu saja Hok Cu menjadi kagum bukan main dan juga hatinya girang karena kini ia tidak khawatir lagi. Dua orang muda itu tentu akan dapat bebas dari ancaman maut di tangan gurunya dan Lui Seng.
Dugaan Hok Cu memang tidak keliru. Biksu Hek Bin memang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dua orang lawannya. Biarpun senjatanya hanya ujung lengan jubah yang lebar dan sebatang tongkat butut, namun dua orang lawannya tidak mampu berbuat sesuatu.
Semua serangan mereka bertemu dengan ujung lengan baju, bahkan kalau ujung lengan baju itu bertemu langsung dengan pedang atau golok, maka dua senjata itu hampir terlepas dari pegangan tangan pemiliknya.
Karena itu, baik gurunya maupun Lui Seng tidak berani lagi mengadu senjata mereka secara langsung dengan ujung lengan jubah yang lebar itu, dan mereka pun terdesak oleh tongkat butut itu.
"Amitabha..! Kalian sungguh jahat, akan tetapi masih untung karena saya lihat belum tiba saatnya kalian mati, dan saya seorang yang pantang membunuh. Nah, pergilah kalian dari sini dan jangan ulangi lagi kejahatan kalian kalau ingin selamat!" seru Biksu Hek Bin yang tiba-tiba kedua lengan bajunya mengebut keras dan ujung tongkatnya menusuk-nusuk.
Kedua orang itu terkejut, terhuyung dan pada saat itu, kaki biksu Hek Bin menendang secara dua kali berturut-turut.
"Desh...! Desshh....!"
Tendangannya itu kuat bukan main dan tubuh kedua orang itu seperti dua butir bola yang ditendang, melambung ke atas dan melayang sampai jauh, kemudian jatuh ke atas tanah.
Biarpun keduanya sudah mengerahkan tenaga dalam mereka, tetap saja tubuh mereka terbanting dan terguling-guling.
Keduanya terkejut setengah mati. Belum pernah selama hidup mereka bertemu dengan lawan yang begini tangguhnya. Maka, seperti dikomando saja, begitu mereka mampu bangkit berdiri, keduanya sudah lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi, ketakutan seperti melihat setan.
Dengan gembira sekali Hok Cu menghampiri kakek itu, memandang dengan penuh kagum kepada wajah yang tua dan hitam namun selalu tersenyum itu.
"Wah, kau sungguh hebat sekali, Kek! kau sakti dan pandai bukan main sampai dua orang seperti guru dan iblis Lui Seng itu lari tunggang-langgang! Kalau saja aku dapat menjadi muridmu, Kakek yang baik, aku akan merasa berbahagia sekali!" seru Hok Cu dengan mengulas senyumnya.
Biksu Hek Bin melihat bakat yang amat baik, watak yang baik pula dan walaupun selama ini agaknya menjadi murid iblis betina, namun buktinya ia malah menentang guru sendiri, menenyelamatkan calon korban gurunya, hal ini saja membuktikan bahwa pada dasarnya, gadis remaja ini memiliki watak pendekar yang gagah.
Apalagi wajah yang cerah dan sepasang mata yang penuh semangat, cerah dan periang itu sungguh cocok sekali dengan wataknya sendiri, maka hati Hek-bin Hwesio tertarik sekali.
__ADS_1
Dia sudah amat tua, tak lama lagi tentu mati, lalu untuk apa semua ilmu yang pernah dipelajarinya selama puluhan tahun itu? Dia belum pernah mengangkat murid, dan bukankah pertemuannya dengan gadis remaja ini merupakan suatu jodoh yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
"He..he...he...!, Nona Kecil. Beginikah sikap orang yang ingin menjadi murid?" tanya Biksu Hek Bin seraya terkekeh.
Mendengar ucapan itu, sepasang mata Hok Cu terbelalak dan ia mengeluarkan teriakan seperti bersorak girang. Tadinya ia hanya iseng-iseng saja berkata demikian, sama sekali tidak mengira bahwa kakek itu suka menerimanya sebagai murid.
Maka, setelah mengeluarkan teriakan bersorak, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ka kek muka hitam itu, dekat sekali sehingga hidungnya hampir mencium jari kaki.
"Guru, murid menghaturkan terima kasih dan menghaturkan hormat!" seru Hok Cu.
Melihat sikap ini dan mendengar ucapan yang amat menghormat itu, Hek-bin Hwesio tertawa bergelak. Perutnya! yang gendut itu terguncang-guncang dan bergerak-gerak seperti bayi tua dalam kandungan.
"Ha ..ha...ha...!, anak baik, saya tidak mengajarkan seorang murid untuk menjadi penjilat! Bersikaplah biasa saja, jangan berlebihan. Dalam hidup ini, kita harus bersikap wajar, tidak pura-pura, tidak berlebihan karena berlebihan ini menyeret kita ke dalam ketidakwajaran! Kalau sudah tidak wajar, berarti menyembunyikan pamrih dan aku tidak ingin melihat murid-ku menjadi penjilat!"seru biksu Hek Bin.
Hok Cu terkejut sekali dan seperti disengat kelabang ia pun meloncat bangun dan berdiri dengan sikap masih hormat.
Bukan main girangnya hati biksu Hek Bin, ternyata Anak perempuan ini memang hebat, pikirnya. Sayang ia telah mempelajari ilmu-ilmu sesat yang ganas.
Maka, diam-diam dia mengambil keputusan untuk memperbaiki ilmu-ilmu itu sehingga menjadi ilmu yang kuat dan hebat, akan tetapi berkurang sifat ganas dan kejamnya.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi, siapa kedua orang muda ini dan mengapa pula engkau menentang gurumu sendiri?" tanya biksu Hek Bin dengan rasa penasaran.
Hok Cu lalu bercerita, singkat dan jelas tentang subonya yang terbujuk oleh Liu Seng menjadi penyembah patung sesembahan dan sudah beberapa kali mengorbankan beberapa orang muda laki-laki dan perempuan.
"Murid tidak tahan melihat hal itu, maka malam tadi ketika guru Mo Li dan Lui Seng itu kembali menculik sepasang orang muda, lalu murid membakar gudang dan selagi semua orang memadamkan api, murid membawa lari mereka, berdua ini. Akan tetapi, ternyata murid dapat disusul guru Mo Li dan tentu murid dan kedua orang muda itu akan celaka kalau saja guru tidak muncul menyelamatkan kami." jelas Hok Cu.
"Sekarang, apa yang akan kaublakukan terhadap mereka itu?" tanya biksu Hok Bin yang mengerutkan kedua alisnya, menatap Hok Cu.
__ADS_1
"Murid akan mengantar mereka pulang." jawab Hok Cu dengan polosnya.
Biksu Hek Bin mengangguk-anggukkan kepalanya dan dia duduk bersila di bawah pohon, berkata sambil tersenyum ramah.
"Baik, kau lakukan tugasmu itu, aku akan menantimu di sini."
"Siap laksanakan guru, terima kasih." kata Hok Cu yang kemudian mengajak muda mudi itu intuk kembali ke dusun mereka.
Melihat sikap muridnya yang wajar saja, sama sekali tidak memperlihatkan kekhawatiran, diam-diam Biksu Hek Bin semakin kagum. Muridnya itu sungguh memiliki hati yang luar biasa tabahnya.
Muridnya itu tidak takut kalau kalau tugasnya mengantar pulang muda-mudi itu akan dihadang oleh gurunya Mo Li dan Lui Seng.
Setelah berpikir dengan cermat, biksu Hek Bin mengikuti jejak Hok Cu beserta dua muda-mudi itu.
Tentu saja biksu Hek Bin itu tidak tega begitu saja dan diam-diam kakek ini membayangi perjalanan Hok Cu dan dua muda mudi itu dari kejauhan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...