
Malam itu juga Hua Li berlari dengan cepat, hingga malam berganti pagi. Saat ini gadis itu telah berada jauh sekali dari kota Cin-yang.
Ketika melihat sebatang sungai yang airnya jernih mengalir di luar sebuah hutan, dia pun berhenti berlari dan duduk di tepi sungai di mana terdapat banyak batu-batu kali yang besar.
Dia duduk di atas batu besar yang licin bersih, dan segera tenggelam dalam lamunan.
Tiba-tiba dia merasa lesu dan tidak nyaman. Dia lalu melihat keadaan sekelilingnya dan setelah merasa yakin bahwa tempat itu sunyi, tidak tampak ada orang lain dan juga tidak ada tanda-tanda tempat itu dekat dengan rumah orang.
Hua Li tanpa ragu lagi untuk menanggalkan pakaian luarnya dan bekal serta kecapinya, kemudian dia masuk ke dalam air sungai yang jernih.
Bukan main segar rasanya ketika tubuhnya terendam dalam air itu. Bukan hanya badan terasa segar, juga pikiran menjadi terang seolah air jernih itu telah membawa hanyut semua masalah yang memenuhi benaknya.
Saking segarnya mandi dalam air sungai yang jernih itu, pendengaran Hua Li terganggu percikan air sehingga dia tidak mendengar sedikit suara tak wajar yang terdengar tak jauh dari situ.
Akan tetapi kemudian suara tawa terkekeh yang membuat dia terkejut dan cepat menoleh ke tepi sungai.
"He...he....he..!"
Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa pakaiannya yang tadi ditanggalkan dan ditaruh di atas batu, telah lenyap.
Juga buntalan pakaiannya, di mana terdapat pula kecapinya yang juga tidak tampak.
"Celaka...!" seru Hua Li yang nampak sangat cemas sekali.
Semua pakaiannya dicuri orang, padahal dia mandi dalam keadaan telanjang bulat.
"Bagaimana dia dapat keluar dari dalam air dalam keadaan seperti ini?" gerutu dalam hati Hua Li dan dia menebarkan pandangannya ke sekitarnya, akan tetapi dia tidak melihat orang yang mencuri pakaiannya.
Tiba-tiba dia melihat dan mendengar semak-semak di tepi sungai yang bergerak-gerak. Kemudian gadis itu mengambil beberapa batu sebesar telur dan melemparkannya satu persatu ke arah semak-semak itu.
"Takk....takk......!"
"Aaaarghh ..!"
"Auh sial...!"
__ADS_1
Batu itu mengenai sesuati yang berhasil membuat dua orang laki-laki muncul dari balik semak-semak dengan mengumpat dan mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Hei, kalian yang ambil pakaian dan kecapiku ya!" seru Hua Li dengan geram.
"Ambil saja sendiri kemari nona! he...he...!" seru salah seorang laki-laki yang bertubuh cebol itu.
"Oh kalian mau menipuku, ya? Kaukira aku tidak tahu kalau aku muncul ke permukaan, kalian akan melihat tubuhku. Nampaknya aku harus memberi kalian pelajaran. Nah, terimalah!" seru Hua Li yang dengan gerakan cepat sekali gadis itu melempar kembali beberapa batu ke arah cebol yang membawa buntalan pakaiannya.
"Takk...takk....!"
Batu itu mengenai kedua lutut laki-laki cebol itu dan membuat laki-laki itu jatuh tersungkur, dan buntalan pakaian itu terlempar ke arah Hua Li.
Dengan jurus meringankan tubuhnya, Hua Li menangkap buntalan itu dengan berputar cepat ke atas dan disaat dia turun ke bawah, gadis itu sudah memakai pakaian gantinya.
Si Cebol dan si kurus dibuat tercengang akan gerakan super cepat Hua Li, dan sedikit pun mereka tak melihat sama sekali tubuh mulus gadis itu saat berganti pakaian.
"Hai, kembalikan kecapiku!" seru Hua Li dengan lantang.
"Hah, coba saja kalau kamu bisa!" seru laki-laki kurus itu yang mulai pasang kuda-kuda untuk bersiap-siap menyerang Hua Li.
Dan Laki-laki kurus itu pun mulai menyerang Hua Li. Serangan ini cukup ampuh dan berbahaya, akan tetapi dengan menarik tubuh atas ke belakang, Hua Li dapat menghindarkan kedua telinganya dipatuk tangan tangan kurus itu.
Dari sambaran angin pukulan itu, tahulah Hua Li bahwa laki-laki ini tidak boleh dipandang ringan karena memiliki tenaga dalam yang cukup kuat.
Melihat patukan kedua tangannya luput, laki-laki itu melanjutkan jurusnya dengan tendangan kaki dengan tubuh melayang, seolah seekor bangau mengejar buruannya setelah patukannya luput.
Tendangan sambil melayang itu pun berbahaya sekali. Akan tetapi dengan tenang Hua Li menggunakan kedua lengannya untuk menangkis.
Hua Li mengerahkan tenaga dalam lunaknya sehingga ketika kedua kaki laki-laki kurus itu bertemu dengan kedua lengan Hua Li, dan laki-laki kurus itu merasa seperti kakinya bertemu dengan karet yang lentur dan kuat sehingga begitu tertangkis, tubuh laki-laki kurus itu terpental ke belakang.
Akan tetapi dengan amat lincahnya ia membuat salto sampai lima kali sebelum kedua kakinya menginjak tanah dengan tegak.
"Kurang ajar!" umpat laki-laki kurus itu yang kemudian maju menerjang lagi, mengirim serangan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang.
Hua Li hanya mengandalkan jurus meringankan tubuhnya yang istimewa untuk mengelak dan menghindarkan semua serangan laki-laki kurus itu. Hal itu membuat itu menjadi semakin penasaran.
__ADS_1
Kemudian laki-laki kurus itu mengeluarkan jurus andalannya yang jarang dimainkan karena ilmu ini berbahaya sekali bagi lawan dan dapat mematikan.
Jurus itu adalah jurus Tangan Kosong Serbu Ratusan Golok dan di dalamnya terkandung jurus-jurus pukulan mematikan seperti Pukulan Tangan GeIedek, Pukulan Membunuh Naga, Tangan Beracun dan beberapa macam pukulan yang mengandung hawa beracun pula.
Hua Li sangat terkejut karena laki-laki kurus ini tak boleh dipandang ringan karena tingkat kepandaiannya tak bisa dianggap remeh.
Maka, dia pun cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai puncaknya sehingga tiba-tiba saja laki-laki kurus itu berseru kaget karena ia kehilangan lawannya.
"Hei, dimana kau! Pengecut! Kalau berani jangan lari sembunyi, hayo balas serang aku!" seru laki-laki kurus itu yang berteriak-terlak dan ketika akhirnya Hua Li muncul di depannya, laki-laki kurus itu cepat menyerang lagi dengan lebih gencar
Tubuh Hua Li berkelebat lenyap dan tiba-tiba laki-laki itu berseru kaget karena kecapi yang ada dipunggungnya tiba-tiba raib.
"Hah..!"
Berkali-kali dia memutar tubuhnya, namun tak dijumpai sesosok manusia yang mengambil kecapi itu.
Kalau gadis itu berniat buruk, tentu saja dia bisa menyentuhnya dengan totokan atau pukulan, ia tentu sudah tewas seketika.
Maka wajahnya berubah menjadi penasaran ketika ia melompat ke belakang dan memandang Hua Li yang sudah berdiri di depannya dengan mata terbelalak.
"Ma'af saudara sekalian, kenapa Anda berdua mengganggu saya saat saya sedang mandi? dan siapakah kalian?" tanya Hua Li dengan sedikit menahan emosinya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1