
Mendengar keluhan adik sepergurunya, Hek Bin adalah nama dari kakak seperguruan ketua Thian Cu yang tertawa, lalu membelalakkan matanya yang bundar itu seraya memandang adik seperguruannya itu.
"Saudaraku, sebagai ketua perguruan Elang Sakti, kenapa kau membiarkan murid-muridmu menentang pemerintah? Bukanlah pemerintah pula yang telah bersikap baik dan murah hati kepada perguruan Elang Sakti dengan membangun perguruan ini dan bahkan memberi tanah yang luas?" tanya Hek Bin yang penasaran.
"Kakak, tentu saja saya tidak akan melupakan itu. Justru karena itulah maka saya merasa prihatin dan hati menjadi resah Kakak. Kami sama sekali tidak memusuhi pemerintah, kami cukup mengerti bahwa rencana pemerintah itu baik sekali. Menggali itu membangun terusan besar antara sungai Kuning dan Yang-ce memang amat besar manfaatnya, melancarkan lalu lintas perdagangan. Tapi....!" jelas Ketua Thian Cu yang berhenti sejenak.
"Tapi kenapa saudaraku?" tanya Hek Bin yang tambah penasaran.
"Pelaksanaannya menyimpang dari tujuannya yang baik. Bayangkan saja. Rakyat diperas tenaganya, dipaksa bekerja tanpa dibayar, bahkan menerima ransum yang sedikit sekali, tidak ada pengobatan dan tidak ada pertolongan kalau ada yang sakit. Entah berapa banyaknya rakyat yang mati, belum lagi keluarganya yang menjadi terlantar karena terpaksa ditinggalkan. Kami menentang perlakuan tidak adil itu, yang kami tentang adalah para pelaksana itu, orang-orang yang korup dan yang mempergunakan kesempatan itu untuk mengeruk keuntungan sebesarnya, menari di atas mayat rakyat jelata, beruntung di atas ratap tangis rakyat!" jelas Ketua Thian Cu.
"Bagaimanakah menurut kakak?" lanjut tanya ketua Thian Cu yang menatap pendekar Hek Bin dengan rasa ingin tahunya.
"Saudaraku, tentu saja segala macam bentuk kekerasanlah tidak benar. Pelaksanaan kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak akan mungkin mendatangkan hasil yang penuh kedamaian. Adik sendiri tahu bahwa betapapun baiknya tujuan, kalau pelaksanaannya tidak benar maka jadinya pun pasti tidak benar. Nah, kalau sekarang tujuan Adik yang baik itu mendatangkan sejahtera dan damai dari kehidupan rakyat, dilaksanakan dengan kekerasan, dengan perkelahian, bagaimana mungkin hasilnya akan baik?" jawab kakak seperguruan Ketua Thian Cu dengan mengulas senyumnya.
"Apa yang dikatakan Kakak memang benar dan saya dapat melihat kebenaran itu. Akan tetapi, apakah kita harus tinggal diam saja melihat rakyat ditindas, ditekan, diperas dan dibunuh?" tanya ketua Thian Cu.
"Tidak ada yang perlu diherankan, tidak ada yang patut disesalkan, walaupun bukan berarti bahwa kita akan tinggal berpangku tangan dan bermasa bodoh saja. Manusia wajib berikhtiar. Namun segala pelaksanaan dan ikhtiar itu sendiri harus berada di jalan benar, bukan dengan kekerasan dan permusuhan. Tidakkah sebaiknya kalau misalnya adik mengajukan pelaporan kepada Istana agar Kaisar sendiri mengetahui betapa para pelaksana pekerjaan besar itu melakukan penyelewengan?" saran sekaligus tanya pendekar Hek Bin.
Ketua perguruan Elang Sakti Thian Cu itu menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang.
__ADS_1
"Belum kami coba, Kakak. akan tetapi kiranya akan percuma saja. Pertama, tidak mungkin membuat laporan langsung kepada Kaisar tanpa melalui para pembesar dan Menteri, dan melalui mereka tentu akan sia-sia belaka dan tidak akan sampai ke telinga Kaisar. Ke dua, andaikata dapat sampai kepada Kaisar sekalipun, apakah Kaisar tidak lebih percaya kepada laporan para pembesar daripada laporan kita? Sudahlah, kakak. Kurasa sepak terjang para murid kami tidak keliru, yaitu secara langsung membela rakyat dari penindasan para petug yang korup itu. Sekarang, ada hal lain yang lebih memprihatinkan hati saya." kata ketua Thian Cu.
"Adik, kenapa kau mengisi hidupmu dengan keluh kesah dan keprihatinan belaka? Lihatlah baik-baik Saudaraku, bukankah segala hal itu telah terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa. Kenapa harus dibuat penasaran? Kita mengetahui bahwa segala sesuatu di permukaan dunia ini tidak akan terlepas daripada lingkaran roda Karma. Kewajiban kita bukanlah mengubah kenyataan melainkan menyadarkan manusia agar masing-masing dapat memperbaiki jalan hidupnya, karena hanya diri sendiri yang akan mampu memperbaiki karma masing masing. Diri sendiri yang menanam diri sendiri yang memelihara, dan diri sendiri yang akan menuainya kelak.. Sudahlah, semuanya itu sudah adik ketahui, tidak perlu kuulang lagi. Sekarang coba ceritakan apakah hal lain yang lebih memprihatinkan hatimu itu?" nasehat Pendekar Hek Bin pada adik seperguruannya.
Kembali ketua Thian Cu itu menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Tentu saja, sebagai seorang tokoh besar semua yang diucapkan kakak seperguruannya itu sudah dimengertinya dengan baik.
Namun, dia pun tahu bahwa bagaimanapun juga, dia tidak akan dapat membebaskan diri dari semua kerepotan batin seperti halnya kakak seperguruannya itu.
Dimana Pendekar Hek Bin yang hidup sebatang-kara, bebas lepas di udara seperti seekor burung, tidak ada ikatan sama sekali, baik lahir maupun batin. Maka, lebih mudah bagi kakak seperguruanya itu untuk bebas dalam arti yang sebenarnya.
Sementara itu Ketua Thian Cu yang menjadi ketua perguruan Elang Sakti, dia tidak dapat terbebas dari kewajiban sebagai ketua.
Ketua Thian Cu adalah manusia biasa yang masih penuh ikatan Dan dia tahu, selama ada ikatan, maka aku-nya masih merajalela karena aku itulah yang terikat dan suka mengikatkan diri, dan selama ada ikatan ini pasti hidupnya akan selalu penuh dengan konflik, dengan kekhawatiran, kekecewaan, kekerasan dan kedukaan. Kembali dia menghela napas panjang.
"Mereka keterlaluan sekali, Kakak. Melihat ketika pihak kita menentang para pelaksana penggalian terusan dan menentang kesewenang-wenangan para petugas korup itu, mereka sengaja membantu para petugas itu dan menentang kita, bahkan merekalah yang nengatakan bahwa kita memberontak terhadap pemerintah. Mereka itu agaknya sengaja mempergunakan pertentangan antara pihak perguruan Elang Sakti dan para tugas pemerintah, untuk mengadu domba dan memfitnah perguruan Elang putih pada pemerintah. Bukankah hal itu berbahaya sekali bagi kita?" jelas sekaligus tanya ketua Thian Cu.
Tiba-tiba terdengar Tiga orang berkelebat memasuki ruangan itu. Mereka adalah tiga orang laki-laki yang gagah perkasa, murid-murid perguruan Elang Sakti dan begitu tiba di ruangan pondok di mana dua orang pendekar tua itu yang sedang bercakap-cakap, mereka segera menjatuhkan diri untuk berlutut.
"Mohon guru dan paman guru memaafkan murid bertiga kalau murid sudah mengganggu kalian berdua." kata salah satu murid perguruan Elang Sakti itu.
__ADS_1
Ketua Thian-cu memandang ke arah tiga orang muridnya itu dengan alis berkerut, lalu memandang ke luar.
"Kenapa kalian sudah datang menghadap? Bukankah pertemuan akan dimulai setelah tengah hari?" tanya Ketua Thian Cu yang penasaran.
"Memang para kakak seperguruan sudah datang berkumpul guru, dan mereka pun tahu kalau guru baru datang membuka pertemuan setelah tengah hari. Akan tetapi murid bertiga memberanikan diri menghadap bukan karena itu, melainkan untuk laporkan bahwa di bawah bukit terjadi bentrokan besar antara banyak kakak seperguruan yang dipimpin oleh Hu Siok, menghadapi sekelompok pendekar." jelas murid yang pertama.
"Benar Guru, pada awalnya hanya merupakan perkelahian antara dua orang saja, akan tetapi kawan-kawan mereka berdatangan sehingga akhirnya kakak Hu Siok sendiri bersama beberapa orang kakak seperguruan pergi ke sana." kata murid ketiga.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1