
Hua Li berlari lebih cepat dan melewati kelompok pohon yang menghalangi penglihatannya lalu memandang ke depan. Gedung itu hilang lagi dan setelah dia memandang ke sekeliling, gedung itu tampak di sebelah kanannya, semakin jauh.
"Bagaimana ini dapat terjadi? Apakah jalan setapak itu yang menipu sehingga aku mengikuti arah yang membalik tanpa aku sadari?" gumam dalam hati Hua Li yang semakin penasaran.
Kemudian gadis itu terus berlari menuju ke arah gedung, akan tetapi sampai berjam-jam lamanya, dia tidak pernah tiba di dekat gedung. Terkadang agak dekat, terkadang malah semakin jauh.
Matahari mulai condong ke barat. Hua Li yang tidak mau menyerah dan sejak tadi mengerahkan jurus meringankan tubuhnya berlari-lari, mulai berkeringat.
Kegembiraannya untuk mentertawakan dua orang laki-laki tadi karena dia mendahului mereka, sudah lenyap sama sekali dan sekarang mulai timbul rasa gelisah di dalam hatinya.
Dia tadi terlalu memandang rendah mereka. Kiranya Taman Seribu Bunga ini merupakan taman yang penuh rahasia dan tipuan. Dia mulai merasa ragu apakah akan mampu melewati taman itu dan tiba di gedung yang sudah tampak dari situ.
"Nona Hua, engkau berada di mana?"
Terdengar pertanyaan yang melengking dari arah gedung itu. Dia mengenal pemilik suara itu yang tak lain Sin Lin. ?
"Aku di sini, saudara Lin!" seru Hua Li dengan girang dan dia pun lari lagi menuju ke arah suara yang datangnya dari gedung itu.
Kembali dia harus melewati tumbuh-tumbuhan yang cukup tinggi sehingga penglihatannya terhalang. Setelah dapat melihat kembali ke depan, gedung itu lenyap dan berubah menjadi padang rumput yang menghadang di depannya.
Setelah dia mencari-cari, gedung itu tampak berada di sebelah kanannya. Dia berhenti lagi, mulai bingung.
"Hei nona! Kenapa engkau begitu lemah? Apakah engkau merangkak seperti siput maka begitu lama aku harus menunggu di sini!" teriak sin Lan.
"Tunggulah! Aku pasti akan sampai ke situ!" seru Hua Li sambil mengerahkan jurus meringankan tubuhnya sehingga suaranya terdengar menggema di seluruh penjuru.
Yang membuat hatinya panas adalah ketika dia melihat Sin Lin, biarpun dari jauh, berdiri di atas atap gedung dan melambai-lambaikan tangan dengan tertawa-tawa mengejek.
Biarpun Hua Li tidak pernah berhenti berlari, ternyata dia hanya berputar-putar dan beberapa kali mengenal jalan setapak yang tadi pernah dilaluinya.
Sampai sore dia berlari-lari tanpa henti, namun tak pernah berhasil. Akhirnya dia melompat ke atas cabang sebatang pohon, duduk di atas cabang sambil memandang ke sekitarnya.
__ADS_1
Dari situ tampak betapa indahnya taman itu. Beraneka bunga memenuhi taman, juga pohon-pohon semak-semak, rumpun-rumpun bambu, semua serba teratur rapi dan indah.
Dan tampak pula rumah itu dan dia sungguh merasa heran bagaimana dia selalu gagal menuju ke sana.
Kalau dia memakai jalan pintas dan membabati tanaman-tanaman di taman itu, mungkin dia akan sampai di gedung. Akan tetapi tidak mungkin dia mau merusak taman orang.
Dari atas pohon dia melihat jalan setapak yang berliku-liku dan baru dia teringat bahwa jalan setapak itu berubah-ubah warnanya. Ada yang putih, lalu ada yang merah, biru, kuning, hijau dan bermacam-macam warna lagi.
Tiba-tiba Hua Li memejamkan mata dan mencoba untuk memikirkan sesuatu.
"Rumah itu didekati dan dicari, malah makin menjauh. Ah, aku sudah berusaha mendekati sampai setengah hari, akan tetapi sama sekali tidak berhasil karena rumah itu makin menjauh saja! Lalu bagaimana rahasianya untuk dapat menemukannya?" gumam dalam hati Hua Li.
Tiba-tiba Cun Giok teringat sesuatu karena sejak tadi dia memang berusaha mendekati rumah dan selalu mengambil jalan yang menuju ke gedung dan hasilnya, jalan itu membawanya makin menjauhi gedung.
"Ah, Inikah rahasianya? aku tidak yakin, akan tetapi apa salahnya dicoba?" ucap Hua Li yang kembali bersemangat kembali untuk sampai dirumah itu.
Hua Li melompat turun dari atas pohon, lalu berjalan mengikuti jalan setapak yang berwarna biru. Jalan setapak itu mempunyai banyak simpangan, ada perempatan dari berbagai warna.
Kini jalan setapak itu berwarna merah. Setelah agak lama berjalan dengan pohon-pohon menghalangi di kanan kiri jalan sehingga dia tidak melihat jauh, jalan setapak itu membawanya ke tempat terbuka di mana terdapat perempatan jalan.
Dia berhenti dan memandang sekeliling. Rumah itu tiba-tiba saja sudah pindah di sebelah kanannya, tidak begitu jauh lagi. Tanpa berpikir lagi Cun Giok mengambil jalan ke kiri, berlawanan dengan letak rumah itu.
Kembali dia melewati lorong panjang yang dipenuhi semak-semak di kanan kiri sehingga dia tidak dapat melihat di mana letak gedung itu. Jalan setapak itu berliku-liku sehingga Hua Lo tidak tahu lagi ke arah mana dia berjalan, ke utara, selatan, timur, atau barat.
Kembali dia berada di tempat terbuka dan kini rumah itu tahu-tahu tampak dekat sekali di sebelah kirinya! Agaknya dengan melompati beberapa semak belukar dan melewati beberapa batang pohon saja dia sudah akan sampai di sana.
Akan tetapi Hua Li tidak mau melakukan hal itu. Sebaliknya dia lalu mengambil jalan ke arah kanan dan kini dia menginjak jalan setapak berwarna putih. Demikianlah, setiap tiba di tempat terbuka dan melihat rumah itu semakin dekat saja,
Hua Li segera mengambil jalan ke arah yang berlawanan seolah meninggalkan rumah itu dan setelah berjalan membelak-belok beberapa lamanya, tiba-tiba saja dia dapat keluar dari taman dan sudah berdiri di halaman gedung itu.
"Selamat datang di rumah kami, Nona!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara Sin Lan dan dua orang laki-laki yang satu kurus dan satunya cebol itu sudah muncul dihadapan Hua Li.
"Wah, engkau lambat sekali, Nona!" seru Sin Lin yang tersenyum. Senyumnya memang manis sekali, akan tetapi menyakitkan karena senyum itu mengandung ejekan.
Dari dalam rumah itu terdengar suara laki-laki yang berwibawa.
"Anak-anakku! ajaklah tamu kita masuk! lihatlah badai akan segera datang!"
"Iya ayah!" sahut Sin Lin.
"Silakan, Nona." kata Sin Lan yang mengajak Hua Li memasuki pintu depan yang besar dan kuat.
Setelah memasuki ruangan depan rumah itu, Hua Li memandang ke sekelilingnya dan dia kagum sekali. Ternyata walaupun dari luar rumah itu tampak biasa saja, namun ternyata di dalamnya terdapat perabot rumah yang serba indah dan mahal.
Selain perabot-perabotnya yang indah dan mahal, juga terdapat lukisan-lukisan indah dan tulisan-tulisan kuno yang amat indah, baik kata-katanya maupun bentuk tulisannya.
Akan tetapi perhatiannya segera tertuju kepada seorang laki-laki yang telah duduk di dalam sebuah ruangan di samping ruangan depan yang merupakan ruangan tamu di rumah itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1