Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 82


__ADS_3

Ketua Thio Kong dan empat orang saudara seperguruannya, juga lima orang muda yang mendampinginya, mengamati siapa yang datang berkumpul.


Mereka sangat terkejut juga ketika melihat betapa banyaknya para tokoh dunia persilatan yang kini berkumpul di luar pekarangan depan perkampungan ular kobra.


Yang membuat Ketua Thio Kong dan keemoat orang saudara seperguruannya serta lima orang muda yang menjadi tamunya, merasa agak khawatir adalah hadir pula dua rombongan, yaitu perkumpulan Pandai besi dan anak buahnya yang didampingi Cu Liong, ketua perguruan Bukit Merak dan puterinya Cu Ai.


Para pimpinan perguruan ular kobra itu memang tidak mengenal Ai Yin, akan tetapi mereka tahu siapa kakek tinggi besar muka merah yang bersamanya itu.


Rombongan kedua yang membuat mereka terkejut adalah rombongan yang terdiri dari tiga orang, yaitu Kong Sek, Cui-beng, dan Song-bun Mereka memang tidak mengenal Kong Sek, akan tetapi mereka tahu siapa kakek dan nenek itu, yang merupakan pendekar aliran hitam yang amat terkenal dan ditakuti di dunia persilatan.


Selain dua rombongan ini, masih ada beberapa orang tokoh aliran hitam yang hadir, termasuk para tokoh bajak sungai dan para tokoh rimba persilatan golongan perampok.


Akan tetapi, perasaan ketua Thio Kong menjadi tenang ketika dia melihat pula hadirnya mereka dari pedekar aliran putih, partai-partai persilatan yang terdiri dari para pendekar seperti Thian Yu dan beberapa orang muridnya dari perguruan walet putih, perguruan Hoa-san dan perkumpulan pengemis tongkat merah serta beberapa orang pendeta yang mereka duga adalah murid-murid perguruan Siauw lim.


Kemudian baru muncul orang yang memakai pakaian serba hitam, yang sudah dipastikan itu adalah ketua perguruan tengkorak hitam dengan beberapa muridnya.


Setelah berada di halaman dan berhadapan dengan banyak orang itu, Ketua Thio kong lalu menjura dan dengan sikap tenang ke arah banyak orang dihadapannya.


"Saudara-saudara sekalian, Kami perguruan ular kobra tidak sedang mengadakan perayaan dan tidak menyebar undangan. Mira ya ada kepentingan besar apakah yang membuat Saudara sekalian datang dan mengepung tempat kami?" tanya Ketua Thio Kong yang berpura-pura tak mengetahui alasan kedatangan mereka.


"Ha...ha ...ha...! Ketua jangan pura-pura bodoh dan menyembunyikan kenyataan. Beritanya sudah tersebar bahwa Perguruan Ular kobra yang mencuri harta karun itu! Aku sudah menduga sejak semula. Hayo serahkan setengahnya kepadaku dan aku akan membantumu mengusir semua orang ini!" seru salah satu pendekar dari aliran hitam itu.


"Heh! Jangan lupa, akulah yang akan mengalahkan semua orang ini kalau mereka berani campur tangan!" seru yang lainnya yang dengan lantang dan dia memandang ke sekeliling sikapnya menantang.


"Ho...ho.... nanti dulu, saudaraku dari sesama aliran hitam!" seru laki-laki yang berpakaian serba hitam dan berambut putih yang maju bersama kawannya yang memakai kalung berliontin tengkorak yang berwarna hitam.


"Kalau harta karun itu berada di sini maka sudah sepantasnya kalau dibagi rata kepada semua penghuni perguruan ular kobra, termasuk kami. Ini baru adil namanya dan kami menuntut bagian kami sebagai anggota perguruan ular kobra.

__ADS_1


"He....he....he...hi...hi....!"


Terdengar suara melengking setengah tawa setengah tangis yang keluar dari kerongkongan si nenek mayat betina sehingga membuat banyak orang merasa serem.


"Ketua Thio Kong, dengar itu orang-orang sinting bicara seenak perutnya sendiri, he..he...hi


..hi...!" seru si nenek mayat betina yang terkekeh.


"Hemm, kalian orang-orang tidak tahu malu! Membicarakan harta karun yang menjadi hak milik kami!" seru Beng Ong dengan suaranya yang berat dan mengandung wibawa kuat sekali.


Mendengar hal itu Liu Ceng yang berdiri di samping ketua Thio Kong berkata dengan suaranya yang lembut namun nyaring sehingga terdengar banyak orang.


"Neng Ong, bicara tentang hak milik, siapa yang mempunyai hak milik atas harta karun itu? Aku berada di sini, apakah kau tidak malu mengatakan bahwa harta karun itu hak milikmu!"


"Hemm, siapa pun sudah mendengar bahwa harta karun itu yang berhak adalah bekas Panglima Liu Bok yang diwariskan kepada puteranya, Liu Ceng! Kemudian harta karun itu dicuri orang yang mengaku sebagai penghuni perguruan ular kobra. Sungguh lucu kalau sekarang ada orang lain yang mengakui sebagai haknya!" seru ketua Kui dari perkumpulan pengemis tongkat merah.


"Tring....!"


Sinar hitam itu adalah sebatang panah kecil dan menyambar cepat, namun ketua Kui bukan orang sembarangan. Dia sudah mengangkat tongkat merah dengan gerakan menangkis dan panah kecil itu tertangkis dan terpental jauh.


"He....he....he...! kenapa melayani segala macam gembel busuk? Harta karun berada di perguruan ular kobra mari kita bekuk ketuanya dan paksa dia menyerahkan harta itu kepada kita, he...he...hi...hi...!" seru si mayat betina yang melangkah maju.


Kemudian Beng Ong juga maju diikuti yang lainnya juga sudah mencabut pedangnya.


"Ho....ho....! nanti dulu, saudara Beng Ong dan saudari Mayat Betina! Kami juga berhak atas harta karun itu karena harta itu sudah berada di perguruan ular kobra. Kami penghuni pegunungan tengkorak sejak dulu!"


Terdengar bentakan laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dengan kalung berliontin tengkorak hitam yang sudah melompat ke depan, diikuti barisan anak buah mereka bersama laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dengan rambut berwarna putih.

__ADS_1


"Ha ..ha....! kami juga tidak mau ketinggalan! Kalau perguruan ular kobra mau membagi dengan kami, kami akan membantu perguruan ular kobra untuk mengusir kalian!" seru salah satu perguruan aliran hitam lainnya.


Satu persatu mereka unjuk gigi, seolah paling berhak mendapatkan harta Karun itu.


Tiba-tiba Kong Sek berseru dengan suara lantang.


"Hai, kalian semua dengarlah baik-baik! Harta karun itu tadinya berada di Bukit Surga, tempat kediaman dan milik keluarga Beng Ong dan Mayat Betina. Oleh karena itu mereka berdualah yang sesungguhnya berhak atas harta itu. Kini ada yang mencurinya dan pencurinya adalah perguruan ular kobra, maka jangan halangi kami untuk merampasnya kembali dari perguruan ular Kobra!"


"Kong Sek, kau manusia tak mengenal malu! kau yang sejak dulu belajar ilmu dari Ayahku jadi kau murid Ayahku! bagaimana kini kau mengaku murid kakek dan nenek iblis ini?" bentak Cu Ai yang marah sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah pemuda yang tadinya akan menjadi tunangannya itu.


"Ayahmu adalah calon ayah mertuaku, sedangkan guruku sekarang adalah Beng Ong dan Mayat betina!" seru Kong Sek dengan senyum mengejek.


 


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2