
Pada saat Cu Ai hendak merobohkan tiga orang perajurit yang mengeroyoknya, tiba-tiba seorang pemuda tinggi besar muncul dan menangkis pedang Cu Ai dengan menyambar-nyambar.
"Tranggg......!"
Cu Ai terkejut karena tangkisan itu cukup kuat dan ketika ia memandang, ia menjadi marah sekali karena yang menangkisnya itu adalah Kong Sek, murid ayahnya sendiri.
"A.,..apa'an ini kakak Sek?" tanya Cu Ai yang terkejut, sedangkan Kong Sek hanya tersenyum dengan sinis.
Tanpa bicara dia lalu menyerang dengan pedangnya, membantu perajurit yang mengeroyok Cu Ai.
Kong Sek tidak datang seorang diri. ternyata pemuda ini telah menjadi sekutu Beng Ong untuk membantunya membalas dendamnya terhadap Cu Ai dan Hua Li.
Ketika dia membantu para perajurit menahan Cu Ai yang hendak mengambil atau merampas harta karun, Beng Ong dan si Mayat Betina dengan cepat melompat dekat kereta atau gerobak yang memuat dua buah peti hitam itu.
Empat orang perajurit menyambut mereka akan tetapi sekali kakek dan nenek iblis itu menggerakkan tangannya, empat orang perajurit itu memekik dan tubuh mereka terlempar membentur batu dan tewas seketika.
Baru saja dua orang kakek dan nenek iblis itu membunuh empat orang perajurit, sebelum mereka sempat menghampiri dua buah peti dalam gerobak, tampak bayangan yang gerakannya cepat seperti terbang meluncur ke arah gerobak dan tahu-tahu seorang gadis sudah berada di atas gerobak.
Gadis yang membawa kecapi di punggungnya itu bukan lain adalah Hua Li yang datang bersama Liu Ceng. Tapi saat itu hanya Hua Li sendiri yang melayang ke atas gerobak dan sebelum ada yang sempat mencegah.
Hua Li mengerahkan tenaga, menghantam ke arah dua buah peti hitam itu.
"Wuuuttt...... brak-brakk.....!"
Dua buah peti itu pecah berantakan dan batu-batu kerikil yang berada dalam peti-peti itu berhamburan.
"Hah...! Peti itu hanya berisi batu-batu!"
"Benar, kita ditipu Lim Bao!"
__ADS_1
Terdengar banyak orang berteriak dan teriakan ini sekaligus menghentikan semua orang yang berkelahi.
Mereka menahan senjata, melompat ke belakang dan menghampiri gerobak, lalu dengan mata terbelalak memandang ke arah dua buah peti yang sudah pecah dan batu-batu kerikil yang berhamburan itu.
Bukan hanya mereka yang tadinya berkelahi kini memandang bengong. Juga rombongan-rombongan pencari harta yang baru datang seperti perkumpulan pengemis tongkat merah, perguruan walet putih, dua murid perguruan bunga persik yang datang bersama Sin Lan dan Sin Lin, mereka semua kini memandang dengan heran melihat betapa dua buah peti yang diperebutkan itu hanya berisi batu-batu kerikil.
"Kita semua tertipu....! Panglima Lim Bao hanya membawa peti harta karun palsu!" seru Hua Li dengan lantang.
Semua orang yang tadinya berkelahi kini mengomel panjang pendek, merasa tertipu dan dipermainkan. Akan tetapi tentu saja mereka tidak dapat menyalahkan Lim Bao, karena mereka sendirilah yang datang menghadang dan mencoba untuk merampas harta karun yang mereka kira benar-benar telah ditemukan panglima itu dan pasukannya.
Yang merasa amat marah adalah Beng Ong. Dia mengeluarkan suara gerengan dan sekali tubuhnya berkelebat, dia telah berdiri di depan Panglima Lim Bao.
Wajahnya merah dan tubuhnya yang kurus itu seperti menjadi semakin bongkok, akan tetapi sikap dan suaranya penuh wibawa.
"Lim Bao....! Apa yang kaulakukan ini? Hanya dengan pangkatmu sebagai panglima, kau berani mempermainkan kami!" bentak Beng Ong.
Panglima Lim Bao cepat memberi hormat kepada gurunya dengan membungkuk sampai dalam.
"Dan kau melakukan siasat ini tanpa memberi laporan kepadaku? Apakah kau bermaksud untuk mendapatkan harta itu bagi dirimu sendiri? Kau membikin malu kami saja!" seru Beng Ong dengan geram.
"Dia pantas dihukum....!" seru Mayat betina dengan suaranya yang serak dan tinggi.
Biarpun dia berhadapan dengan guru dan adik gurunya, Lim Bao teringat bahwa dia adalah seorang panglima kerajaan dan biarpun dua orang kakek nenek itu merupakan orang-orang berjasa dan dianugerahi Kaisar, namun mereka tidak memiliki kedudukan resmi.
"Guru...! Saya adalah panglima kerajaan, tidak akan merampas harta karun untuk diri sendiri. Akan tetapi Suhu dan adik guru bukan utusan kerajaan, sepatutnya membantu kami mencari harta karun itu untuk diserahkan kepada Yang Mulia Kaisar!" seru Lim Bao.
"Kurang ajar....! Berani kau menuduh kami? Jangan dikira kami tidak tahu bahwa usahamu mencari harta karun ini sama sekali bukan atas perintah Yang mulia Kaisar. Kau memang tidak pantas lagi menjadi murid kami!" seru Beng Ong yang kemudian menerjang menyerang Lim Bao, muridnya sendiri itu dengan tongkatnya.
Lim Bao terkejut dan tak menyangka kalau gurunya berani menyerangnya. Namun dia berkedudukan sebagai seorang panglima kerajaan maka dengan cepat dia menggunakan golok yang masih dipegangnya untuk menangkis.
__ADS_1
"Trang.... Trang.... Trang... Trang....!"
Bunga api berpijar, akan tetapi disusul teriakan Panglima Lim Bao yang roboh berkelojotan karena sebatang anak panah kecil sudah menancap di tenggorokannya. Tak lama kemudian panglima itu pun diam dan tewas.
Sebetulnya Lim Bao tentu saja sudah tahu bahwa di ujung tongkat gurunya itu tersembunyi anak panah kecil yang beracun. Akan tetapi dia sama sekali tidak pernah mengira bahwa gurunya tega untuk membunuhnya, apa lagi selain murid dia juga seorang panglima kerajaan.
Akan tetapi ternyata Beng Ong yang berwatak aneh itu sama sekali tidak mempedulikan semua itu dan langsung membunuh muridnya sendiri yang dia anggap menghina dan mempermalukannya karena dia dan Si Mayat Betina juga tertipu dan ikut menghadang, bahkan tadi hampir saja merampas dua buah peti yang ternyata isinya hanya batu kerikil.
Melihat Lim Bao dibunuh kakek itu, para perwira yang membantu Lim Bao menjadi terkejut dan marah. Tentu saja mereka mempunyai rasa setia kawan kepada Lim Bao, maka mereka memberi isyarat kepada para perajurit untuk mengepung Beng Ong dan Si Mayat Betina.
Semua orang kini mengarahkan perhatiannya kepada kakek dan nenek iblis itu yang dikepung para perwira dan perajurit mereka.
"Heh, kalian mau apa? Apakah kalian buta, tidak mengenal siapa kami dan berani hendak menentang kami!" bentak Beng Ong ketika melihat sikap para perwira dan perajurit itu,
Seorang perwira yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, menjawab lantang.
"Kami semua mengenal siapa kalian berdua akan tetapi kalian berdua telah membunuh panglima kami, berarti kalian berdua berusaha memberontak terhadap kerajaan dan karena itulah kalian harus kami tangkap!"
"He...he...hi...hi....! kakak Ong tikus-tikus ini hendak menangkap kita! Mari kita kirim mereka ke neraka menyusul Bao!" seru Mayat betina yang terkekeh.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...