
Yui Lan ingin menepati janjinya untuk tidak memperlihatkan benda-benda itu kepada orang lain, biarpun kepada Saudarinya sekalipun. Kepada Saudarinya, Yui Lan juga menuturkan kecurigaannya terhadap Giok Bin yang ketakutan mendengar nama Saudarinya itu.
"Giok Bin? Dia mengaku sebagai kakek-Saudari para iblis ternama? Ah, yang benar saja! Berapa kira-kira umurnya sekarang?" tanya wanita pendeta palsu itu yang penasaran.
"Entahlah, Saudari. Kakek itu masih suka berdandan dan mematut-matut dirinya sehingga masih kelihatan muda. Tapi kalau melihat kumis dan jenggotnya yang putih, serta punggungnya yang sudah membungkuk, dia tentu berusia lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh tahun." jawab Yui Lan.
"Delapan puluh tahunan? Ah, kalau
Delapan puluh tahunan? Ah, kalau begitu pengakuannya itu mungkin benar juga. Mendiang Tee-tok-ci itu kira-kira berumur empat puluh lima tahun. Jikalau Kok Jin itu berusia enam puluhan tahun, maka kira-kira memang wajar kalau Giok-bin berusia delapan puluhan tahun. Di kalangan mereka memang sudah biasa mengambil adik angkat selagi masih muda. Tapi kenapa Giok-bin itu takut kepadaku? Rasa-rasanya aku belum pernah mengenalnya. Mendengar namanya pun baru sekali ini. Lain halnya dengan cucu-cucu adik angkatnya yang sangat terkenal itu?" gumam Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu yang berpikir keras.
"Saudari....! kemana saja Saudari mencari adik angkat tadi malam? Kenapa Saudari baru menuruni jurang ini sekarang?" tanya Yui Lan yang membangunkan lamunan Wanita si p3ndeta palsu itu.
"Anak nakal! aku mengira kau diculik si Iblis Penyebar Maut itu, sehingga aku terpaksa mencari kau di kota Soh-ciu dan sekitarnya. Dan ketika aku sudah hampir putus asa, barulah aku teringat akan jurang yang dalam!" jelas Yui Lan.
Demikianlah, kedua wanita itu mendaki tebing jurang itu kembali. Berkali-kali si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu harus membantu adik angkatnya agar mereka dapat segera berada di atas jurang kembali.
Walaupun sebenarnya Yui Lan mampu dengan mudahnya mendaki tebing dengan jurus meringankan tubuhnya. Namun dia tetap bersabar untuk berpura-pura menjadi gadis yang lemah.
"Tadi malam aku telah menemui Kang Lam yang belum sembuh dari luka-lukanya di kota Soh-ciu. Aku terpaksa menjumpai dia dan para pendekar yang berkumpul di rumahnya untuk meminta pertolongan mereka mencarikan kau." kata perempuan tua itu kepada Yui Lan setelah mereka berada di atas jurang kembali.
"Apakah sudah banyak pendekar yang berkumpul di sana, saudaraku?" tanya Yui Lan yang penasaran.
__ADS_1
"Bukan main banyaknya. Itu saja belum termasuk dengan para pendekar yang berkeliaran di dalam kota. Dan juga belum termasuk para pendekar sakti yang datang secara diam-diam, karena mereka ingin bergerak sendiri-sendiri." jelas si wanita pendeta palsu itu
"Ah... kalau begitu sungguh kasihan sekali si Iblis Penyebar Maut itu," bibir Yui Lan bergumam tanpa terasa.
"Apa? Yui Lan, kau bilang apa..?" Pendeta Palsu dari teluk Po-hai tiba-tiba membentak Yui Lan.
Kedua matanya mendelik menahan kesal dan marah. Gadis itu cepat menundukkan mukanya dengan ketakutan. Bibirnya yang mungil itu sampai gemetaran ketika menjawab,
"Ma....ma'af saudariku! Aku tidak sadar me....mengatakannya. Aku...aku...!" jawab Yui Lan yang pura-pura gugup.
"Anak cengeng! Lalu apa maksudmu berkata demikian itu? Ayo jawab!" seru perempuan tua itu menghardik lagi semakin marah. Yui Lan menatap Saudarinya dengan wajah pucat dan hampir menangis. Air matanya mulai berlinang-linang.
Dapat dibayangkan betapa kesal dan mendongkolnya perempuan tua itu. Baru saja mereka bertemu lagi, gadis itu sudah mulai dengan khotbahnya yang menjengkelkan.
"Kurang ajar! Kau ini anak kecil tahu apa tentang kehidupan? Berapa usiamu sekarang? Berapa banyak pengalaman hidup yang kau peroleh? Sungguh lancang...! Kau ini benar-benar seekor anak ayam yang belum mengenal kerasnya kehidupan, kejamnya dunia, tapi sudah berani berbicara tentang kehidupan manusia! Jangan kau persamakan 'dunia Angan-angan" yang kauperoleh dari dalam buku itu dengan 'dunia nyata" yang selalu kita hadapi setiap hari ini!" perempuan tua itu berteriak-teriak saking marahnya.
"Tapi... tapi..." kata Yui Lan masih juga mau membantah.
"Diam! Jangan berbicara lagi yang bukan-bukan! Mari kita sekarang berangkat ke kota Soh-ciu...!" seru si Wanita pendeta palsu itu.
Yui Lan tak berani menyanggah lagi. Sambil menyeka air matanya, gadis itu melangkahkan kakinya mengikuti Saudarinya. Mereka menuruni bukit itu dan menyusuri jalan besar yang membelah dusun-dusun di bawah bukit.
__ADS_1
Beberapa orang petani tampak sedang menggarap sawah ladang mereka, tapi sepanjang jalan itu Yui Lan dan Saudarinya tak menjumpai seorang wanita atau gadis sekalipun. Yang mereka jumpai selalu laki-laki atau anak kecil seakan-akan dusun-dusun yang mereka lalui itu cuma dihuni oleh laki-laki dan anak-anak.
Dan suasananyapun tampak aneh, penduduk Kang lam yang biasa ramah itu kini tampak pendiam dan acuh. Kalau toh mereka berpapasan, mereka tentu melengos atau pura-pura tidak tahu. Anak-anak kecilpun akan segera lari bersembunyi apabila mereka lewat.
"Lihatlah...! Penduduk Kang lam yang terkenal ramah-tamah itu kini menjadi gelisah dan ketakutan setiap dilihat orang asing. Dan tanahnya yang subur makmur itupun kini menjadi terbengkalai akibat ditinggalkan pemiliknya. Dusun-dusunnya yang dulu bersih dan rapi itu kini juga menjadi rusak dan kotor pula. Nah! Coba kaurenungkan! Siapa yang menyebabkan semua itu? Siapa...?" tanya si wanita pendeta palsu itu.
"Si Iblis Penyebar Maut..." jawab Yui Lan dengan seret.
"Nah! Itulah...!" seru Si Wanita pendeta palsu itu yang membenarkan jawaban Yui Lan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1