Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 105


__ADS_3

LIu Ceng tahu kalau kekasihnya itu adalah pendekar yang sakti, karena itulah banyak pendekar yang ingin berguru padanya. Dan sepertinya Hua Li memang pilih-pilih orang untuk menjadikanya sebagai muridnya.


Liu Ceng menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


"Kakak Ceng, kenapa kau menghela napas panjang?" tanya Liu


Hong yang penasaran.


Liu Ceng mengulas senyumnya, menutupi rasa kebingungannya.


"Aku kasihan sekali kepada puteri ketua Cu Liong itu, adik Hong. Ia seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa, juga berwatak baik dan jujur. Kenapa Adik Hua tak mau mengangkatnya sebagai murid?" tanya Liu Ceng yang melirik ke arah Hua Li yang masih terdiam.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa ia baik dan jujur, kakak Ceng?" tanya Hua Li yang menyahut pertanyaan Liu Ceng.


"Ia dan ayahnya telah menyelamatkan nyawa kamu adik Hua dan itu pun sampai dua kali, itu berarti ia berwatak baik. Dan kata-katanya ketika mencegah ayahnya menyerang kamu tadi menunjukkan bahwa ia seorang yang jujur. Sungguh patut dikasihani. Aih, rupanya kamu menghancurkan cita-cita Cu Ai yang ingin menjadi pendekar pilih tanding adik Hua." jelas Liu Ceng yang menatap Hua Li.


 "Ha...ha...! aku tahu kakak Ceng, adik Hua itu tak mau ada yang menyaingi, satu dia akan tetap menjadi pendekar nomor satu dan yang kedua itu karena dia tahu kalau Cu Ai dengan mendekati dirinya, ada kekhawatiran adik Hua kalau Cu Ai akan merusak hubungan kamu denga adik Hua! ha ..ha...!" tebak Liu Hong seraya tertawa dengan riangnya.


"Kakak Hong......!" seru Hua Li yang menegur Liu Hong, walaupun apa yang ditebak Liu Hong itu benar adanya.


"Kenapa kakak Hua? Bukankah aku bicara jujur dan apa adanya? Engkau tidak dapat menyangkal bahwa kau sejak dulu mencintai kakak Ceng dan sebaliknya Kakak Ceng juga mencintamu. Ingat, adik Hua janjiku dulu masih berlaku sehingga sekarang! Yaitu apabila kau menyia-nyiakan cinta kakak Ceng dan tidak mau menikahinya, aku akan melupakan bahwa kau ini kakak misanku dan kau akan ku musuhi!" ancam Liu Hong.


"Adik Hong ...!" seru Liu Ceng yang menegur Liu Hong karena sudah berani mengancam Hua Li.


Hua Li menghela napas panjang. Menghadapi Liu Hong yang jujur, dia tidak dapat merahasiakan atau menyembunyikan keadaan hatinya.

__ADS_1


Karena dia akan selalu merasa tidak tenang sebelum menyampaikan pikiran yang menekan dan selalu mengganggu perasaannya mengenai hubungan cintanya dengan Liu Ceng.


"Adik Li Hong, kau sungguh keterlaluan!" seru Liu Ceng menegur dengan suara halus.


"Kakak Ceng, sejak dulu aku tahu benar bahwa kau dan adik Hua saling mencinta. Kalau kakak Ceng mengingkari cinta kakak Ceng kepada adik Hua, terpaksa aku akan menentang kalian berdua!" seru Liu Hong dengan tatapan tajam.


"Adik Hong dan adik Hua, biarlah aku menggunakan kesempatan ini untuk membuat pengakuan. Aku tidak mengingkari bahwa sejak pertemuan pertama dengan adik Hua, aku telah jatuh cinta kepadamu adik Hua. Dan aku ingin menikah denganmu!" kata Liu Ceng yang meyakinkan perasaannya pada Hua Li.


"Terima kasih kakak Ceng, dan perlu kakak Ceng dan kakak Hong ketahui, bahwa alasan saya menolak Cu Ai menjadi muridku adalah sama seperti yang diutarakan oleh kakak Hong. Saya tak ingin Cu Ai terlalu dekat dengan saya yang tentu akan mendekatkan dia dengan dirimu kakak Ceng. Karena kata hati saya merasakan kalau Cu Ai menyukai Kakak Ceng,tentu saja aku akan menjauhkannya dari kakak Ceng." jelas Hua Li yang saat ini raut wajah Hua Li yang memerah dan menundukkan kepalanya, untuk menyembunyikan rasa malunya pada kedua pemuda dihadapannya.


"Nah, benarkah seperti yang aku tebak tadi!" seru Liu Hong yang mengulas senyumnya.


Mendengar ucapan Liu Hong itu, Ceng Ceng lalu bicara dengan suara bernada serius untuk menghentikan adik angkatnya itu bicara lebih banyak tentang urusan hubungan dia dengan Hua Li, yang hanya membuat ia dan Hua Li merasa tidak enak saja.


"Sudahlah, adik Hong! Aku minta dengan sangat agar kita tidak membicarakan lagi urusan itu! Mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Pulau Ular!" seru Liu Ceng.


Dengan menggunakan jurus meringankan tubuh, ketiganya melakukan perjalanan dengan cepat. Dan dalam perjalanan itu mereka tidak menemui rintangan dan tidak lama kemudian mereka telah menyeberang dengan perahu ke Pulau Ular.


Sesampainya di pulau Ular Siauw Tek, Lu Siang, dan Ban-tok menyambut kedatangan tiga orang muda itu dengan gembira dan lega melihat betapa Liu Hong dan Liu Ceng kembali ke Pulau Ular dengan selamat.


Apalagi setelah mereka melihat ketika mereka berhasil mendapatkan harta karun Kerajaan Han yang diperebutkan itu.


Liu Hong memperkenalkan Hua Li dan gadis itu memberi hormat kepada kakak ibunya, Liu Tek memegang kedua pundak gadis itu dengan terharu dan girang.


"Li'er, sungguh bahagia sekali rasa hatiku dapat bertemu dengan puteri Adikku! Selama bertahun-tahun ini hatiku ikut merasa berduka mendengar akan nasib kedua orang tuamu. Aku tidak pernah bertemu dengan ibumu semenjak ia menikah dan pergi mengikuti ayahmu." kata Siauw Tek yang mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Saya yang mohon maaf kepada Paman dan Bibi karena baru saya ketahui dari kakak Liu Hong bahwa mendiang ibu saya mempunyai seorang kakak." kata Hua Li yang menatap kedua orang tua Liu Hong.


Ban Tok yang pernah bertemu dengan Hua Li dan mengagumi pemuda itu juga menyambut dengan gembira. Perjamuan keluarga diadakan untuk menyambut mereka dan mereka sekeluarga lalu makan minum dengan gembira.


Setelah makan mereka duduk di ruangan dalam dan di sini Liu Ceng diminta untuk menceritakan keberhasilannya menemukan harta karun dari peta yang diwariskan ayahnya kepadanya.


Dengan terkadang dibantu tambahan keterangan dari Liu Hong dan Hua Li. Liu Ceng menceritakan semua pengalamannya di pegunungan Tengkorak sehingga ia akhirnya, dengan bantuan Hua Li, mendapatkan setengah dari harta karun itu.


Siauw Tek dan dua orang isterinya mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa kagum. Akan tetapi mendengar bahwa akhirnya Liu Ceng hanya mendapatkan setengah harta karun itu. .


"Liu Ceng, mengapa engkau hanya mendapatkan setengahnya?" tanya Ban tok yang merasa penasaran dan dengan alis berkerut.


 "Yang setengahnya lagi diambil oleh Tuan putri Yu!" kata Liu Hong dengan bersemangat dan wajahnya berseri.


"Eh, mengapa begitu? Bukankah harta karun Kerajaan Han itu menjadi hak milikmu karena petanya diwariskan mendiang ayahmu kepadamu, Liu Ceng?" tegur Ban tok yang merasa heran.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2