
"Kenapa demikian kak?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"Suatu saat kamu pasti akan mengerti.'' ucap Liu Ceng.
Liu Hong mengerutkan alisnya ketika memandang wajah kakak angkatnya. Ia menemukan kesedihan tertahan yang tersembunyi di balik ucapan kakanya itu.
"Kakak Ceng, aku yakin bahwa kamu tidak salah pilih ketika engkau saling mencinta dengan kakak misanku Hua Li. Dia memang ada yang mencintai di perguruan asalnya, tapi siapa tahu hatinya untukmu kakak Ceng." ucap Liu Hong yang berusaha membesarkan hati kakaknya.
Mendengar ini, Liu Ceng tersenyum dan awan kesedihan tadi lenyap dari wajahnya yang jelita dan penuh kelembutan.
"Aih, kenapa menyinggung hal itu, adik Hong? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Selalu ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya ada dua hal yang teramat penting dan yang mempengaruhi seluruh jalan hidupmu. Kedua hal itu adalah menanam dan memetik buahnya. Segala perbuatan kita, termasuk pemikiran dan pengucapan, merupakan benih yang kita tanam. Karena benih itu akan menjadi pohon dan berbuah, maka seyogianya kita menanam benih yang terbaik, berarti kita melakukan perbuatan yang terbaik. Kemudian segala peristiwa yang menimpa diri kita, itu bukan lain adalah memetik buah dari benih kita tanam sendiri. Oleh karena itulah, adik Hong semua hal yang menimpa diriku, baik maupun buruk, adalah hasil petikan buah dari pohon yang kutanam sendiri, entah kapan aku menanamnya. Maka, aku tidak perlu bersedih, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena sudah sepantasnyalah kalau aku memetik dan makan buah dari hasil tanamanku sendiri." nasehat Liu Ceng.
"Adik kakak Ceng, kamu memang seorang yang luar biasa dan bijaksana sekali!" seru Liu Hong mengulas senyumnya.
"Tidak, Adik Hong. Aku pun tiada bedanya dengan kamu atau siapapun juga, lemah dan mudah terpengaruh. Yang penting kita harus selalu waspada setiap saat. Adikku, walaupun tidak mungkin manusia itu sempurna, namun setidaknya akan selalu ingat untuk menanam benih terbaik melalui pemikiran, ucapan, dan perbuatan." ucap Liu Ceng.
"Iya Kak. Huahaheeem.....! ayo kita istirahat kak!" ucap Liu Hong yang melangkahkan kakinya ke pembaringan seraya mengusap.
Sementara Liu Ceng menggelengkan kepalanya pelan dan bangkit dari duduknya dan juga melangkahkan kakinya ke tempat tidur.
Tak berapa lama keduanya sudah lelap dalam tidur masing-masing.
Dua hari kemudian....
Pagi itu adalah saat yang ditentukan oleh tantangan orang berpakaian serba hitam terhadap ketua Kui.
Sementara itu ketua Kui sudah berdiri di halaman depan rumahnya, dihadap para anggota perkumpulan tongkat merah yang berjumlah sekitar seratus orang, tidak termasuk anak istri mereka.
__ADS_1
Ketua Kui mengenakan pakaian tambal-tambalan baru, memegang tongkat merahnya dan tampak gagah berwibawa.
Disampingnya berdiri Yauw Lie, juga sudah mengenakan pakaian tambal-tambalan dan memegang sebatang tongkat merah.
"Para anggota perkumpulan tongkat merah!" seru ketua Kui dengan lantang.
"Kami akan turun bukit memenuhi tantangan orang suruhan dari perguruan tengkorak hitam Kami hanya mengajak tiga puluh orang anak buah. Yang lain, sisanya harus melakukan penjagaan di perkampungan kita. Hari ini semua pekerjaan ditunda dan yang penting adalah menjaga keamanan kampung. Kepada mereka yang mengikuti kami turun bukit, sekali lagi kuperingatkan. Kalian ikut bukan untuk bertempur, melainkan hanya untuk menjaga agar kami yang melakukan adu silat tidak sampai dikeroyok. Ingat, tanpa adanya perintah dariku, semua dilarang turun tangan menyerang!" seru Ketua Kui.
"Baik ketua...!" balas semua anggota perkumpulan pengemis itu dengan kompak.
Setelah menyampaikan pesan dan perintahnya, rombongan itu turun bukit. Ketua berjalan di depan, ditemani Yauw Lie, Liu Ceng, dan Liu Hong. Di belakang mereka berjalan tiga puluh orang anak buah yang semua berpakaian tambal-tambalan dan memegang tongkat merah.
Ketika mereka tiba di tempat dekat hutan di mana kemarin anggota perkumpulan pengemis tongkat berkelahi melawan murid perguruan tengkorak hitam, rombongan itu melihat rombongan lawan sudah berada di situ. Di depan rombongan itu berdiri dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun yang bukan lain adalah laki-laki yang memakai pakaian serba hitam kemarin.
Laki-laki itu bermuka hitam arang, pakaiannya juga hitam tubuhnya sedang, rambutnya putih dan sikapnya sombong. Sebatang golok besar tergantung di punggungnya dan dia berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum sinis.
Seperti sudah disepakati sebelumnya, yang maju menghadapi dua orang laki-laki yang berpakaian hitam itu adalah Ketua Kui dan Yauw Lie yang juga berpakaian pengemis dan memegang tongkat merah. Kini mereka berdua berdiri berhadapan dengan laki-laki yang memakai pakaian hitam dan rambut putih.
"He...he...he...! kau datang juga memenuhi tantangan kami, ketua Kui!" seru laki-laki yang berambut putih itu dengan tawa mengejek.
Ketua Kui masih bersikap tenang lalu berkata dengan lantang penuh wibawa.
"Selama ini antara kalian dan kami tidak pernah terjadi permusuhan apa pun dan tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Tapi kenapa mendadak kalian yang menghina anak buah kami dan memaki kami sebagai pencuri? Apa sebenarnya niat buruk kalian karena agaknya kalian mendukung anak buah kalian yang jahat itu?" tanya Ketua Kui
"Kami bukan menuduh sembarangan, karena kami yakin bahwa kalian yang mencuri harta karun Kerajaan Han itu!" seru laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu.
"Hemm, tuduhan yang salah sasaran! Apa dasar dan alasan maupun buktinya bahwa kami melakukan pencurian itu?" tanya ketua Kui yang menatap kedua orang yang memakai pakaian serba hitam itu dengan tajam.
__ADS_1
"Ha...ha...ha...! alasannya sudah jelas! Kalian ini hidup sebagai pengemis yang selalu kekurangan makan, tentu saja haus akan harta benda. Kalau yang mencuri itu tinggal di pegunungan ini, seperti pengakuan mereka, siapa lagi pelaku pencurian itu kecuali perkumpulan pengemis?" kata laki-laki berambut putih.
"Ohw, Aku tahu sekarang! Kalian sengaja menuduh kami untuk mengalihkan perhatian, padahal sebetulnya kalian dua binatang bermulut kotor inilah yang menjadi pencuri!" seru Yauw Lie.
Kedua laki-laki berpakaian serba hitam itu marah sekali. Belum pernah selama hidup mereka dimaki dengan kata-kata demikian menghina, apalagi oleh seorang gadis.
"Perempuan keparat!" umpat laki-laki berpakaian hitam yang berambut putih dengan mendorongkan tangan kanannya ke arah Yauw Lie yang telah memakinya.
Sinar hitam menyambar ke arah Yauw Lie, akan tetapi dengan beraninya Yauw Lie menyambutnya dengan meutar-mutarkan tongkatnya ke arah sinar hitam itu.
"Derrrr......!"
Laki-laki berpakaian hitam dan berambut putih itu sangat terkejut ketika merasa jurusnya membalik, begitu pula dengan Yauw Lie yang merasa betapa kuatnya pukulan laki-laki yang berambut putih itu.
Kemudian ketua Kui melangkah maju.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...