
Pakaian yang dikenakan Bao Tek kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.
"Tiga Serigala emas!"
Terdengar seorang di diantara lima tukang pukul dari Siong-Cu itu berseru dan barulah Bao Tek sadar bahwa yang dihadapinya adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal lihai dan ditakuti semua orang dunia persilatan di daerah itu.
"Baguslah kalau kalian sudah mengenal kami!" laki-laki yang menghajar Alok tadi.
"Hayo cepat kalian pergi!" benta laki-laki itu dan cambuknya kembali menyambar-menyanbar.
Cambuk itu mengarah pada saudagar Teng dan para pengawalnya, dan berhenti menari-nari pada saat lima orang itu masing-masing mendapat tanda guratan melintang pada muka mereka.
Guratan yang cukup dalam sehingga nampak merah dan ada pula yang berdarah, dan dia berhasil mengusir saudagar Teng dan pengawalnya untuk meninggalkan restoran itu dan membayar uang makanan di luar.
Yang paling parah adalah Bao Tek sehingga dia harus dipapah oleh seorang rekannya.
Banyak diantara para tamu yang semula ketakutan, setelah enam orang itu pergi dan suasana kembali tenang, mereka melanjutkan makan dengan tergesa-gesa dan ada pula yang segera meninggalkan tempat itu.
Sedangkan makanan yang dipesan Hok Cu baru tiba dan gadis itu pun makan minum dengan tenangnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di dekatnya.
"Hm, cantik dan manisnya memang mengagumkan. Akan tetapi sayang sekali tidak mengenal budi orang!"
Suara ini lirih akan tetapi terdengar jelas oleh Hok Cu dan ia tahu bahwa yang dibicarakan adalah dirinya.
"Memang ia tidak sopan, padahal baru saja kami membebaskannya dari cengkeraman sekelompok serigala." suara kedua.
"Aihhhhh, mungkin ia malu. Sebaiknya malam nanti kita berkunjung ke kamarnya." suara ke tiga menyusul dan ucapan terakhir itu membuat wajah Hok Cu menjadi agak kemerahan karena ia tersinggung sekali.
"Memang sebaiknya begitu, akan tetapi sekarang juga kita dapat memberinya peringatan agar malam nanti ia tidak sombong dan tidak banyak rewel lagi, bersikap ramah kepada kita, ha...ha...!" kata pula suara pertama dengan tawanya.
Hok Cu semakin kesal, akan tetapi ia mampu membiarkan kemarahannya lewat tanpa mempengaruhinya. Ia tetap makan walaupun kini ia waspada sekali terhadap tiga orang pria berpakaian kuning itu.
__ADS_1
Tiga orang pria itu masing-masing menjumput sebutir kacang goreng di atas meja mereka, kemudian mereka mempergunakan telunjuk menyentil kacang itu ke arah Hok Cu.
Tentu saja mereka membidik sasaran bagian tubuh yang tidak akan membahayakan, dan mengatur tenaga sentilan mereka karena mereka hanya ingin memperingatkan gadis itu bukan hendak menyerangnya.
Begitu tiga butir kacang itu meluncur, Hok Cu yang sudah mengetahuinya lalu menggerakkan tangan kirinya, gerakan seperti orang mengusir lalat dan mengomel,
"Ih...! rupanya banyak lalat di sini!"
Tiga orang yang terkenal dengan julukan Tiga serigala emas itu terkejut bukan main ketika melihat tiga butir kacang yang mereka sentil ke arah gadis itu tiba-tiba meluncur kembali ke arah mereka dengan cepat sekali.
Mereka terpaksa merendahkan tubuh sehingga tiga butir kacang itu lewat di atas kepala mereka.
Hok Cu melihat hal ini dan ia terkejut bukan main melihat betapa tiga butir kacang itu kini meluncur ke arah seorang pemuda yang mengenakan sebuah caping lebar dan yang kebetulan duduk di meja sebelah tiga orang berpakaian kuning itu.
Lebih kaget dan kagum hatinya melihat betapa pemuda itu, yang mukanya tersembunyi di balik caping lebar, tanpa menggerakkan kepala sehingga tentu dia tidak melihat datangnya tiga butir kacang yang menyambar, menjulurkan tangan kirinya dan sekali tangan kiri itu menggapai, tiga butir kacang itu telah ditangkapnya.
Kini, caping itu merosot turun ke punggung dan nampaklah wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dengan sepasang mata yang lincah jenaka dan tajam sinarnya. Hidungnya besar mancung dan bibirnya merah penuh gairah.
Hanya sebentar saja pemuda itu memandang Hok Cu. Lalu ia memandang kepada tiga orang pria berpakaian kuning itu dan ia tersenyum lebar.
"Aha, memang banyak lalat, terutama tiga ekor lalat kuning yang amat menjemukan harus diusir agar tidak mengurangi selera makan!" berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tiga butir kacang itu sudah meluncur dengan kecepatan kilat kearah Tiga Serigala emas itu.
Tiga orang ini sama sekali tidak menduganya. Mereka tadi tidak melihat betapa pemuda bercaping itu menangkap tiga butir kacang, maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, mereka menengok pada saat tiga butir kacang itu meluncur.
Mereka tidak mungkin mengelak lagi dan tiga butir kacang itu dengan tepat mengenai wajah mereka.
Seorang terkena hidungnya, seorang terkena pipinya dan orang ke tiga terkena dahinya. Mereka menahan teriakan karena biarpun hanya kacang goreng, akan tetapi karena dilepas dengan kekuatan yang hebat, maka muka yang terkena kacang itu terasa cukup nyeri, terutama dia yang terkena hidungnya.
Ada tanda merah pada hidung, dahi dan pipi itu. Serentak mereka bangkit berdiri dan memandang kepada pemuda bercaping itu dengan marah.
"Bedebah...! Apakah telingamu tuli matamu buta?" bentak orang pertama dari Tiga serigala emas yang tadi terkena lemparan karang pada hidungnya
__ADS_1
"Andaikata kau tuli, tentu kau tidak buta dan dapat melihat dengan siapa kau berhadapan. Kami adalah Tiga serigala emas, dan berani sekali kau mengganggu kami!" bentak orang pertama dari tiga Serigala emas itu.
"Tidak ada yang mengganggu tiga ekor lalat kuning! Biasanya, lalat kuning yang suka mengganggui orang!" jawab pemuda itu yang sebelumnya menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya dengan tidak tergesa-gesa menjawab.
Jawaban itu membuat Hok Cu tersenyum. Pemuda itu sungguh berani dan jenaka, dan melihat cara dia tadi melempar tiga butir kacang, mudah diduga bahwa tentu pemuda bercaping yang tampan itu memiliki ilmu kepaindaiain yang lumayan.
Tiga Serigala Emas itu semakin marah. Mereka ketiganya menjadi korban lemparan kacang, maka kini ketiganya mengeluarkan cambuk emas mereka yang tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya ketika seorang di antara mereka menghajar saudagar Teng dari Siong-cu tadi bersama lima orang tukang pukulnya.
Melihat ini, para tamu yang masih berada di situ, menjadi ketakutan dan mereka yang mejanya berdekatan, segera meninggalkan meja walaupun makanan mereka belum habis.
Kini yang nampak di bagian ruangan itu hanyalah Si Pemuda bercaping, Hok Cu, dan tiga Serigala emas itu.
Hok Cu masih tenang-tenang saja makan nasi dan bakminya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu di depannya.
Sementara itu tiga Serigala Emas sudah bangkit berdiri dan berjajar menghadapi pemuda bercaping yang masih duduk dengan tenangnya, biarnya terkesan mengejek dan matanya yang jenaka memandang kepada tiga orang yang marah-marah itu.
"Keparat! Bangkitlah dan lawanlah kami kalau engkau memang laki-laki tantang seorang di antara tiga Serigala emas.
Tiba-tiba, pemilik rumah makan itu datang berlari-lari, lalu sambil membungkuk-bungkukkan kepala kepada Tiga serigala emas.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1