
Biksu Hek Bin memperingatkan agar ia tidak mempergunakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari gurunya Mo Li, terutama ilmu yang mengandung hawa beracun hitam.
"Ilmu itu membahayakan lawan, juga membahayakan dirimu sendiri, Hok Cu. Kalau kau mempergunakan ilmu itu dan bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki tenaga dalam yang lebih kuat darimu, kau dapat terluka oleh hawa beracun itu yang membalik." demikian antara lain kata biksu sakti itu.
Kini Hok Cu teringat akan nasehat itu, maka dengan cepat Hok Cu menyarungkan pedangnya, dan duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Kedua kaki bersila di atas paha, kedua jari manis bertemu dan dengan cepat ia menghimpun tenaga murni dan membiarkan hawa murni berputar-putar di pusar, lalu perlahar lahan, dengan tenaga dalam ia mendorong keluar hawa yang menyesak di ulu hati.
Perlahan-lahan, hawa itu didorong luar melalui mulutnya sedikit demi dikit.
Han Beng terpesona. Melihat gadis itu membuka mulut dia seolah-olah melihat hawa beracun itu keluar, seperti air memancar dan hal ini mengingatkan dia akan sesuatu.
Matanya terbelalak dan tak pernah berkedip dia menganati wajah yang matanya terpejam itu, melihat hidung itu, mulut yang terbuka itu.
Kemudian perlahan-lahan dia menghampiri mengitari dan memperhatikan kulit tengkuk yang kebetulan nampak karena rambut gadis itu agak awut-awutan.
Bagian tengkuk terbuka sehingga nampaklah kulit tengkuk yang putih mulus akan tetapi di tengah-tengah nampak sebuah titik hitam sekali.
Sebuah tahi lalat hitam. Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan seperti orang kebingungan dia lari lagi ke depan disitu, kini dia berlutut agar dapat memandang dan mengamati wajah gadis itu lebih jelas lagi.
Seperti sedang mimpi Han Beng mengamati wajah itu dan dia menjadi semakin yakin.
Hok Cu membuka matanya dan hampir ia menjerit ketika melihat pemuda tinggi besar itu berlutut di depannya, dekat hanya dalam jarak satu meter dan pemuda itu sedang mengamati wajahnya seperti orang mengamati sebuah lukisan yang aneh.
"Hei...! Apa yang kaulakukan ini? Mengapa kau memandangku seperti itu?" la membentak dan suaranya nyaring mengejutkan.
Han Beng yang memang sedang termenung itu, sedang melayang kepada kenangan lama, terkejut sekali dan dengan gugup dia pun menjawab dengan kacau, menurutkan jalan pikirannya yang tadi mengenangkan peristiwa masa lalu.
"Aku.... aku sudah memijat-mijat perutmu sampai kempis kembali!" Han Beng kaget sendiri mendengar ucapanya itu, apalagi Hok Cu.
Gadis ini terbelalak, mukanya berubah merah sekali, matanya mencorong dan ia pun meloncat berdiri dan menghunus pedangnya.
"Kau... kau berani kurang ajar padaku, ya? Kaukira aku sudah kalah tadi dan kau boleh membuka mulut mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan untuk menghinaku?" bentak Hok Cu.
__ADS_1
"Eh, maaf! sabarlah dan tenanglah sekali lagi maaf. Aku teringat akan masa lampau, kau....apakah benar kau Hok Cu?" tanya Han Beng yang penasaran.
Kini Giok Cu terbelalak memandang kepada pemuda itu, alisnya berkerut lalu ia menghardik.
"Hm, kau tentu sudah mendengar namaku disebut orang tadi, apa anehnya itu!" seru Hok Cu yang menebak.
"Tidak, tidak Hok Cu. Ah, apakah lupa kau kepadaku? Lupakah kau ketika kita berdua di Sungai Kuning berkelahi melawan naga? eh, ular itu! kemudian perut kita kembung oleh air dan aku memijat perutmu agar airnya keluar dari perut? Kau lupa kepadaku?" tanya Han Beng yang menggebu.
Kini sepasang mata yang jeli dan bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang itu terbelalak, dengan penuh selidik mengamati wajah Han Beng dan terbayanglah peristiwa belasan tahun yang lalu itu.
Terkenanglah ia akan peristiwa yang amat hebat itu, ketika nyawanya berada dalam cengkeraman maut yang mengerikan, berkelahi dengan ular di air Sungai Kuning, terancam pusaran air, dan dijadikan keroyokan banyak sekali tokoh-tokoh dunia persilatan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Di tempat itu pula ayah dan ibunya tewas, setelah menderita luka parah pukulan pendekar kecapi seperti yang diceritakan gurunya yang pertama, yaitu Mo Li.
Tentu saja ia ingat kepada anak laki-laki yang menjadi kawan sependeritaan dalam peristiwa itu, anak laki-laki yang memang sudah menjadi sahabatnya sebelum terjadinya peristiwa itu karena orang tua mereka sama-sama pengungsi yang melarikan diri dari kerja paksa dan sama-sama menggunakan perahu dan bertemu di Sungai Kuning.
"Kau.... apakah kau Han Beng?" tanya Hok Cu yang masih gagap karena ragu-ragu.
"Ha...ha...ha...!"
"Benar, Hok Cu. Aku kawanmu senasib itu!" seru Han Beng dengan gembira.
"Han Beng...! Benar kau ini? Ah, kau telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, bahkan aku.... aku sendiri kalah olehmu ....." kata Hok Cu yang belum selesai.
"Ah tidak, Hok Cu. Kau tidak kalah, hanya kau menderita luka.dalam, bukan karena pertandingan kita tadi. Dan kau sendiri... wah, Hok Cu, sungguh tadinya bagaimana mungkin aku dapat mengenalmu? kau sekarang, telah menjadi seorang gadis yang amat cantik jelita, dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat pula! Eh, maafkan aku, Hok Cu. Mungkin aku terlalu lancang dan harus menyebutmu nyonya?" kata Han Beng yang menggoda Hok Cu.
Wajah Giok Cu berubah merah dan mulutnya cemberut, akan tetapi ia tidak marah. Bagaimana ia bisa marah kepada Han Beng, kawan baiknya ketika mereka masih kecil itu?
Dahulu, setelah peristiwa hebat di Sungai Kuning yang membuat mereka saling berpisah, sering kali ia terkenang kepada kawan baiknya itu.
"Han Beng, jangan macam-macam! Aku belum menjadi nyonya, belum menikah!" seru Hok Cu dengan geram.
"Ha...ha....ha..!" Han Beng tertawa lepas dan Hok Cu mengamati wajah Han Ben.
__ADS_1
"Hm..! Masih seperti dulu tawanya." gumam dalam hati Hok Cu yang bebas dan membayangkan kejujuran.
"Kenapa kau mentertawakan aku?" tanya Hok Cu dengan alisnya yang berkerut.
"Aku senang sekali, Hok Cu!" jawab Han Beng.
"Senang? Aku belum menikah dan kau senang!" seru Hok Cu.
Kini kedua pipi Han Beng yang menjadi kemerahan, dan dia menjawab gagap,
"Oh, tidak! Aku senang bertemu denganmu dan aku senang kau masih galak seperti dulu!" seru Han Beng.
"Ha ..ha...ha...!"
Hok Cu juga tertawa dan melihat gadis itu tertawa, jantung di dalam dada Han Beng berdebar keras.
"Alangkah manisnya Hok Cu! Ingin rasanya aku merangkul, memondong, dan membawanya menari-nari." gumam dalam hati Han Beng.
"Dan engkau masih canggung seperti dulu. Berapa anakmu sekarang, Han Beng?" kata Hok Cu yang berbalik bertanya.
"Anak?" Sepasang mata yang lebar itu terbelalak.
"Aku tidak beranak!" seru Han Beng.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...