Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 45


__ADS_3

"Mari kita lihat!" seru Siauw Tek.


Dan mereka segera berlari keluar dari gedung itu mengikuti penjaga yang menjadi penunjuk jalan itu.


Adapun Nyonya Liu yang tidak memiliki ilmu silat tinggl, tidak ikut dan berdiam di rumah saja.


 Setelah tiba di pantai pulau itu, mereka berempat melihat seorang gadis yang berpakaian serba biru sedang dikeroyok dua puluh orang lebih di tepi sungai. Laki-laki itu bagaikan seekor burung berlompatan dari satu ke lain perahu besar, mengamuk dengan pedangnya dan tampak dia merobohkan beberapa orang pengeroyok.


Biarpun dari pantai itu tidak dapat dilihat jelas, namun dari seragam para pengeroyok mudah dikenal bahwa mereka adalah para perajurit Mongol.


"Mari kita bantu orang yang dikeroyok pasukan Mongol itu!" kata Siauw Tek.


"Iya!" jawab semuanya dengan semangat.


Dia dan Ban tok masuk ke sebuah perahu kecil, sedangkan Liu Hong dan Liu Ceng masuk ke perahu lain. Dua buah perahu itu segera didayung cepat menuju ke tempat di mana perkelahian masih berlangsung seru.


Setelah agak dekat, mereka melihat bahwa yang dikeroyok itu adalah seorang gadis yang berpakaian serba biru yang cukup lihai.


Biarpun dikeroyok demikian banyaknya lawan, dia dapat bergerak lincah dan tidak terdesak. Akan tetapi kini empat buah perahu besar itu saling mendekat dan para perajurit berkumpul di sebuah perahu di mana pemuda itu dikeroyok sehingga kini dia dikeroyok banyak perajurit Mongol.


Karena yang mengeroyoknya banyak sekali, mulailah pemuda itu memutar pedang melindungi dirinya sambil mundur dan dia melompat ke arah perahu kecil yang tadi ditinggalkannya ketika dia melompat ke atas perahu besar para pengeroyoknya.


Perahu itu berada di tempatnya karena sebelum melompat ke perahu besar, pemuda itu telah melepas jangkar untuk menahan perahu agar jangan hanyut oleh ombak.


 Pada saat dia melompat itu, beberapa orang perajurit melepaskan anak panah ke arah tubuh yang masih melayang dari perahu besar ke perahu kecil itu.


Pemuda itu memutar pedangnya sehingga beberapa batang anak panah tertangkis dan terpental. Akan tetapi sebatang anak panah agaknya mengenai tubuhnya karena sebelum dia mencapai perahu kecil, tubuhnya sudah terjungkal ke air laut.


"Jlebb....!"


"Aaaahh....!"


Gadis itu mengerang kesakitan.


"Ah, dia terkena anak panah!" seru Liu Hong seraya menunjuk ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Kalian jaga serbuan mereka, biar aku yang menolongnya!" kata Liu Ceng yang mempunyai keahlian renang dan menyelam.


Dia lalu terjun ke air dan berenang dengan cepat ke arah pemuda yang kini tampak tersembul di permukaan air dan berusaha untuk berenang dengan gerakan kaku karena dia telah terluka.


Sementara itu, Ban tok cepat mendayung perahunya ke arah perahu besar seperti yang dilakukan Liu Hong dan Liu Ceng.


Ketika banyak anak panah meluncur ke arah mereka, Liu Ceng memutar dayung menangkis sehingga banyak anak panah terpental. Liu Hong dan Ban tok berhasil menangkap masing-masing dua batang anak panah, lalu mereka melemparkan anak panah ke arah para perajurit di atas perahu besar.


Terdengar teriakan mengaduh dan empat orang perajurit di perahu besar itu roboh.


Melihat ini, perwira yang memimpin pasukan itu agaknya menjadi jerih dan dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk memutar perahu mereka dan meninggalkan tempat yang berbahaya itu.


Mereka agaknya maklum bahwa empat orang yang datang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apalagi mereka memang sudah mendengar akan berbahayanya Pulau Ular.


Liu Ceng berhasil merangkul gadis yang memakai baju biru yang tampaknya sudah lemas dan membawanya berenang mendekati perahu Ban tok. Pemuda itu lalu dinaikkan ke perahu dan mereka lalu mendayung perahu menuju pulau.


Pemuda itu agaknya pingsan. Sebatang anak panah menancap di pundak kanannya. Untung tidak terlalu dalam dan Liu Ceng segera mencabut anak panah itu selagi pemuda itu masih pingsan sehingga tidak merasakan kenyerian hebat.


Karena tidak membawa obat, maka Liu Ceng lalu merobek bajunya untuk membalut luka pada gadis itu. Agar darahnya tidak banyak keluar, dia menotok jalan darah di sekitar pundak.


Pakaiannya dari sutera biru dengan pakaian dalam putih. Melihat sutera yang dijadikan pakaian itu, dapat diduga bahwa dia gadis dusun yang sederhana.


Walaupun dalam keadaan pingsan pemuda itu masih memegang pedangnya, dan pedang itu oleh Liu Ceng diletakkan di perahu. Sebatang pedang yang indah, namun agak aneh karena ujungnya terbelah dua.


Sebagai ahli silat tinggi, Siauw Tek mengetahui tentang pedang itu, bahwa pedang yang ujungnya bercabang ini dapat dipergunakan untuk merampas senjata lawan.


Dua buah perahu itu tiba di tepi pulau dan pada saat itu, gadis baju biru itu siuman dari pingsannya. Begitu membuka kedua matanya, dia cepat bangkit dan segera duduk, lalu melompat ke daratan dalam sikap siap bertanding.


Akan tetapi ketika melihat orang-orang yang ada dihadapannya itu menghampirinya dan berdiri di depannya, dia membelalakkan sepasang matanya yang lebar dan bersinar tajam, memandang heran dan mengendurkan kembali urat-urat tubuhnya yang tadi siap membela diri.


"Kami bukan musuh, orang muda. Kami bahkan tadi membantumu, mengusir para perajurit Mongol dan Liu Ceng menolongmu dari air," kata Liu Tek sambil tersenyum.


"Ini pedangmu, terimalah." ucap Liu Ceng seraya memberikan pedang itu pada pemiliknya.


 Akan tetapi pemuda itu tidak menerima pedangnya, melainkan menjatuhkan diri berlutut.

__ADS_1


"Ah, terima kasih tuan sekalian telah menolong dan menyelamatkan nyawa saya, sungguh saya berhutang budi dan nyawa. Banyak terima kasih saya haturkan..." ucap gadis itu yang tiba-tiba dia terkulai dan terguling roboh. Gadis itu pingsan.


 Liu Ceng yang memiliki keahlian mengobati orang sakit tanpa disuruh lagi cepat menghampiri tubuh gadis yang terbaring tak berdaya itu.


Setelah memeriksa denyut nadi dan biji mata, ia bangkit dan berkata kepada ayah, ibu, dan adiknya.


"Bagaimana keadaannya, kakak Ceng?" tanya Liu Hong yang sejak tadi memandang ke arah gadis itu dengan jantung berdebar. Baginya, wajah itu tampan, dan gagah menarik sekali.


"Luka tusukan anak panah di pundaknya itu tidak berbahaya, akan tetapi aku mendapatkan bahwa dalam tubuhnya terdapat luka-dalam yang cukup hebat, yang membuat detak jantungnya lemah sekali dan jalan darahnya kacau. Kalau tidak segera diobati, keadaannya dapat membahayakan nyawanya." ucap Liu Ceng yang menatap gadis itu.


Mendengar ini, Ban tok berjongkok dan memeriksa kondisi gadis itu. Lalu ia bangkit berdiri.


"Aku tidak menemukan akibat keracunan dalam tubuhnya." ucap Ban Tok.


"Benar. Luka dalam tubuhnya bukan karena hawa beracun, melainkan oleh getaran hebat, mungkin pukulan sakti yang membuat jalan darahnya kacau dan ini mengancam jantungnya." jelas Siauw Tek seraya mengernyitkan kedua alisnya.


Siauw Tek lalu menyuruh Liu Ceng untuk menggotong gadis itu menuju perkampungan mereka.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...   ...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2