Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 257


__ADS_3

Ketika Hong Lan memasuki pekarangan dan melihat banyak orang mendatangi bangunan kuil di sebelah rumah besar itu, dia pun tertarik dan menuju ke kuil itu.


Di depan kuil itu dia melihat papan yang bertuliLan dengan huruf besar Aliran bumi dan Langit dan dia pun menahan senyumnya. Rupanya Lui Seng bekerja dengan amat baiknya menyebar-luaskan aliran baru itu.


Kalau Hong Cu masih hidup, tentu dia akan senang sekali. Kini karena ayahnya sudah tidak ada, Hong Lan yang senang. Aliran Bumi dan Langit Inilah sesuatu yang dapat dijadikan dasar untuk memperkuat diri.


Hon Lan lalu memasuki kuil dan melihat-lihat keadaan. Seorang anggota Aliran Bumi dan langit yang bertugas di kuil itu menghampirinya.


Dia seorang pria muda yang tampan dan usianya kurang lebih dua puluh tahun, namun sikapnya ramah sekali, keramahan yang merupakan syarat dari tugasnya.


"Selamat pagi, Pendekar. Dapatkah saya membantumu? Hendak sembahyang apakah? Pemujaan? Atau pernyataan syukur?" tanya pemuda itu dengan ramah.


Hong Lan tersenyum. Dia melihat betapa para petugas di kuil itu semua masih muda dan para tamu pria dilayani pelayan pria yang muda dan tampan, pura tamu wanita dilayani gadis-gadis yang manis pula. Tidak seperti kuil biasa. Mereka berpakaian seragam putih kuning, bukan jubah pendeta, dan hanya di dada mereka terdapat tanda anggauta aliran Bumi dan Langit.


"Terima kasih, aku ingin sembahyang dan ada permohonan," jawab Hon Lan.


Pelayan kuil itu mendekat dan bertanya dengan suara lirih.


"Permohonan apakah, Pendekar? Jodoh? Rejeki? Pangkat? Obat?" tanya pelayan itu.


"Aku ingin mengajukan permohonan agar berhasil menjadi ketua sebuah perkumpulan." jawab Hong Lan dengan berbisik.


"Pendekar masih semuda ini sudah memiliki cita-cita besar! Sungguh mengagumkan! Kedudukan ketua? Kedudukan itu sama dengan pangkat. Mari pendekar, anda jangan khawatir, saya akan memberi petunjuk bagaimana caranya melakukan sembahyang mengajukan permohonan." kata Pemuda itu terbelalak dan menatap wajah Hong Lan.


Dengan cekatan dan menyenangkan, pemuda itu lalu menjadi penunjuk cara bersembahyang. Hong Lan menurut saja dan setelah bersembahyang mengajukan permohonannya untuk "menjadi ketua perkumpulan" tanpa menyebut nama perkumpulan itu, dia dianjurkan untuk mengambil jawaban melalui batang-batang bambu yang bernomor.


Setelah memperoleh nomor jawaban, pelayan kuil itu mengambilkan kertas bertulis yang nomornya sama dengan nomor batang bambu yang terpilih oleh Hong Lan.


Hong Lan menerima kertas itu dan membaca syair yang ditulis dengan indahnya.


Bulan sedang cemerlang

__ADS_1


langit tiada awan


Hindari bayang-bayang


agar mencapai tujuan.


   


"Boleh saya tafsirkan syair jawaban ini untukmu, pendekar?" tanya si pelayan itu.


Hong Lan tersenyum. Tidak ditafsirkan pun dia sudah tahu, akan tetapi dia hendak melihat bagaimana petugas itu bergaya. Diberikannya kertas jawaban itu. Si pelayan yang masih muda membacanya lalu mengangguk-angguk dengan wajah cerah.


"Aih, ternyata sang Dewa Iblis memberkahimu, pendekar. Permohonanmu akan terkabul! Coba dengarkan. Bulan sedang cemerlang, langit tiada awan, berarti bahwa waktunya amat baik bagi pendekar dan tidak terdapat halangan sesuatu untuk mencapai tujuan. Akan tetapi di sini ada kalimat hindari bayang-bayang agar mencapai tujuan. Pendekar diperingatkan agar berhati-hati dan jangan tergoda, jangan goyah dan mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada kedudukan ketua yang hendak pendekar capai. Nah, jawaban ini jelas dan juga amat baik, bukan?" jelas si pelayan dengan mengulas senyumnya.


Hong Lan mengangguk dan tersenyum. Dia dapat menduga bahwa tentu semua jawaban di kuil itu mengandung harapan yang menyenangkan bagi para tamu, dengan diberi syarat tertentu.


Misalnya, maka jawaban itu tetap tepat karena bukankah di situ sudah diperingatkan tentang bayang-bayang yang harus dihindarkan. Kalau gagal berarti dia tidak berhasil menghindarkan bayang-bayang itu.


Sungguh jawaban yang amat cerdik. Menyenangkan dan memberi harapan sekaligus juga bersyarat untuk menjaga kegagalan.


"Semoga Raja Iblis memberkatimu, pendekar. Untung sekali pendekar datang hari ini karena mulai besok, selama tiga hari, kuil akan tutup dan tidak menerima tamu." kata si pelayan itu.


"Eh, kenapa?" tanya Hong Lan dengan penasaran.


"Perkumpulan kami akan mengadakan perayaan ulang tahun untuk ke tiga kailnya bagi ketua aliran kami." jawab si pelayan.


"Kenapa harus ditutup?" tanya Hong Lan yang penuh selidik.


"Karena kami seluruh petugas harus menghadiri upacara perayaan itu yang akan diadakan di sini. Terpaksa tidak melayani umum selama tiga hari." jawab si pelayan itu.


"Jadi yang boleh hadir hanyalah para anggauta aliran Bumi dan langit?" tanya Hong Lan yang seperti menginterogasi.

__ADS_1


"Benar, pendekar. Tentu saja ada pula tamu-tamu yang diundang, yaitu sahabat dari para pimpinan kami. Nah, selamat jalan, pendekar. Semoga pendekar berhasil menjadi ketua perkumpulan itu." kata si pelayan.


"Oya, perkumpulan apakah itu, pendekar?" lanjut tanya si pelayan.


Sambil melangkah pergi, Hong Lan menjawab singkat,


"Aliran Bumi dan Langit."


Pelayan itu terbelalak dan bengong memandang Hong Lan yang melangkah pergi meninggalkan kuil. Dia ragu-ragu Keliru dengarkah dia. Ataukah ada nama perkumpulan yang sama, Ataukah pemuda yang nampaknya kaya raya itu memang sinting.


Kemudian dia mengangkat pundak. Bagaimanap juga, pemuda itu telah memberi derma yang cukup banyak untuk kuil mereka. Dia pun melupakan Hong Lan dan melayani tamu lain. Hari itu memang banyak tamu berkunjung ke kuil karena sudah tersiar kabar bahwa kuil aliran Bumi dan Langit akan berlibur dan ditutup selama tiga hari.


Mendengar laporan petugas tadi bahwa mulai besok Aliran Bumi dan Langit itu akan mengadakan perayaan ulang tahun dari ketua aliran, Hong Lan tidak jadi berkunjung pada Mo Li.


Sebaliknya, dia mencari keterangan tentang aliran Bumi dan Langit kepada penduduk Ceng-touw dan mendengar bahwa ketua aliran Bumi dan Langit adalah Lui Seng, sedangkan Mo Li adalah ketua perkumpulan langit dan Bumi yang berdiri sebagai perkumpulan yang mengurus tentang dan penyebarannya.


Dia lalu kembali ke rumah penginapan di mana ia menyewa sebuah kamar. Kini tahulah dia bahwa murid mendiang ayahnya itu mengangkat diri menjadi ketua aliran Bumi dan Langit dan agaknya ada persekutuan antara dia dengan Mo Li yang nenjabat ketua perkumpulan Bumi dan Langit.


Baik sekali pikirnya dan dia mengambil keputuLanuntuk mengangkat diri menjadi ketua umum di atas kedua orang pemimpin itu, baik secara halus maupun Kasar.


Untuk itu dia telah membuat persiapan. Bagaimanapun juga, murid ayahnya itu masih setia menggunakan patung buatan ayahnya, yaitu patung Raja Iblis yang menyeramkan, persis wajah patung itu dengan topeng yang dibawanya untuk keperluan mengubah diri menjadi Raja Iblis.


Ilmu mengubah diri dengan penyamaran yang amat rapi ini dia pelajari dari ayahnya, berikut ilmu sihir dan penggunaan obat pasang yang mengeluarkan asap tebal.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2