Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 224


__ADS_3

Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka.


Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna hijau muda. Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain warna hijau tua. Ujung kain itu diikatkan di dadanya.


Gadis itu juga membawa buntalan kain warna hijau tua di punggung, dan mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis dunia persilatan yang biasa melakukan perjalanan seorang diri.


Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu.


Namun, gadis berpakaian hijau muda itu tidak peduli. Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli.


Tak berapa lama ada salah seorang pelayan restoran itu menyambutnya dengan sikap hormat dan ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak di pinggir.


Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku. Gadis itu menurunkan buntalan warna hijau tuanya itu, kemudian meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya. Gadis itu memesan makanan kepada pelayan rumah makan.


"Masakan apa saja yang paling lezat di rumah makan ini?" tanya gadis itu kepada salah seorang pelayan.


Salah seorang pelayan itu mengerutkan alisnya, mengamati gadis itu penuh perhatian. Bukan seorang gadis miskin, akan tetapi juga tidak dapat dikatakan seorang gadis bangsawan atau kaya raya, karena melihat pakaian dan perhiasan yang dipakainya.


Akan tetapi dia harus berhati-hati karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis pendekar yang kadang-kadang dapat bersikap galak.


"Nona, rumah makan kami menyediakan segala macam makanan, dari yang paling murah sampai yang paling lezat, harganya amat mahal." jawab pelayan itu.


Gadis itu tersenyum dan banyak pria menelan ludah.


"Tentu saja, yang lezat itu mahal. Dan aku berani pesan yang mahal tentu mampu pula membayarnya. Hayo katakan, apa saja yang paling lezat?" tanya gadis itu.


Pelayan itu mengangguk-angguk, takut gadis itu tersinggung, lalu menghitung dengan jari tangannya.


"Pertama ada cakar daging burung Hong, ada goreng lidah ki-lin, ada pula sup sirip raja hiu atau tim buntut badak, juga sup cakar harimau atau sup daging naga." jelas pelayan itu.

__ADS_1


Gadis itu bengong, lalu alisnya berkerut dan mukanya berubah merah, karena ia merasa dipermainkan pelayan itu


"Apakah otakmu belum miring? Jangan kau main-main!" seru gadis itu dengan geram.


Pelayan itu yang kini bengong karena dia sama sekali tidak merasa bersalah tiba-tiba dimaki orang. Mukanya berubah merah dan dia menjawab dengan sungguh-sungguh dan juga dengan suara mengandung penasaran.


"Aih, Nona. Siapa yang main-main? Kalau tidak percaya lihat saja ini daftar makanan, tentu saja kalau Nona pandai membaca!" Ucapan terakhir itu untuk membalas karena biasanya, gadis pendekar yang kasar mana dapat membaca tulisan.


Akan tetapi, gadis itu menyambar daftar makanan yang disodorkan, membacanya lalu tersenyum dengan manisnya.


"Wah, kaumaafkan aku, ya? Habis, siapa percaya ada masakan cakar daging burung Hong, kiranya daging burung ayam! Lidah ki-lin adalah lidah sapi, sirip raja hiu hanya sirip hiu biasa, tim buntut badak hanyalah buntut kerbau, cakar harimau hanya cakar domba dan daging naga hanya daging ular, hi....hi...hi....!" seru gadis itu yang kembali mengulas senyum lebarnya.


"Nah, kalau begitu, cepat hidangkan masakan butir-butir mutiara sawah, otot-otot dewa digoreng basah, gule daging singa, ditambah buah dewa dan minuman sorga!" lanjut seru gadis itu.


Pelayan itu bengong, sejenak tak mampu bicara dan memandang kepada gadis itu, mulai curiga jangan-jangan gadis itu yang miring otaknya. Melihat pelayan itu bengong, gadis itu tertawa kecil.


Pelayan itu tertawa dan tersipu, dan beberapa orang tamu yang mejanya berdekatan dan mendengar percakapan itu tertawa. Setelah pelayan itu pergi untuk memesankan makanan kepada koki, gadis itu duduk seorang diri dan tidak mempedulikan pandang mata banyak pria yana ditujukan kepadanya.


Bahkan mereka yang duduk membelakanginya, kini memutar leher seperti leher burung bangau, ada yang memandang dari samping, melirik sampai matanya seperti juling.


Tiba-tiba dua orang laki-laki muda, berusia kurang lebih dua puluh tahun dan agaknya sudah setengah mabuk karena agak terhuyung, menghampiri meja gadis itu sambil menyeringai.


Harus diakui mereka memiliki wajah yang cukup tampan dan melihat pakaian mereka jelas bahwa mereka adalah pemuda pemuda yang kaya.


"Nona, bolehkah kami menemanimu? Kasihan engkau seorang diri saja makan minum, tentu kurang menggembirakan, he-he!" kata yang salah seorang diantaranya


"Ha....ha..., benar sekali, Nona. Jangan khawatir, semua makanan dan minuman untukmu kami yang akan bayar!" kata yang ke dua.


Gadis berpakaian hijau muda itu mengangkat muka memandang dan ia tersenyum, sama sekali tidak marah, bahkan senyumannya manis dan penuh kesabaran.

__ADS_1


"Terima kasih," katanya lembut.


"Kalian baik sekali, akan tetapi sayang, saat ini aku ingin makan seorang diri saja dan tidak ingin diganggu." sambung gadis itu.


"Tapi, Nona, kami tidak mengganggu, bahkan ingin menggembirakan hati Nona Kami.........!" kata laki-laki itu yang belum selesai bicara, seorang di antara dua pemuda itu bicara, terdengar suara orang membentak,


"Kalian ini tikus-tikus kecil sungguh tak tahu diri! Nona kalian tidak mau diganggu, mengerti?"


Dua orang pemuda setengah mabuk itu membalikkan tubuhnya dan mereka hendak marah. Akan tetapi melihat bahwa yang berada di belakang mereka dan menegur itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh seperti raksasa, keduanya menjadi ketakutan.


"Maafkan, kami tidak ingin mengganggu.............."


Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar iti. Laki-laki yang bertumbuh besar itu sudah mencengkeram tengkuk dua orang pemuda itu dan mengangkatnya, lalu membawanya pergi, keluar dari ruangan itu.


Kemudian dia melemparkan dua orang pemuda itu keluar dari rumah makan diiringi suara ketawa di sana-sini. Melihat laki-laki yang bertumbuh besar itu mampu mengangkat dua orang pemuda dan melemparkan mereka seperti itu, dapat dilihat betapa kuat tenaganya.


Laki-laki bertubuh besar itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis itu sambil tersenyum.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2