Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 135


__ADS_3

Marahlah Mo Li walaupun mulutnya masih tersenyum dingin.


"Bagus! Sungguh tidak tahu malu kau Cu Ming! kau tidak ada bedanya dengan Mo Hui, bibimu itu! Tak tahu malu! Menyebalkan!" gerutu Mo Li.


Cu Ming dan Coa Siang hanya menundukkan kepa mereka. Dan tetap mendengarkan gerutuan Mo Li.


  


"Huh, tak tahu malu! kau boleh menjadi isteri pemuda ini kalau dia mampu ngalahkan aku!" seru Mo Li seraya menatap kearah Coa Siang, dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang pemuda yang tadinya duduk bersila diatas lantai disebelah Cu Ming itu.


Jari tangan wanita itu menotok kearah ubun-ubun kepalanya. Serangan maut yang amat keji! Dia pun cepat melempar tubuh ke belakang lalu berguling keluar dari ruangan itu, tiba di luar ruangan yang lebih luas.


Namun, Mo Li rupanya bertekad untuk membunuhnya karena wanita itu sudah meloncat mengejar dan menghujankan serangan kilat dari jurus-jurus ilmu silatnya yang ampuh, silat tangan kosong yang amat indah seperti tarian saja.


Akan tetapi, sesuai dengan namanya, indah seperti bunga namun berbahaya mengandung racun, dibalik keindahan gerakan ilmu silat ini terkandung ancaman maut.


Setiap totokan, tamparan, pukulan atau guratan kuku saja mengandung racun yang amat berbahaya.


 Untung bagi Coa Siang bahwa ketika dia melakukan perjalanan dengan Cu Ming, di sepanjang perjalanan kekasihnya itu memberi keterangan dengan jelas tentang ilmu-ilmu ini, juga tentang bahayanya kuku jari tangan Mo Li.


Maka, mendapat serangan bertubi-tubi yang amat hebat itu, Coa Siang tidak mau mengadu tangan, hanya mengelak saja ke sana-sini mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya.


Dan kalau terpaksa menangkis, dia selalu menangkis dari pergelangan tangan ke atas, melihat betapa beberapa serangannya yang bertubi tidak berhasil dan pemuda itu agaknya tahu akan rahasia tangannya yang berbahaya, membuat Mo Li menjadi makin marah.


Ia sama sekali bukan hendak menguji kepandaian Coa Siang, melainkan untuk membunuhnya. Maka, melihat betapa pemuda itu cukup gesit dan lincah sehingga dapat menghindarkan serangannya yang bertubi-tubi, hal ini dianggap menghinanya dan merendahkannya, maka ia pun mengeluarkan bentakan nyaring dan tahu-tahu ia sudah mencabut pedang dan kipasnya.


Dengan geram ia menerjang dan Coa Siang terkejut bukan main. Serangan pedang itu memang hebat, lebih berbahaya lagi karena disusul serangan kipas yang melakukan tiga totokan maut bertubi-tubi. Terpaksa dia membuang tubuhnya ke belakang, berjungkir balik dan terhuyung karena didesak terus.


Selagi dia terhuyung, pedang Mo Li menyambar ke arah lehernya, dan agaknya sulit bagi Coa Siang untuk meloloskan diri dari serangan yang dilakukan sepat sekali selagi tubuhnya terhuyung itu.

__ADS_1


"Trangg.... !"


Sebatang pedang menangkis pedang di tangan Mo Li dan nampak bunga api berpijar. Kiranya Cu Ming yang menangkis peang ibunya itu dengan pedangnya sendiri.


"Ibu, Coa Siang telah menjadi suamiku dalam arti yang sebenarnya! Bahkan dalam perjalanan kami ke sini, kami telah menjadi suami isteri yang selalu tidur sekamar! Kalau ibu membunuh suamiku dan aku sebagai isterinya tentu saja tidak rela!" seru Cu Ming yang berdiri tegak dengan pedang di tangan, agaknya ia siap untuk melawan ibunya sendiri demi membela orang yang dicintainya.


Coa Siang juga melompat di samping Cu Ming biarpun dia belum mengeluarkan senjata namun jelas bahwa sikapnya juga siap untuk membantu kekasihnya yang sudah dianggap isterinya.


"Kau... kau...!" seru Mo Li yang menjadi agak pucat mukanya. Ia menghadapi persoalan yang sulit.


Haruskah ia membunuh anak sendiri? Andaikata hal ini ia lakukan, ia harus menghadapi mereka berdua dan agaknya, mereka itu amat tangguh. Bagaimna kalau sampai ia tidak mampu menangkan mereka?


 "Kau...pergilah! Kalian pergi dari sini dan selamanya aku tidak mau melihat wajah kalian lagi! Sekali melihat, pasti akan kubunuh kalian!" bentak Mo Li yang sangat marah sambil menudingkan pedangnya ke arah pintu pekarangan depan.


Cu Ming mengenal betul watak ibunya, maka mendengar ucapan ibunya itu, hatinya girang bukan main. Baru saja ia dan kekasihnya terhindar dari ancaman maut yang mengerikan.


"Terima kasih, ibu!" seru Cu Ming seraya menarik tubuh suaminya.


Mo Li mengeluarkan air mata bukan karena sedih ditinggal pergi puterinya, melainkan karena kecewa dan menyesal bahwa puterinya berani membangkang terhadap perintahnya. Ia kehilangan seorang murid dan pembantu yang boleh diandalkan.


Demikianlah keadaan Mo Li, iblis betina ini hadir pula di tepi sungai kuning untuk ikut memperebutkan anak naga yang menurut perhitungan akan muncul di permukaan sungai kuning di daerah pusaran maut itu.


Dalam perebutan dua orang anak kecil yang menghisp darah anak naga itu, Mo Li berhasil membawa Hok Cu, seorang di antara dua orang anak yang diperebutkan itu dan membawanya pulang ke Ceng-touw.


"Bibi, aku ingin bertemu ayah dan ibuku!" kata Hok Cu ketika Mo Li membawanya pergi dari tepi sungai Kuning itu.


Mendengar hal itu Mo-li yang tadinya menggendong anak itu, lalu memenurunkannya, memandang dengan alis berkerut dan mata berkilat marah.


 "Jangan banyak lagak, Hok Cu! kau harus ikut dengan aku!" seru Mo Li dengan geram.

__ADS_1


 Akan tetapi Hok Cu menentang pandangan mata wanita iblis itu tanpa rasa takut sedikitpun.


Aku memang suka ikut denganmu, bibi, akan tetapi aku harus berpamitan dulu pada ayah dan ibuku!" seru Hok Cu.


Sejenak kedua orang itu saling pandang, sama-sama keras hati, dan akhirnya Mo Li tersenyum. Anak ini memiliki kekerasan hati yang tidak kalah olehnya, dan sudah pasti lebih keras hati dan lebih berani dibandingkan Cu Ming.


Timbul rasa saying dihatinya, peasaan sayang yang belum pernah dirasakan sebelumnya, baik terhadap anak kandungnya sekalipun.


"Siapakah orang tuamu dan di mana mereka?" tanya Mo Li yang tiba-tiba senyumnya dingin dan akan mendirikan bulu roma orang-orang disekitarnya kalau ada yang melihatnya karena senyum seperti itu mengandung kekejian yang luar biasa.


 "Ayahku bernama Hok Gi, seorang pejabat lurah di dusun Liong-cung dan kami sekeluarga, ayah, ibu, aku dan beberapa pembantu, sedang melarikan diri mengungsi karena ayah tidak mau melaksanakan kerja rodi kepada penduduk dusun. Kami seperahu, bersama keluarga Kian Beng seperahu pula. Keluarga Kian Si juga melarikan diri dari kerja paksa dan kami berkenalan di jalan. Kini ayah dan ibuku berada di perahu. Aku berpisah dari mereka ketika pancingku mendapatkan ular itu." jelas Hok Cu.


Mo Li mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mari kita mencari ayah dan ibumu!" seru Mo Li dan ia pun memondong Hok Cu lalu berlari secepat terbang menuju ke tepi sungai kuning dimana semalam menjadi ramai oleh para tokoh dunia persilatan yang berebutan anak naga.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


   


 


__ADS_2