Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 108


__ADS_3

 "Ayah, Ibu dan guru, saya telah melakukan perjalanan bersama Adik Hong dan tuan putri Yu, jadi saya berani menyatakan bahwa tuan putri Yu itu adalah seorang yang baik budi, juga gagah perkasa dan sama sekali tidak membenci kita yang merupakan bangsa Han." jelas Liu Ceng.


"Bagaimana dengan pendapatmu, keponakanku, Hua Li?" tanya Siauw Tek yang mengangguk-anggukkan kepala, lalu memandang Hua Li.


"Paman, saya belum pernah bergaul dengan dia, akan tetapi saya dapat menerangkan bahwa ketika saya bertanding melawannya, dia memiliki ilmu silat yang amat tangguh. Kalau saja saya tidak unggul dalam jurus meringankan tubuh, belum tentu saya dapat mengalahkannya. Juga dia gagah perkasa, tidak mau melakukan pengeroyokan dan dengan jujur mengakui kekalahannya." jawab Hua Li yang apa adanya.


Mendengar keterangan Liu Ceng dan Hua Li, lega dan giranglah hati Siauw Tek, Lu Siang, dan Ban-tok


"Akan tetapi kalau dia seorang Tuan Putri yang berkedudukan tinggi, bagaimanakah pernikahan itu akan diaturnya? Biarpun dia bangsawan tinggi, kita tidak ingin menikahkan puteri kita tanpa disertai peraturan umum. Kita tidak mau merendahkan diri dan harus menjaga kehormatan kita!" seru Siauw Tek.


"Tentu saja!" kata Lu Siang menyambut ucapan suaminya.


"Biarpun dia tuan putri, dia harus mengajukan pinangan secara resmi untuk menghormati keluarga kita!" seru Ban Tok.


 "Saya harap Ayah, Ibu dan guru tidak khawatir," kata Liu Ceng yang membela adiknya.


"Saya dan adik Hua yang menjadi saksi ketika Tuan putri Yu berjanji kepada Adik Liu Hong akan mengirim utusan secara resmi." lanjut kata Liu Ceng.


 "Bagus! Kalau begitu tidak ada masalah dan kami bertiga pasti menyetujuinya perjodohan itu!" kata Siauw Tek dan wajah Liu Hong berseri-seri dan kedua pipinya tampak kemerahan.


"Ayah dan Ibu, aku tidak mau melangsungkan pernikahan kalau tidak berbareng dengan pernikahan kakak Ceng!" seru Liu Hong yang tentu saja mengejutkan semua orang.


"Adik Hong...!" seru Ceng setengah menjerit karena terkejut dan heran.


"Ha...ha...! kau ini aneh sekali, Liu Hong. Bagaimana kalau Liu Ceng belum mempunyai tunangan atau pilihan hatinya? Sampai kapan kau akan menunggu?" tanya Siauw Tek.


"Ayah, kakak Ceng itu sudah punya pilihan yang paling tepat. Jadi ada baiknya kalau sekalian kita sama-sama melangsungkan pernikahan!" seru Liu Hong dengan semangatnya.


"Aih, jadi ia sudah mempunyai pilihan? Tentu saja kami bertiga senang sekali menjadi walinya dan mewakili orang tuanya yang sudah tiada." kata Siauw Tek.


"Yang meminang adalah Ayah sendiri!" kata Liu Hong sambil cekikikan menahan tawa.

__ADS_1


"Hei, gilakah kau, Liu Hong? Aku mengajukan pinangan kepada diriku sendiri? Apakah kau sudah mabok?" tanya Siauw Tek yang heran dan kedua orang wanita itu pun memandang Liu Hong dengan bingung.


"Ayah menerima pinangan sebagai wali atau wakil adik Hua dan Ayah mengajukan pinangan sebagai wali atau wakil Kakak Ceng. Dia juga sudah yatim piatu dan sebatang kara, maka sudah semestinya kalau Ayah sebagai paman mewakilinya, bukan?" jelas Liu Hong.


"Wah....! ini bagaimana ya? Masa aku mengajukan pinangan kepadaku sendiri?" tanya Siauw Tek yang bingung.


"Paman, aku masih punya ayah angkat di aliran sungai kuning. Jadi saya bisa pulang kesana untuk memberi kabar." kata Hua Li yang menatap pamannya.


"Kalau begitu, aku boleh mengantarkan mu adik Hua? kita sama-sama pergi ke perguruan bambu kuning." usul Liu Ceng.


"Iya, boleh saja kakakCeng." balas Hua Li yang mengulas senyumnya.


"Bagus! Bagus! Sekarang bereslah sudah kakak Ceng!" seru Liu Hong yang bersorak dan merangkul Liu Ceng.


Akan tetapi pada saat itu, Hua Li menangis tersedu-sedu! Gadis ini merasa terharu sekali karena teringat akan ayah ibunya yang tidak dapat menyaksikan kebahagiaannya itu. Nyonya Siauw atau Lu Siang maklum dan sambil merangkul Hua Li ia ikut menangis.


Ban Tek juga mendekati mereka dan merangkul sambil menangis terharu. Hanya Siauw Tek yang memandang sambil tersenyum, akan tetapi tanpa ia sadari kedua matanya menjadi basah.


Melihat kekasihnya menangis tersedu-sedu, Liu Ceng juga teringat kepada orang tuanya dan dia merasa kasihan kepada Hua Li dan juga terharu, maka dia menundukkan mukanya dan menahan suara tangisnya, akan tetapi air mata menetes-netes ke atas sepasang pipinya.


"Hei, apa-apaan ini? Kita mestinya bergembira ria, mengapa malah bertangis-tangisan? Hayo cepat hapus air matamu dan kita harus rayakan kebahagiaan ini dengan minum arak untuk mengucapkan selamat kepada tiga orang calon pengantin kita!"


Mendengar teriakan ini, semua orang mengusap air mata mereka dan tak lama kemudian, dengan mulut tersenyum namun mata basah, keluarga itu minum arak merayakan kebahagiaan mereka.


"Jadi kapan kalian akan berangkat ke perguruan bambu kuning?" tanya Siauw Tek yang penasaran.


"Besok pagi, kami mau mengistirahatkan tubuh kami setelah beberapa hari melakukan perjalanan yang jauh!" balas Liu Ceng dan ketiga orang tua itu menyetujuinya.


Kemudian mereka menuju ke kamar yang sudah disediakan, untuk beristirahat melepas lelah mereka.


Keesokan harinya, Hua Li dan Liu Ceng berpamitan pada semuanya untuk melakukan perjalanan ke perguruan bambu kuning, mereka hendak bertemu dengan Hua Tian. ayah angkat sekaligus guru Hua Li.

__ADS_1


Setelah Hua Li dan Liu Ceng meninggalkan pulau Ular, tiba-tiba banyak perguruan aliran hitam yang satu persatu melakukan penyerangan di pulau Ular.


Siauw Tek, Nyonya Siauw, Ban Tek dan Liu Hong hampir kewalahan menghadapi mereka yang bejumlah ratusan orang itu. Untung saja berdatangan perguruan aliran putih yang membantu para penghuni pulau Ular.


Keadaan mereka pun saat ini berimbang, dan kabar pulau Ular di serang, tercium juga oleh Hua Li dan juga Liu Ceng yang beberapa hari meninggalkan pulau Ular.


Mereka pun membatalkan perjalanan mereka ke perguruan bambu kuning, keduanya kembali ke pulau Ular.


Betapa terkejutnya Hua Li dan juga Liu Ceng pada saat melihat ada pasukan Mongol di depan mereka. Jumlah mereka hampir seribu orang memakai seragam lengkap dengan senjatanya.


"Itu bukankah pasukan Mongol? mau apa mereka?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Jangan-jangan mereka akan menyerbu pulau Ular dan merampas harta Karun kita!" tebak Liu Ceng.


"Sebaiknya kita percepat langkah kita agar cepat sampai lebih dulu di pulau Ular!" seru Hua Li yang kemudian mereka mengerahkan jurus meringankan tubuh, melesat menuju kembeli ke pulau Ular.


Dan benar saja pada saat mereka sampai di pulau Ular, pertumpahan darah itu telah terjadi antara para perguruan aliran hitam dan aliran putih.


"Boummm....! boummmm....!"


Tiba-tiba saja bola nanas yang meledak dan memakan banyak korban itu datangnya dari rombongan pasukan kerajaan Mongol yang sebagian sudah sampai di tepi pulau Ular.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2