Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 283


__ADS_3

Mereka itu berdiri berjajar tak bergerak, hanya memandang kepada Han Beng dan Hok Cu dengan mata mengancam.,


Melihat ini, Hok Cu tersenyum mengejek. Ia sudah berjanji kepada Han Beng untuk menghadapi Mo Li seorang dan tidak akan mencari keributan dengan Aliran Bumi dan Langit.


Maka, melihat betapa para anggota aliran bumi dan Langit yang semua mengepung tempat itu dengan sikap bermusuh, ia lalu mengerahkan tenaga dalam dan terdengarlah suaranya melengking nyaring dan menggetarkan seluruh tempat itu.


"Mo Li, kami datang untuk bertemu dan bicara dengan kau, untuk urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan aliran Bumi dan Langit! Kami tidak mempunyai urusan dengan Kalian. Keluarlah dan temui kami!" seru Han Beng.


Para anggota aliran tersebut terkejut sekali dan banyak di antara mereka yang terhuyung karena tidak tahan menerima getaran suara yang mengandung tenaga dalam yang amat kuatnya itu.


Pada saat ini mereka yang berdiri tepat di depan pintu kuil, terkuak dan terbuka. Muncullah Mo Li dan Lui Seng. Mo Li yang nampak cantik dan anggun, dengan pakaian kebesaran seorang wakil ketua, tersenyum dan memegang kipasnya, melangkah perlahan menghampiri Hok Cu dan Han Beng.


Di sampingnya berjalan Lui Seng, dan orang ini nampak lucu karena mengenakan jubah yang longgar, pakaian ketua akan tetapi di punggungnya nampak gagang goloknya. Dia pun melangkah dengan sikap angkuh dan tenang.


Di belakang mereka berjalan belasan orang yang nampaknya bengis dan kuat dan di antara mereka nampak pula empat orang pemuda yang dikenal baik oleh Hok Cu karena mereka itu bukan lain adalah Koan Tek, San Bo, Siok Boan dan Kian So. Tidak nampak pemuda yang mereka dengar sebagai pemimpin umum, yang dikabarkan sebagai penjelmaan Raja iblis itu.


Dengan gaya memandang rendah Mo Li menatap wajah Hok Cu penuh selidik, lalu ia tersenyum ramah.


"Aih kiranya muridku Hok Cu yang datang! Hok Cu, apakah kau merindukan guru kamu dan sengaja datang untuk menengoknya?" tanya Lui Seng dengan sedikit senyum sinisnya.


Hok Cu hanya diam saja, dia tak mau menggubris setiap omongan Lui Seng.


"Guru kamu sekarang ini sudah menjadi wakil ketua dan kau akan aku beri kedudukan yang sesuai dengan kepandaianmu, Hok Cu!" seru Mo Li.


"Mo Li.....!" seru Hok Cu yang membentak.

__ADS_1


"Tidak perlu banyak bujuk rayu. Sejak kau dan Lui Seng ingin membunuhku beberapa tahun yang lalu, aku tidak menganggap kau sebagai guruku lagi!" lanjut seru Hok Cu yang geram.


Mo Li mengerutkan alisnya, dia terkejut karena Hok Cu sudah berani membentaknya.


"Muridku yang murtad, memang sejak kecil kau selalu membangkang dan murtad. Kalau kau sudah tidak menganggap aku sebagai gurumu, lalu mau apa kau datang ke sini?" 5anya Mo Li yang penasaran.


"Mo Li aku sengaja mencarimu untuk menuntut pertanggungan jawabmu atas kematian Ayah dan Ibuku. Mengakulah, apa yang telah kau lakukan kepada Ayah dan Ibuku di perahu pada waktu itu!" seru Hok Cu dengan lantang.


Kembali Mo Li mengerutkan alisnya dan mengamati wajah bekas murid itu.


"Hok Cu, apa maksudmu bertanya seperti itu? kau melihat sendiri ketika kita naik ke perahu Ayah dan Ibumu. Mereka luka-luka, kemudian mereka tewas keracunan...." jawab Mo Li yang belum selesai.


"Mereka tewas keracunan secara mendadak, ketika kau berada di dekat mereka!" kata Hok Cu yang memancing.


Mo Li tersenyum, sikapnya tenang saja karena ia percaya akan kekuatan dipihaknya.


"Bohong! Bohong dan fitnah yang kau katakan itu, Mo Li!" seru Han Beng dengan marah.


Kemudian Mo Li memandang kepada pemuda itu dan sinar matanya mencorong marah.


"Siapakah kau? apakah benar kau yang dijuluki pendekar naga sakti itu?" tanya Mo Li yang menaruh curiga.


"Benar. Namaku Han Beng, kau bicara bohong tadi, Mo Li. Guruku tidak akan meracuni orang! Dia seorang pendekar besar, selamanya tidak menggunakan racun. pendekar kecapi hanya mengandalkan kaki tangan dan sabuknya sama sekali tidak pernah menggunakan racun!" seru Han Beng yang membela gurunya.


"Oh, jadi kau ini hanya murid Hua Li ya? Tapi aku pernah melihatmu. Ah, Benar ..kau .....kau bukankah kau anak yang dulu bersama Hok Cu telah menemukan anak naga dan menghisap darah anak naga itu?" tanya mo Li yang penasaran.

__ADS_1


"Benar! Dan aku harap kau cukup gagah untuk mengakui perbuatanmu dan mau mempertanggungjawabkan atas perbuatan kamu pada waktu itu.


"Rupanya kau terpengaruh pada pemuda ini, Hok Cu?" seru Mo Li yang penasaran kepada Hok Cu.


"Aku telah mendengar sendiri keterangan pendekar kecapi dan aku percaya kepadanya! Dan aku memang lebih percaya bahwa kau yang telah membunuh Ayah dan bundaku dengan racun, Pertama, karena kaulah orang yang sudah biasa menggunakan racun, sesuai dengan julukanmu. Kedua biarpun aku pernah menjadi muridmu, aku sudah mengenal watakmu yang jahat dan kejam, bahkan pernah aku nyaris tewas di tanganmu dan tangan palsu Lui Seng ini. ⁷⁷kah engkau demikian pengecut dan penakut untuk mengakui bahwa yang membunuh Ayah Ibuku adalah kau?" jelas Hok Cu


Wajah wanita itu berubah merah karena marah dimaki sebagai pengecut dan penakut oleh bekas muridnya sendiri. Bagi orang golongan sesat, membunuh bukan merupakan perbuatan yang mealukan atau dianggap buruk, bahkan dianggap sebagai perbuatan yang membanggakan hati! Maka, ia pun sama seka tidak merasa malu, bahkan dengan sikap bangga ia mengakui perbuatannya.


"Bocah sombong kau Hok Cu! Kalau benar demikian, kau mau apa? Memang, aku telah membunuh Ayah Ibumu karena pada waktu itu aku menganggap mereka sebagai penghalang bagiku untuk mengambil kau sebagai murid. Dan aku merasa menyesal mengapa tidak kubunuh sekalian pada waktu itu sehingga sekarang kau tidak hanya mendatangkan kepusingan saja!" seru Mo Li.


Biarpun ia sudah menduga sebelumnya, tetap saja wajah Hok Cu berubah bucat seketika, kemudian menjadi merah sekali ketika ia mendengar pengakuan dari Mo Li itu. Dengan sinar mata mencorong seperti berapi, tubuh tegak lurus dan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk kanannya menuding ke arah muka Mo Li.


"Mo Li! Bagus kau telah mengakui perbuatanmu yang keji! Sekarang bersiaplah kau! Aku datang untuk menagih hutang, membalas atas kematian Ayah dan Ibuku!" seru Hok Cu yang dengan suara yang nyaring dan penuh kemarahan.


Kemudian Hok Cu melangkah maju menghadapi wanita yang pernah menjadi gurunya itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2