Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 169


__ADS_3

Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain telah terkena racun, juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.


"Baiklah, melihat wajahmu, biar aku mengampuni muridmu ini, Kian Sian. Berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan tenaga dalammu." kata Mo Li yang mengeluarkan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya dan menyerahkan bungkusan obat itu kepada Kian Sian.


Kian Sian menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun seorang tokoh dunia persilatan yang berpengalaman. Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup mwngobatinya.


Akan tetapi mengobati luka beracun akibat pukulan Mo Li, tentunya akan sulit mencari penawaranya.


Kemudian Mo Li meninggalkan tamunya yang mulai mengobati San Bo lalu ia lari menghampiri muridnya, membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian dan kemudian mereka berdua pun pulang.


"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Hok Cu. Kau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu!" seru Mo Li dengan geram.


"Maaf, guru. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!" seru Hok Cu yang menghentikan langkahnya.


"Hmm, kau tahu bahwa mereka itu dijadikan korban gurumu ini untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi." kata Mo Li yang kemudian menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Hok Cu.


"Kau seperti anak kecil saja dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh langsung oleh sesembahan kita. Buktinya, begitu kau mengacaukan upacara penyerahan korban dan kau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah kau akan dapat menyelamatkan diri? kau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian kau mati tersiksa!" lanjut kata Mo Li dengan panjang lebar.


"Terima kasih, guru." jawab Hok Cu dengan tangan kiri mengepal dan tangan kanan menangkupnya seraya menundukkan kepala.


"Tentu mereka telah guru bunuh, bukan?" tanya Hok Cu.


"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang benama San Bo tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang wajah gurunya dan dia sudah meminta ampun." jawab Mo Li.


"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan membunuhnya!" seru Hok Cu dengan suara mengandung kemarahan.

__ADS_1


"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Kia Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukankah kau belum diperkosanya?" jelas sekaligus tanya Mo Li.


"Tapi aku malu, guru! aku merasa dihina oleh mereka. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!" seru Hok Cu.


Mo Li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain. Setelah peristiwa malam itu, Hok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siang Koan dan San Bo yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu.


Hanya dengan jurus-jurus silat dari Mo Li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun.


Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, seperti menculik orang-orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi. Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya.


Rupanya Mo Li sendiri mengenal watak muridnya, maka dari itu dia tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.


Watak Hok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Mo Li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu ju mempunyai perasaan sayang kepadanya.


... ****  ...


Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis. Biarpun sikap dan kata-katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang.


Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.


"Harap tuan mema'afkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan tuan untuk memberi sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi tuan untuk menolong saya." kata pengemis itu.


Pemilik toko obat yang usianya sudah ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya.


Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.

__ADS_1


"Hemm, sungguh kau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali." kata pemilik toko obat itu sambil mengelus jenggotnya.


 "Kau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar kau ditangkap!" lanjut bentak si pemilik toko obat itu.


Pengemis muda itu menahan senyumnya.Sedikit pun dia tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemo'oh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal.


Kemudian pengemis itu membungkuk lalu pergi seenaknya.


Pengemis muda itu adalah Han Beng, setelah lima tahun yang lalu dia bertemu dengan guru yang kedua, yaitu Kwe Ong si Ketua pengemis dan dia telah menjadi muridnya.


Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari.


Pernah Han Beng mengajukan rasa penasaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2