
San Bo meniru koan Tek dan dia pun sudah menggerakkan pasang goloknya, membantu Koan Tek dan mengeroyok Hok Cu.
"Huh, dasar buaya-buaya kecil, memang sudah sejak dahulu kalian harus kuhajar!" seru Hok Cu yang mengejek dan dia pun menggerakkan pedang tumpulnya untuk menyambut serangan dua orang pemuda.
"Trang.....trang....trangg ............. !"
Pedang yang tumpul itu berkelebat dengan kepalan yang sulit diikuti pandang mata oleh dua orang pemuda itu dan mereka terkejut setengah mati ketika merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata seperti lumpuh.
Kekejutan mereka bertambah ketika mereka melihat betapa senjata mereka itu patah ujungnya
"Hik...Hik...Hik....! Apakah kalian takut? Hayo berlutut dan menyerah menjadi tawanan Perwira Yap!" seru Hok Cu seraya tersenyum mengejek menatap wajah mereka yang berubah pucat itu.
Koan Tek adalah putera tokoh sesat Koan Bok yang terkenal sebagai majikan Pulau Hiu. Dia sudah menganggap diri sendiri sebagai seorang tokoh yang tinggi ilmu silatnya. Dengan keangkuhannya, dia tak gentar menghadapi pedang butut yang ternyata ampuh itu tentu saja dia tidak sudi untuk berlutut dan menyerah sedemikian mudahnya.
Demikian pula dengan San Bo, murid Kok Sian seorang tokoh yang menguasai daerah Pegunungan Liong San. Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menyerang lagi dengan sepasang goloknya yang sudah buntung ujungnya.
Koan Tek juga membantunya dan tiga batang senjata itu berkelebatan mendesing-desing, menyerang Hok Cu bagaikan hujan lebat. Namun gadis dengan amat mudahnya menghindarkan diri dengan loncatan ke sana-sini seraya tertawa kecil.
Sementara itu, Siok Boan dan Kian So, dua orang murid Lui Seng tentu saja merasa malu kalau harus menyerah begitu saja. Apalagi mereka melihat guru mereka yang menjadi kwtua dari aliran Bumi dan Langit, masih berdiri tegak dan menantang. Mereka adalah murid ketua tentu saja kedudukan mereka cukup tinggi dan terhormat di perkumpulan itu.
Kini mereka berdua lalu menggerakkan golok besar di tangan mereka, mengeroyok Han Beng yang hanya memegang sehelai sabuk sutera putih. Dari kanan kiri mereka menyerang golok mereka berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Han Beng.
Pemuda tinggi besar ini dengan sikap tenang menghindarkan diri dengan geseran-geseran kaki yang amat gesit. Kalau dia menghendaki tentu dengan sekali pukul dia akan mampu merobohkan bahkan menebaskan dua orang lawan yang terlalu lemah baginya itu.
Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang, karena dia hanya ingin membantu Perwira Yap untuk menangkap mereka. Oleh karena itu, dia pun hanya mengelak ke sana-sini sambil menannti kesempatan baik untuk membuat mereka berdua itu tidak berdaya tanpa harus melukai mereka.
Dalam hal ini, Han Beng yang berhati-hati tegar tidak melukai lawan kalah cepat dengan Hok Cu.
__ADS_1
Gadis itu sendiri tidak mau membunuh dua orang pengeroyoknya karena memang dia berjanji membantu perwira Yap hanya untuk menangkap para pimpiran aliran Bumi dan Langit, akan tetapi ia bukan pantas melukai, bahkan ingin menghajar ke dua orang pemuda yang pernah bersikap kurang ajar terhadap dirinya.
Kalau membayangkan perbuatan dua orang pengeroyoknya itu, Koan Tek dan San Bo ketika ia masih menjadi murid Mo Li ingin rasanya ia membunuh mereka. Koan Tek pernah mengganggunya secara keterlaluan hingga terpaksa ia menggunakan akal memancing Koan Tek yang ketika itu lebih lihai darinya untuk masuk laut.
Hok Cu lebih pandai berenang maka menyeret Koan Tek ke laut dan. perutnya kembung. Apalagi San Bo Bersama saudara seperguruannya, pernah menangkapnya dan ingin memperkosanya.
Untung muncul Mo Li yang membunuh Tek Su dan hanya melukai San Bo. Mengingat perbuatan mereka itu saja, ingin benar rasanya menghajar mereka sampai sepuas hatinya.
Akan tetapi, Hok Cu masih tahu bahwa di situ hadir biksu Hek Bin gurunya yang telah berhasil merubah sifatnya yang tadinya ganas dan keras. Ia rasa tidak enak dan malu kepada gurunya itu kalau sampai ia bertindak terkeras terhadap dua orang pengeroyoknya itu.
"Hyaaaaattttt ........!"
Tiba-tiba Hok Cu mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedang tumpul di tangannya nyambar dengan amat cepatnya.
"Trak.....! Trak....! Trak....!"
Terdengar bunyi tulang patah dan dua orang itu terpelanting dan tangan kiri memegang pundak kanan yang terasa nyeri bukan main karena tulang pundak kanan mereka telah remuk oleh tamparan tangan Hok Cu tadi.
Empat orang perajurit pengawal segera maju dan meringkus mereka, membelenggu tangan mereka dan membawa mereka keluar.
Ketika melihat Hok Cu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya, Han Beng merasa tidak enak. Dia pun mengeluarkan bentakan nyaring, sabuk sutera putih di tangannya menyambar tahu-tahu telah membelit golok besar dua orang kakak beradik seperguruan dan sekali tarik, golok mereka telah terlepas dari pemiliknya.
"Prang....!"
Setelah melepaskan golok-golok itu ke samping kembali sabuk itu berkelebat dua kali kini menjadi seperti tongkat dan ujungnya menotok jalan darah di dada kedua orang lawan. Siok Boan dan Kian Su mengeluh dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi karena telah tertotok dengan cepat empat orang pengawal menyeret mereka keluar dari ruangan itu.
Kemudian Hok Cu dan Han Beng berhadapan dengan Mo Li, Lui Seng, dan Hong Lan. Hok Cu yang tak ingin kedahuluan Han Beng karena ia ingin sekali menghadapi Mo Li, segera melangkah maju.
__ADS_1
"Kalian bertiga adalah tokoh-tokoh utama aliran Bumi dan Langit. Nah, sekarang aku yang maju lebih dulu. Siapa di antara kalian bertiga yang ingin melawati aku? Kutantang Mo Li untuk melawan aku!" seru Hok Cu dengan lantang.
"Dan aku menantang Hong Lan untuk melawan aku!" kata Han Beng mendahului, maklum bahwa di antara mereka bertiga, Hong Lan yang paling pandai dalam ilmu silatnya.
"Apa kalian tidak mengandalkan pengeroyokan?" tanya Mo Li dengan sikap yang curiga.
"Mo Li kami bukanlah orang-orang berjiwa pengecut seperti kalian?" bentak Hok Cu dengan geram.
"Kita bertanding satu lawan satu, tidak ada yang boleh dibantu orang lain. Di sini ada guruku biksu Hek Bin yang menjadi saksi, dan ada pula perwira Yap dan para perajurit yang menjadi saksi dalam pertarungan ini!" lanjut seru Hok Cu yang menatap Mo Li dengan tajam.
"Bagus! Kalau begitu, kau akan mampus di tanganku!" bentak Mo Li yang sudah menjadi nekat karena ia pun tidak melihat jalan keluar.
"Nanti dulu, Mo Li!" seru Lui Seng sambil melangkahkan kakinya maju ke depan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1