
Kakek tinggi besar hitam seperti raksasa itu sudah meloncat kedalam medan pertempuran, kedua lengannya diayun dan angin menyambar ke arah Han Beng yang pada saat itu sedang menahan pedang samurai lawan dengan tongkatnya.
Dengan cepat dia melepaskan pedang itu dari tempelan tongkatnya sambil melompat kebelakang. Namun, angin pukulan itu tetap saja masih membuat dia terhuyung kebelakang. Dari belakang, ada beberapa orang pembantu Beng Cu itu menyambutnya dengan serangan pedang dan tombak.
Han Beng melempar tubuhnya ke bawah menggelinding ke arah mereka dan begitu tongkatnya bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh tertotok sambungan lutut mereka.
Dia meloncat bangun kembali dan kini bersikap hati-hati, karena dia maklum betapa lihainya Beng Cu itu.
Sementara itu Beng Cu melihat betapa pemuda itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bahkan sambil menggelundung dia dapat merobohkan pula dua orang pembantunya yang cukup lihai.
Beng Cu menjadi marah dan penasaran. Kalau dia tidak cepat merobohkan pemuda itu, tentu nama besarnya akan tercemar.
Dengan sekali menggerakkan tubuhnya, dia telah meloncat ke depan Han Beng. Dan mulailah dia menyerang dengan gerakan aneh dan cepat, juga kedua tangannya yang menyambar-nyambar itu mengeluarkan suara berkerotokan seolah-olah semua tulangnya Itu saling beradu, dibarengi menyambarnya angin dahsyat.
Serangkaian serangan terdiri dari sembilan pukulan dan cengkeraman yang bertubi-tubi datangnya dapat dihindarkan oleh Han Beng dengan elakan dan loncatan kesana-kemari. Gerakan tubuhnya lincah sekali sehingga dia berhasil lolos.
Namun, kembali dia terhuyung karena serangan-serangan itu mendatangkan angin pukulan yang mendorong dengan kuatnya. Sebagai balasan, ketika dia melihat kesempatan setelah lewatnya serangkaian serangan itu, ujung tongkatnya bergerak lengan ujungnya berputaran kedepan muka lawan.
Kalau lawannya tidak lihai sekali, tentu akan bingung dan pandang matanya kabur melihat ujung torgkat berputaran didepan mata seperti itu. Namun tidak demikian dengan Beng Cu yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga memiliki pengalaman yang matang dalam soal perkelahian.
Sudah banyak dia menghadapi lawan-lawan tangguh, maka biarpun ilmu tongkat yang dimainkan pemuda itu aneh dan membingungkan, namun dia tidak menjadi gentar dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyambar kedepan, mencengkeram ke arah pusar lawan sedangkan tangan kirinya diputar sedemikian rupa untuk menangkap ujung tongkat itu.
Tentu saja Han Beng tidak mau tongkatnya tertangkap lawan. Dia menarik tongkatnya dan menghindarkan cengkeraman itu dengan memiringkan tubuh ke kanan.
Akan tetapi, dari atas, tangan kiri yang diputar tadi telah menyambar, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya dan tangan kanan yang luput mencengkeram tadi pun sudah menyambar dari samping dengan pukulan tangan terbuka yang dahsyat sekali.
Pemuda itu sempat terkejut, cepat dia mengelak lagi sambil melompat ke atas, kini menggunakan gerakan silat yang dipelajarinya dari gurunya Hua Li.
Gerakannya cepat dan tubuhnya bagaikan bersayap saja. Dari atas, tongkatnya kembali menyambar ke bawah, kearah tengah kepala lawan. Kini kakek itu yang terkejut.
__ADS_1
"Aihhhhh.............!"
Beng Cu mendengus, akan tetapi biarpun dia sudah mengelak sambil menggunakan kedua tangan untuk melindungi kepala, berusaha menangkap tongkat, namun tongkat itu menyeleweng ke samping dan berhasil mencium pundaknya.
"Tukk....!"
Pundak itu dilindungi kekebalan yang luar biasa sehingga ujung tongkat terpental. Keduanya terkejut. Han Beng terkejut karena hampir saja tongkat yang berhasil menotok pundak Itu patah, sudah melengkung, dan sebaliknya kakek itupun terkejut karena biarpun dia mampu menyelamatkan pundaknya dengan perlindungan kekebalan, namun tetap saja pundaknya terasa nyeri, tanda bahwa tenaga di dalam tongkat itu sungguh amat kuatnya.
Mau tidak mau, Beng Cu terhuyung. Akan tetapi pada saat itu, Hai Jin sudah menyerang lagi dengan samurainya disabetkan dari kanan ke kiri membabat pinggang Han Beng.
Kalau mengenai sasaran, agaknya pemuda itu akan sukar menyelamatkan diri dan tubuhnya tentu akan buntung menjadi dua potong.
Dia melempar tubuh ke belakang, tongkatnya diputar di sebelah kirinya menyambut pedang itu yang begitu bertemu tongkat Ialu ikut terputar dan hampir terlepas dari tangan kakek tua renta itu. Hai Jin sangat terkejut, dengan cepat menarik kembali samurainya dan melompat ke belakang dengan muka pucat.
Pada saat ini Beng Cu sudah mengerahkan tenaga dalam dan menggunakan ilmu hitamnya. Dia mengeluarkan suara menggereng seperti auman singa marah dan se galanya tergetar hebat oleh auman itu yang menggetarkan dan bisa melumpuhkan lawannya.
Pe.uda itu teringat akan nasihat kedua orang gurunya kalau menghadapi serangan yang mengandalkan kekuatan suara atau ilmu hitam. Dia mengerahkan tenaga dalam di tubuhnya, dihalau ke seluruh tubuh sampai menembus ke otak pada saat serangan datang, dia sudah pulih kembali, tidak lagi merasa Iumpuh dan dia dapat membuang tubuhnya kiri sehingga cengkeraman kedua tangan lawan itu luput dan dari kiri.
Han Beng sempat mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambung lawan.
"Tukk....!"
Totokan itu tak mengenai sasaran, meleset dan pada saat itu, dalam keadaan terhuyung, Beng Cu yang lihai itu telah mengirim tendangan dengan kakinya yang panjang dan besar.
"Desss........!"
Tendangan itu mengenai paha Han Beng dan tubuh pemuda ini terlempar jauh ke atas, dan tubuh itu tidak turun kembali.
Semua orang terbalak memandang ke atas. Kiranya, Tubuh pemuda itu disambar oleh seorang kakek yang pakaiannya serba putih. Kakek itu menarik tubuh Han Beng melalui atap yang sudah berlubang dan mereka pun lenyap.
__ADS_1
"Ayo kejar....!" teriak Beng Cu bersama Hai Jin, Beng Cu mendahului melompat ke atas genteng.
Namun sia-sia. Kakek itu bersama Han Beng telah lenyap entah ke mana. Kakek yang melarikan Han Beng itu bukan lain adalah pendekar tua Hek Bin.
Han Beng tidak terluka walaupun dirinya terkena tendangan, karena sudah tidak mampu menghindarinya lagi, dia melindungi tubuh dengan tenaga dalam, bahkan membiarkan tubuhnya ringan sehingga ketika terkena tendangan yang amat kuat itu, tubuhnya seperti sebutir bola melambung ke atas.
Tahu-tahu ada orang yang menyambarnya. Han Beng hendak meronta, akan tetapi ketika mengenal kakek yang pernah dilihatnya ketika melerai pertikaian antara para biksu dan para pendekar, dia pun diam saja.
Pemuda itu membiarkan dirinya dibawa lari sampai jauh.
Di dalam hutan yang sunyi Hek Bin melepaskan tubuh Han Beng dia memandang heran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak terluka dan berlutut di depannya memberi homat.
"Eh, kau sama sekali tidak terluka?" tanya pendekar tua Hek Bin itu yang penasaran.
"Tidak, kakek!" jawab Han Beng.
Hek Bin menganggukkan kepalanya dan memandang Han Beng dengan rasa penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1