
Sementara itu Liu Ceng dan Liu Hong duduk di bangku dekat dinding menyaksikan latihan kedua pendekar itu.
"Nona Yauw, perlihatkan jurus tongkatmu kepadaku!" seru ketua Kui yang bersemangat.
"Silakan, ketua!" kata Yauw Lie sambil melintangkan tongkatnya depan dada.
"Sambut seranganku, Nona!" Ketua itu mulai menyerang dan dia menyerang dengan sungguh-sungguh sambil mengerahkan tenaga dalam sekuatnya.
Ketua Kui benar-benar ingin menguji jurus tongkat Yauw Lie agar yakin sampai di mana tingkat kepandaian gadis itu. Kalau sekiranya ilmu tongkat dari Yauw Lie tidak berapa tinggi tingkatnya, lebih baik dia menolak bantuannya. Dia tidak ingin jika gadis itu celaka karena membantunya.
"Syuutt...!"
"Trak-trak-trak-trak-trak...!"
Lima kali tongkat di tangan ketua Kui menyerang dengan pukulan dan tusukan dahsyat sekali, akan tetapi kelima serangan itu selalu dapat ditangkis dengan baik oleh Yauw Lie.
Bahkan ketua itu merasa betapa kedua tangannya yang memegang tongkat tergetar hebat! Dia terkejut bukan main akan tetapi masih belum yakin dan melanjutkan se-rangannya dengan jurus-jurus pilihan yang dahsyat sekali
Akan tetapi, bukan saja semua serangannya dapat dihindarkan Yauw Lie dengan tangkisan kuat atau elakan yang cepat. Bahkan kini gadis itu mulai membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah hebatnya.
Gerakan pemuda itu amat ringannya, juga mengandung tenaga dalam yang membuat tangan ketua itu tergetar berulang kali.
Hati ketua Kui menjadi gembira sekali dan dia juga mengeluarkan seluruh jurus simpanannya. Namun Yauw Lie selalu mampu mengimbanginya.
Hampir seratus jurus lewat dan keduanya masih terus bertanding dengan serunya. Kini, ketua itu mulai berkeringat, sedangkan Yauw Lie masih biasa saja dan jelaslah bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ketua itu akan kalah dan kehabisan tenaga dan napas.
Ketua Kui merasa puas sesudah menguji jurus tongkat Yauw Lie.
"Cukup, Nona!" seru Ketua Kui sambil terhuyung ke belakang ketika kedua tongkat itu bertemu kuat sekali.
Yauw Lie menghentikan gerakannya dan dengan tongkat tersembunyi di belakang lengan kanannya, dia memandang ketua itu dengan senyum dan tampak masih segar.
"Bagaimana, ketua? Apakah aku memenuhi syarat?" tanya Yauw Lie sembari mengulas senyumnya.
__ADS_1
Ketua Kui terengah-engah, wajahnya berseri dan dia merangkap kedua tangan depan dada.
"Ma'afkan atas sikapku yang meragukan kemampuanmu nona Yauw! Aku sungguh seperti Si Buta tak melihat tingginya langit! Kalau engkau mau membantuku dengan jurus tongkatmu tadi, hatiku menjadi tenang karena harus kuakui bahwa ilmu tongkatmu membuat jurusku tidak ada artinya sama sekali!" seru ketua Kui yang juga mengulas senyumnya.
"Ketua terlalu memuji," kata Yauw Lie dan tiba-tiba dia melontarkan tongkat merah itu ke atas.
Ketua Kui, Liu Ceng dan Liu Hong memandang dengan heran, akan tetapi segera mata mereka terbelalak ketika melihat betapa tongkat merah itu kini berputar lalu melayang di udara seperti hidup dan meluncur ke arah rak senjata, kemudian dengan tepat memasuki lubang rak senjata sehingga tongkat itu kembali ke tempatnya semula.
Kalau hanya melempar biasa saja agar tongkat itu masuk kembali ke lubang masih terbilang wajar. Akan tetapi apa yang diperlihatkan gadis itu sungguh luar biasa. Tongkat itu tadi berputar-putar di udara lalu melayang seolah mencari sasarannya.
Liu Ceng dan Liu Hong yang baru sekarang menyaksikan kehebatan jurus tongkat Yauw Lie ketika melawan ketua tadi, bengong dan kagum bukan main kepada sahabat baru mereka yang memang sudah mengagumkan hati dengan sikapnya yang sopan dan lembut.
"Wah, nona Yauw! jurus apakah yang kau perlihatkan dengan tongkatmu tadi? Tongkatmu seperti hidup dan dapat bergerak sendiri!" seru Liu Hong sambil melompat menghampiri Yauw Lie.
"Ah, sama sekali tidak aneh. Itu adalah semacam jurus Sihir yang pernah kupelajari dari para pendeta Lhama di Tibet," jawab Yauw Lie dengan merendah.
"Akan tetapi...... bagaimana benda mati dapat bergerak seperti hidup?" tanya Liu Ceng yang penasaran.
"Benda itu digerakkan oleh kekuatan gelombang pikiran." jawab Yauw Lie.
"Tentu saja dapat, ketua Kui." jawab Yauw Lie.
"Aduh, hebat sekali! Aku ingin mempelajari jurus itu, Apakah adik Yauw bisa ajari aku jurus itu?" tanya Liu Hong yang merasa kagum bukan main kepada gadis cantik, lembut dan sopan, ternyata juga berkepandaian tinggi.
Diam-diam ia teringat kepada Hua Li yang pernah dicintanya sebelum ia tahu bahwa gadis itu kakak misannya. Dan ia membandingkan keduanya. Agaknya Yauw Lie ini tidak kalah hebat, baik kecantikan, sikapnya maupun kepandaiannya. Dan Liu Hong kini benar-benar telah jatuh cinta kepada gadis yang dikaguminya itu.
"Adik Hong, mempelajari ilmu yang tinggi bukan semudah membalikkan telapak tangan," kata Liu Ceng.
"Membutuhkan bakat, waktu, dan ketekunan. Adik Yauw mana bisa menggunakan banyak waktu untuk mengajarkan jurus sihir kepadamu!" seru Liu Ceng yang gemas akan sikap adiknya.
"Memang benar seperti yang dikatakan kakak Ceng, untuk mempelajari jurus sihir harus membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan bertingkat. Pertama harus mampu menguasai diri sendiri, lalu menguasai orang lain, kemudian menguasai semua mahluk, baru dapat menguasai benda mati." jelas Yauw Lie dengan tersenyum.
"Wah, jadi begitu ya!" seru Liu Hong yang sangat kagum dengan
__ADS_1
kemampuan jurus sihir Yauw Lie.
Ketua Kui menyuruh anak buahnya menyiapkan dua buah kamar untuk tiga orang tamunya yang kini dia hormati. Dia juga mengadakan perjamuan untuk menghormati mereka dan sebelum saat adu jurus tiba yaitu besok lusa, tiga orang tamu itu diberi kebebasan sepenuhnya tinggal di perkampungan perkumpulan pengemis tongkat Merah.
Sejak bulan muncul anak-anak diperkampungan perkumpulan pengemis tongkat merah bermain-main di luar rumah, bernyanyi-nyanyi dan menari dengan gembira.
Setelah malam agak larut, anak-anak disuruh masuk rumah oleh orang tua mereka.
Di dalam taman bunga di belakang gedung rumah induk tempat tinggal ketua Kui, tampak Liu Ceng duduk seorang diri. Taman itu indah sekali menerima sinar bulan, ditambah udara yang segar dan penuh keharuman bunga, membuat Liu Ceng melamun.
Ketika kenangan muncul dalam hatinya, teringat akan keadaan dirinya yang telah kehilangan orang tua, kehilangan guru, hidup sebatang kara dan kini bahkan pesan ayahnya tak dapat ia laksanakan dengan baik, perasaan sedih menyelimuti hatinya.
Kemudian muncul bayangan Hua Li, gadis yang dicintanya. Gadis itu ternyata telah menyukai laki-laki lain. Ini berarti ia telah kehilangan segala-galanya, kehilangan orang-orang yang dicintanya.
Hatinya semakin tertekan rasa duka. Akan tetapi kesadarannya mengingatkan bahwa membiarkan pikirannya sendiri memperdalam rasa iba diri, hal itu hanya akan melemahkan hatinya dan dapat berakibat mengganggu kesehatan tubuhnya.
Maka Liu Ceng menghela napas panjang berulang kali, mengumpulkan hawa udara segar dan perlahan-lahan semua kesenduan hatinya dapat dikurangi.
"Kakak Ceng,"
Terdengar suara seorang gadis, dengan lembut sekali memanggil Liu Ceng di belakangnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1