
Nona cantik itu kemudian menyusut air matanya dan menganggukkan kepalanya.
"Saya mengerti dan terima kasih kepada kakek guru dan kepadamu, kakak Beng. Saya akan berusaha untuk melenyapkan atau setidaknya melupakan kedukaan ini." kata Yi Hui yang mulai mengulas senyumnya.
"Ha....ha...ha....!"
Tiba-tiba Kwe Ong tertawa dan watak aneh dari pengemis tua ini sudah diketahui oleh Yi Hui apalagi Han Beng, karena itulah mereka tidak merasa heran lagi dan mereka memandang kepada kakek itu.
"Kedukaan tidak dapat dilupaka Yang dapat dilupakan itu tentu akan teringat kembali. Kita tidak mungkin dapat lari dari duka, karena yang berduka itu adalah kita sendiri, batin kita sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat lari dari diri kita sendiri? Duka bukan sesuatu yang terpisah dari kita. Duka adalah suatu kenyataan yang harus kita hadapi, kalau kita ingin agar kita dapat bebas seluruhnya daripada duka, bukan bebas dari duka yang ini atau yang itu. Duka adalah suatu keadaan dari batin kita sendiri, disebabkan oleh pikiran kita sendiri, ditimbulkan oleh perasaan iba diri yang berlebihan." nasehat Kwe Ong.
"Lalu bagaimana kita harus berbuat agar terlepas daripada duka, kakek guru?" tanya Yi Hui yang memandang Kwe Ong.
"Duka adalah kita, maka tidak mungkin kita, yang terdiri dari darah dan daging dan pikiran ini, yang menginginkan ini dan itu, termasuk keinginan bebas dari duka, dapat membebaskan diri sendiri dari duka. Kita harus menghadapi duka itu, menerimanya sementara memuji atau mencelanya, menerimanya sebagai suatu kewajaran, mengamatinya dengan penuh kewaspadaan dan terutama sekali, kita menyerahkan segalanya kepada Tuhan." kata Kwe Ong yang berhenti sejenak.
Laki-laki tua itu menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara pelan-pelan.
"Sikap menyerah dengan penuh kepercayaan akan kekuasaan Tuhan inilah yang akan memberi kekuatan kepada kita untuk menerima kenyataan seperti apa adanya, termasuk menerima apa yang kita namakan duka seperti sesuatu yang nyata dalam diri kita. Tanpa mengeluh, tanpa menolak, tanpa mengejar. Kekuasaan Tuhan akan membuka mata kita, mendatangkan kewaspadaan bahwa duka dan suka itu sama, saja. Itu hanya merupakan permainan pikiran yang selalu mendambakan kesenangan dan menjauhi kesusahan. Pikiran kita selalu dijadikan medan perang
halaman yg dicari tidak antara pencarian kesenangan dan penghindaran kesusahan, maka kita terombang-ambing antara susah senang, suka duka yang tiada hentinya sepanjang hidup!" kata Kwe Ong panjang lebar.
"Apakah Kau mengerti Nona?" sambung tanya Kwe Ong.
Yi Hui menganggukkan kepalanya dan berkata, "Saya hanya mengerti sedikit, dan saya akan mencoba untuk merenungkannya dan mudah-mudahan Tuhan akan memberi kewaspadaan itu kepada saya, kakek guru."
"Bagus, nah sekarang bagaimana dengan kau, Nona? Keluargamu sudah binasa, akan tetapi karena kini Setan tua Sin Kai sedang berusaha memperbaiki perkumpulan pengemis sabuk merah dan aku yakin kalau rumah orang tuamu akan dapat diperbaiki dan dikembalikan kepadamu. Nah, langkah apa yang akan kaulakukan sekarang?" tanya Kwe Ong.
Mendengar pertanyaan kakek pengemis yang aneh itu, Yi Huu menarik napas panjang.
__ADS_1
"Kakek guru, saya sudah tidak ingin kembali lagi ke rumah ayahku, karena hal itu hanya akan mendatangkan kenang-kenangan pahit saja." jawab Yi Hui.
"Adik Hui, kalau engkau tidak kembali ke rumahmu, lalu engkau akan pergi kemana?" tanya Han Beng dengan suaranya yang mengandung penuh perasaan iba.
Nona cantik itu memandang wajah Han Beng.
"Kakak Beng, saya ingin mencari Pamanku, dia adalah kakak dari mendiang Ibuku, namanya Tang Gu dan dia tinggal di desa Bambu kuning di lembah sungai kuning."
"Tempat itu yang cukup jauh dari sini, adik Hui." kata Han Beng.
"Han Beng, sebaiknya kau antar Nona ini untuk mencari Pamannya sampai mereka bertemu." pinta Kwe Ong yang secara tiba-tiba.
"Memang sudah tiba saatnya kau berpisah dariku. Aku sendiri akan kembali ke Hok-kian mencari para sahabatku." sambung Kwe Ong.
"Tapi guru, guru belum sehat benar? Guru membutuhkan teman untuk merawat guru!" kata Han Beng yang terkejut dan dia baru ingat kalau dia sudah lima tahun lamanya berguru kepada raja pengemis itu.
Sebuah kantung dari dalam bajunya dan ternyata kantung itu terisi beberapa potong emas murni yang amat berharga Han Beng terkejut sekali. Selama ini dia dan gurunya mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan jalan mengemis. Kiranya diam-diam gurunya menyimpan emas sekian banyaknya.
"Tapi, guru. Bukankah untuk keperluan itu kami dapat....!" seru Han Beng yang langsung dipotong oleh Kwe Ong.
"Hush....! Kau mau mengajak Nona Hui mengemis? Tak tahu malu kau! Sudahlah, cepat pergi dan mulai saat ini kau pun tidak perlu lagi berpakaian pengemis seperti aku!" seru Kwe Ong yang menggerakkan tubuhnya dan seketika lenyap di balik pohon-pohan dalam hutan itu.
Yi Hui pun menghela napas panjang dan memandang wajah Han Beng.
"Aih, aku hanya menjadi seorang pengganggu saja. Bukan hanya aku merepotkan kau, juga menjadi penyebab perpisahan antara kakak Beng dan guru Kakak Beng." kata Yi Hui yang tak enak hati.
"Sama sekali tidak, adik Hui! Kau sama sekali tidak merepotkan, karena memang sudah menjadi tugasku untuk membantu sesama hidup sekuasaku, dan tentang perpisahanku dengan guru, hal itu memang sudah tiba saatnya seperti dikatakan guru. Sudah lima tahun aku belajar ilmu dari guru, dan memang menurut perjanjian, aku hanya belajar lama lima tahun." jelas Han Beng.
__ADS_1
"Wah kakak Beng hebat! Belajar ilmu silat hanya lima tahun akan tetapi sudah dapat menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sedemikian hebatnya!" seru Yi Hui yang memuji Han Beng.
"Ah, tidak semudah itu, adik Hui. Sebelum belajar dari guru kwe Ong, aku telah mempelajari ilmu silat dari guruku yang pertama." kata Han Beng yang merendah.
"Ah, begitukah? Dan kalau boleh aku mengetahui, siapa gerangan gurumu yang pertama itu?" tanya Yi Hui yang penasaran.
Han Beng memandang Nona yang cantik itu dan mengulas senyumnya.
"Dia berjuluk pendekar Kecapi dan namanya Hua Li. Aku belajar lima tahun dari guru pertama itu." jawab Han Beng.
"Pendekar kecapi? Hua Li?" gumam Yi Hui yang samar-samar dia seperti mengingat sesuatu.
"Sudahlah mari kita mulai dengan perjalanan kita, adik Hui. Perjalanan cukup jauh dan harus dilakukan dengan cepat. Mudah-mudahan saja aku akan berhasil mengantar kau sampai bertemu dengan Pamanmu itu." kata Han Beng yang mulai melangkahkan kakinya.
Yi Hui menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Han Beng, dengan hati masih bertanya-tanya dengan sosok si Pendekar Kecapi itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1