Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 92


__ADS_3

"He...he...hi...hi....! kakak Ong tikus-tikus ini hendak menangkap kita! Mari kita kirim mereka ke neraka menyusul Bao!" seru Mayat betina yang terkekeh.


"Aku setuju adikku!" balas Beng Ong yang menatap para perwira itu dengan tajam.


Kakek dan nenek itu siap untuk membasmi para perwira dan perajurit itu, sedangkan semua orang yang berada di situ hanya menonton dengan hati tegang.


"Tahan......!"


Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dua sosok tubuh berkelebat dan seorang pemuda dan seorang gadis sudah berdiri di depan Beng Ong dan Si Mayat betina. Mereka adalah Yauw Li dan Liu Hong.


Para perwira dan perajurit yang segera mengenal gadis itu sebagai putri raja Yu, dan segera menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.


Kakek dan nenek itu tidak banyak mengenal keluarga kerajaan, akan tetapi mereka mengenal putri Raja Yu karena dikenal sebagai seorang putri yang tinggi ilmu silatnya. Akan tetapi tentu saja mereka berdua tidak merasa lebih rendah derajatnya dan tidak menyambut putri raja itu dengan penghormatan yang berlebihan.


Mereka berdua hanya menghormati Kaisar, apalagi Beng Ong yang menganggap dirinya sebagai penasihat Kaisar dan sudah memiliki jasa besar. Maka kini menghadapi Yauw Lie atau putri raja Yu, Beng Ong tetap bersikap angkuh.


"Tuan putri, kenapa tuan putri menahan kami berdua yang hendak memberi hajaran kepada tikus-tikus ini?" tanya Beng Ong yang menatap para perwira itu satu persatu.


"Beng Ong. Lihat, dengan siapa kau berhadapan!" bentak Yauw Lie yang mengeluarkan sebuah lencana emas tanda kerajaan dan memperlihatkannya kepada Beng Ong dan Si Mayat betina.


   


Beng Ong dan Si Mayat Betina terkejut sekali melihat lencana emas yang ada cap dari kaisar itu karena lencana itu menandakan bahwa dia berhadapan dengan orang yang telah diberi kekuasaan oleh Kaisar dan dapat bertindak atas nama Kaisar. Karena itu dia seolah berhadapan dengan Kaisar sendiri.


Dengan cepat Beng Ong memberi hormat dan si Mayat Betina mengikutinya.


"Maaf, kami tidak tahu bahwa Paduka adalah utusan Yang Mulia Kaisar yang diberi lencana emas, tuan putri Yu! Kami siap mentaati perintah Paduka!" ucap Beng Ong dengan hormat.

__ADS_1


Semua orang juga terkejut ketika mengetahui bahwa gadis yang ada dihadapan Beng Ong itu adalah seorang putri raja Mongol yang memiliki kekuasaan besar.


Terutama sekali Liu Ceng. Ia terkejut dan heran, sama sekali tidak pernah mengira bahwa Yauw Lie adalah seorang putri raja yang menyamar.


Pada saat itu, Liu Hong menghampiri Liu Ceng dan keduanya saling berpelukan.


"Adik Hong dia...dia itu putri raja Mongol?" bisik Liu Ceng yang belum yakin benar dengan apa yang dia lihat dan dengarkan.


Liu Hong melepaskan pelukan dan menganggukkan kepala seraya mengulas senyumnya.


"Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan, kakak Ceng." bisik Liu Hong.


Liu Ceng ikut merasa senang melihat adik angkatnya berbahagia. Karena perhatian mereka ditujukan kepada Yauw Liu dan kakek nenek iblis itu, maka Liu Ceng belum sempat mempertemukan Liu Hong dengan Hua Li, kakak misan pemuda dari Pulau Ular itu.


Sementara itu Yauw Lie atau putri raja Yu menatapbtajam ke arah Beng Ong.


"Beng Ong! kau bersalah membunuh seorang panglima kerajaan. Sepatutnya engkau ditangkap dan diadili, akan tetapi mengingat bahwa Lim Bao adalah muridmu, biarlah kami menganggap bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya, tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintah. Akan tetapi kalian berdua harus memperlihatkan bukti bahwa kalian tidak bermaksud memberontak terhadap kerajaan dengan membantu kami mencari harta karun!" perintah Yauw Lie.


Kini Yauw Lie memutar tubuhnya menghadapi mereka yang telah berkumpul di situ. Mereka semua kini memandang gadis yang ternyata seorang tuan putri raja yang besar kekuasaannya sehingga sepasang kakek nenek iblis seperti Beng Ong dan Si Mayat betina juga gentar dan tunduk kepadanya.


"Untuk kalian semua yang terhormat. Kita semua tahu untuk apa kita berbondong-bondong datang ke pegunungan tengkorak ini. Jelas bahwa kita semua datang dengan satu tujuan, yaitu mencari dan mendapatkan harta karun yang kita kira berada di sini karena setelah tempat penyimpanan harta itu didapatkan di Bukit Sorga, yang ditemukan hanya peti kosong yang ada ukiran ular kobra di dalamnya. Tentu anda semuanya mengetahui bahwa harta karun itu sebetulnya menjadi hak milik Pemerintah Kerajaan......" kata Yauw Lie yang tiba-tiba saja ada yang memotongnya.


"Harta karun itu adalah harta karun Kerajaan Han...!"


Seru suara lantang memotong ucapan putri raja itu. Ketika semua mata memandang, ternyata yang berseru itu adalah seorang gadis muda cantik jelita yang gagah perkasa, di rambutnya terdapat setangkai bunga putih.


Cu Liong memandang puterinya, Cu Ai dan dia bangga atas keberanian puterinya itu walaupun sebetulnya dia tidak setuju puterinya membela Kerajaan Han yang sudah jatuh. Dia adalah seorang tokoh yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan kerajaan.

__ADS_1


Yauw Lie atau putri raja Yu menoleh dan memandang kepada Cu Ai matanya mencorong dan dia tersenyum.


"Kerajaan Han telah dikalahkan Kerajaan Mongol yang kini berkuasa dan menurut peraturan perang, semua milik yang kalah menjadi barang rampasan dan menjadi hak milik yang menang. Apalagi tadinya harta itu merupakan harta curian seorang pejabat yang korup dari Kerajaan Han dan disembunyikan di Bukit Surga dekat kota raja. Maka, pemerintah yang berhak memiliki harta karun itu." jelas Yauw Lie.


"Harta dari kerajaan mana pun berasal dari milik rakyat, maka rakyat pun berhak atas harta karun itu!"


Tiba-tiba ada yang berseru dan sekali ini yang berseru dengan suara amat nyaring karena mengandung tenaga sakti, adalah Hua Li si pendekar kecapi.


Yauw Lie menengok lalu dia melihat seorang gadis cantik dan membawa kecapi di pundaknya yang bicara lantang itu berdiri dekat Liu Ceng dan Liu Hong, maka dia dapat menduga bahwa tentu gadis itu yang bernama Hua Li si pendekar kecapi.


Dia tersenyum dan memandang kagum karena sudah banyak dia mendengar pujian Liu Hong yang bercerita tentang Hua Li.


"Tepat sekali ucapan saudari tadi! Saudari tentu Hua Li si pendekar kecapi yang terkenal itu, bukan?" kata Yauw Li dengan lantang.


"Memang tepat, harta milik pemerintah itu berasal dari rakyat, maka sudah sepatutnya kalau dipergunakan untuk kepentingan rakyat pula! Pemerintah Kerajaan Mongol juga bermaksud menggunakan harta itu untuk kesejahteraan rakyat jelata. Akan tetapi kami sangsi apakah kalau harta karun itu terjatuh ke tangan anda sekalian, juga akan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat? Ataukah hanya untuk kepentingan golongan sendiri dan akan menimbulkan kekacauan sehingga akibatnya bahkan merugikan rakyat?" lanjut tanya Yauw Lie.


Suasana menjadi hening sejenak setelah Putri Raja Yu itu berhenti bicara.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


  


__ADS_2