Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 228


__ADS_3

Komandan pengawal itu cepat berlari menghampiri dan dia membantu pembesar tinggi kurus itu turun dari kereta.


Dengan membungkuk penuh hormat, kini pembesar setempat yang menjadi tuan rumah makan itu mempersilakan tamunya untuk memasuki rumah makan.


Tamunya berpangkat lebih tinggi dan datang dari kota raja, melakukan tugasnya sebagai utusan jaksa Tinggi di kota raja untuk melakukan inspeksi dan penyelidikan terhadap para pejabat di daerah.


Semua pejabat sudah mendengar bahwa Jaksa Tinggi mengutus seorang petugas melakukan penyelidikan di sepanjang Sungai Kuning, maka tentu saja setiap kali datangi sebuah kota, dia disambut nn dielu-elukan oleh para pejabat daerah.


Apalagi tugasnya itu sungguh amat mendatangkan rasa takut dalam hati para pejabat.


Ketika dua orang pembesar ini memasuki ambang pintu, mereka disambut oleh pemilik rumah makan dan semua karyawannya.


"Selamat datang, Liu Tai!" seru pemilik rumah makan itu, diikuti oleh para pelayannya dan mereka semua berlutut, seperti menghadap seorang kaisar saja.


"Jangan memberi hormat kepadaku saja! Hayo cepat kalian sambut dengan penuh kehormatan kepada Liu Tai dari kota raja ini!" perintah pemilik rumah makan pada para pelayannya.


"Selamat datang, Liu Tai yang mulia!"


Mereka berseru dan kini mereka memberi hormat kepada Liu Tai secara bersamaan.


Pembesar tinggi kurus itu menggerakkan tangan kanannya dengan sikap tak sabar.


"Sudahlah, kalian bangkitlah bekerja!" seru Liu Tai.


Pemilik rumah makan dan para karyawannya segera bangkit dan dua orang tamu agung itu persilakan duduk di tempat kehormatan.


Sebuah kereta kedua muncul dan turunlah sepuluh orang gadis cantik dengan pakaian warna-warni, mereka masuk diikuti oleh serombongan penabuh musik.


Segera tempat itu penuh dengan bau harum yang keluar dari pakaian para penari dan penyanyi itu, dan tak lama kemudian, setelah semua pemain musik dan gadis penghibur itu memberi hormat kepada dua orang pejabat tinggi, terdengar suara musik mengiringi nyanyian dan tarian para gadis itu.


Pesta pun dimulai, hidangan lezat yang masih mengepul panas dikeluarkan dan dua orang pembesar itu mulai makan minum sambil menonton tarian lemah gemulai dan nyanyian yang merdu merayu. Suasana menjadi gembira sekali.

__ADS_1


Para pasukan pengawal menjaga tempat itu dengan ketat, bahkan orang-orang yang menonton di luar rumah makan, diusir pergi. Tamu-tamu baru hanya diperkenankan masuk melalui pintu samping yang langsung menuju ke ruangan samping di mana Hok Cu dan Hong Lan yang masih duduk.


Mereka sudah selesai makan, akan tetapi memperpanjang waktu duduk mereka dengan memesan tambahan minuman dan makanan kecil. Sejak tadi, kedua orang muda ini nonton pertunjukan yang mereka anggap amat menarik itu.


Para penyanyi dan penarinya, selain cantik-cantik, juga pandai. Mereka adalah gadis-gadis penghibur yang paling terkenal, didatangkan dari lain kota dengan bayaran mahal.


Tiba-tiba pemuda bercaping lebar tertawa lirih sehingga Hok Cu menengok dan memandang kepadanya. Pemuda itu sedang memandang ke arah dua orang pembesar, dan seolah-olah dia tahu bahwa suara tawanya itu menarik perhatian Hok Cu.


"Nona, lihat, bukankah pembesar gendut itu sungguh merupakan seorang penjilat besar? Orang sekitarnya bersikap hormat dan menjilat kepadanya, dan lihai sikapnya ketika menemani dan melayani pejabat tinggi kurus itu. Menjilat-jilat yang berlebihan sekali!" bisik Hong Lan.


"Dia seperti seekor babi gemuk yang mendengus-dengus, ha...ha...!" lanjut Hong Lan yang membuat Hok Cu juga tersenyum geli.


Mereka berani bicara lirih karena kegaduhan dan nyanyian itu membuat mereka dapat leluasa bicara tanpa khawatir terdengar dua orang pembesar itu.


"Hmm, orang yang suka menjilat ke atas biasanya suka pula menginjak ke bawah. Contoh seorang pembesar yang korup dan sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya!" kata Hok Cu dengan sikap muak yang membayangkan sikap sebagian besar pembesar yang wataknya seperti itu.


"Aku ingin sekali melihat mereka semua itu telanjang! He..he...!" bisik Hong Lan seraya terkekeh.


"Telanjang? Apa maksudmu?" tanya Hok Cu yang merasa curiga kalau-kalau pemuda yang mendatangkan rasa kagum dalam hatinya itu ternyata hanya seorang pemuda hidung belang dan kata-katanya tadi dimaksudkan untuk melihat para gadis penghibur itu telanjang.


"Ya, bertelanjang bulat! Ha...ha...., tentu lucu sekali melihat pembesar itu telanjang bersama pengawalnya dan para karyawan rumah makan. Mereka hanya merupakan sekumpulan orang telanjang, seperti babi-babi yang tidak ada perbedaannya, hanya gemuk dan kurus tentu saja, akan tetapi tak seorang pun tahu mana pembesarnya, mana pengawal dan mana pula pelayan rumah makan! Aku berani bertaruh, tak seorang pun yang akan tahu perbedaannya!" jawab Hong Lan dengan tetap mengulas tawanya.


"Ha...ha...ha...!"


Hok Cu tertawa, kiranya itu yang dimaksudkan pemuda itu beda sekali dengan yang dia maksudkan.


"Aku tahu perbedaan antara mereka kalau mereka ditelanjangi!" bisik Hok Cu.


Hong Lan menghentikan tawanya tiba-tiba saja dan mukanya berubah aneh seperti orang marah.


"Si Pejabat akan memaki-maki dan mengancam yang menelanjangi, pengawalnya akan mencak-mencak dan mengamuk, sedangkan karyawan itu hanya akan menangis dan minta ampun." jawab Hok Cu sambil tersenyum yang tak melihat perubahan raut wajah Hong Lan yang penasaran.

__ADS_1


Berubah pula pandang mata Hong Lan dan kini dia tertawa bergelak sehingga Hok Cu menoleh ke ruangan tengah, khawatir kalau suara ketawa itu akan mengganggu pesta pembesar.


"Ha...ha...ha..., kau benar, Nona! Akan tetapi itu pun karena mereka masih mengenakan pakaian ke dua, yaitu kedudukan dan pangkat. Coba kalau pada suatu hari pembesar itu dipecat dan seorang karyawan diangkat menggantikan pangkatnya, tentu keadaannya menjadi terbalik pula. Ha...ha...ha...!" seru Hong Lan dengan tawa khasnya.


"Ha...ha...ha....!"


Hok Cu tertawa pula dan mengangguk. la teringat akan wejangan yang pernah di dengarnya dari gurunya yang ke dua, yaitu Biksu Hek-bin.


Pendekar Sakti itu pernah bicara tentang penghormatan yang dilakukan orang pada umumnya dengan menceritakan sebuah peristiwa. Seorang pemuda meninggalkan kampungnya sampai bertahun-tahun dan dia berhasil menjadi seorang yang kaya raya.


Pada suatu hari, dia pulang ke kampungnya dan sengaja mengenakan pakaian biasa, pakaian petani sederhana seperti ketika dia berangkat dan dikunjungilah seorang sahabatnya.


Sahabat ini menerimanya dengan acuh, bahkan sikapnya menghina seolah kedatangannya itu hanya mengganggu saja, dan ada kecurigaan kalau-kalau dia datang untuk berhutang.


Sikap sahabatnya ini membuat dia penasaran dan dia pun pergi. Beberapa hari kemudian dia datang kembali, sekarang mengenakan pakaian indah dan serba mahal, serba baru.


Seketika sikap sahabatnya itu berubah. Dia diterima dengan ramah, dipersilakan duduk dan dijamu hidangan yang enak!. Pemuda itu lalu menanggalkan baju dan sepatunya, menggantungkan baju di kursi, menaruh sepatu di meja dan dia pun dengan sikap hormat mempersilakan baju dan sepatu itu untuk makan minum.


Sahabatnya menegur sikapnya yang aneh ini dan dia menjawab,


"Bukankah yang kau hormat itu pakaian dan sepatuku? Bukan diriku yang kau suguhi hidangan, melainkan pakaian dan sepatuku inilah!" seru pemuda itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2