
Namun pada saat ini mereka harus menghadapi dua orang muda gemblengan Hua Tian yang telah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, dan baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya sudah terdesak hebat oleh pedang Hua Li dan juga Chen Bun.
"Kalian semua lekas tangkap dua setan itu!" seru Tek San yang keras terdengar berpengaruh dan tidak seorang pun di antara anak buahnya yang berani menentang atau mengabaikan perintah ini, karena mereka sudah mengenal kekejaman Tek San.
"Baik ketua!" jawab para anak buah Tek San itu dengan setianya.
Dengan senjata-senjata tajam di tangan, mereka bergerak maju untuk mengeroyok. Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras sekali.
"Kalian semua mundur!" bentak Hua Tian yang masih berada di dalam perahunya. Suaranya lebih keras dan nyaring dibanding suara Tek San, sehingga para bajak terkejut dan sebagian besar mundur.
Ancaman ini berhasil juga, karena lebih dua puluh orang segera mundur dan melihat ke arah Hua Tian itu dengan hormat, tapi masih ada juga yang berani maju dengan maksud mengeroyok Hua Li dan Chen Bun.
Hua Tian mengangkat tangan dan mengayunkan tangannya ke arah mereka dan pada saat itu juga beberapa orang bajak sungai itu tiba-tiba tersayat dan bersimbah darah.
Terlihat ujung pedang Hua Tian mengalir darah segar. Melihat kemampuan Hua Tian itu, para bajak menjadi ketakutan dan tidak berani maju lagi.
Sementara itu, Chen Bun yang memainkan pedangnya secara cepat sekali telah berhasil mengurung Lauw Seng sehingga kakak seperguruan Tek San itu hanya dapat menangkis saja tanpa dapat membalas sedikitpun juga.
"A Bun, jangan membunuhnya!" seru Hua Tian dan Chen Bun segera mengubah gerakan pedangnya dengan secepat kilat.
Dia menggunakan ujung pedang menusuk ke arah jalan darah di tenggorokan lawan dengan gerak jurus Burung pelatuk Mematuk pohon.
Karena gerakan ini cepat sekali, maka Lauw Seng hampir saja tak dapat mengelak, dan dia melompat ke belakang sehingga terjengkang.
Sementara itu Hua Li juga berhasil merobohkan lawannya. Gadis ini mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat dan mendesak terus sehingga lawannya bertempur sambil mundur berputar-putar. Napas Tek San telah terengah-engah dan wajahnya telah menjadi pucat.
Pada saat yang tepat, Hua Li mengeluarkan kecapinya. Gadis itu pun mulai memetik kecapi dan menghasilkan suara yang menusuk telinga.
"Teng....teng...teng....!"
"A Bun! tutup telinga kamu!" seru Hua Tian yang mengetahui Hua Li sedang menggunakan jurus kecapinya untuk melawan Tek San.
Mendengar seruan dari Hua Tian, Chen Bun segera menutup telinganya.
Sementara Tek San yang mendengarkan alunan petikan kecapi, mendadak mengeluarkan teriakan menyeramkan. Kepala bajak sungai yang jahat itu roboh terguling dengan kedua telinga yang mengeluarkan darah segar.
Maka binasalah Tek San, dan para anak buah bajak sungai yang melihat kedua kepala mereka dengan mudah terbunuh oleh Hua Li dan Chen Bun, dengan segera mengangkat senjata hendak mengeroyok kedua anak muda itu.
"Kalian masih belum jera ya? Siapa melawan berarti mati!" seru Hua Tian yang kemudian menempatkan dirinya di depan para bajak sungai dengan posisi menghadang.
"Seraaaang....!"
__ADS_1
Nampaknya mereka tak ada kata jeranya, setelah seruan itu mereka segera mengepung Hua Li, Hua Tian dan juga Chen Bun.
"Ayah, bawa kakak Bun menjauh! biar aku hadapi mereka dengan satu jurus petikan kecapi maut!" seru Hua Li dengan yakin.
"Baik putriku, tapi kamu harus tetap berhati-hati ya!" seru Hua Tian yang percaya dengan kemampuan putri angkatnya itu.
''Percayalah padaku ayah!" seru Hua Li dengan mengulas senyumnya.
"A Bun, ayo kita menyingkir sebentar!" ajak Hua Tian yang begitu saja melompat meninggalkan tepi sungai itu.
Sedangkan Chen Bun yang tak sempat mengatakan sesuatu, dengan terpaksa mengikuti jejak Hua Tian di belakangnya dengan jarak beberapa meter saja.
"Hei mau kemana kalian! main kabur saja!" seru beberapa orang anak buah bajak sungai itu yang mengepung Hua Li dan Chen Bun.
"Lawan kalian adalah aku!" balas seru Hua Li yang masih duduk dengan sebuah kecapi kesayangan dihadapannya.
Gadis itu mulai memetik kecapi itu dengan jari-jarinya yang lincah.
"Teng....teng....teng....!"
"Teng....teng....teng....!"
"Argh..... Aaaaargh.....!"
"Aaaarghh....!"
Dan tiba-tiba satu persatu tubuh anak buah bajak sungai itu ambruk dengan kedua telinga yang bersimbah darah.
"Teng....teng....teng....!"
"Teng....teng....teng....!"
Hua Li terus memetik senar kecapi, hingga semua anak buah bajak sungai terkapar dan tak bernyawa lagi.
"Wah...!"
Seru Chen Bun yang sangat terkejut, karena baru pertama kali ini melihat jurus yang menggunakan alat musik sebagai senjata. Dan hasilnya sangat menakjubkan.
"Itu jurus yang dia pelajari sendiri, dan aku sama sekali tak mengajarinya. Karena aku sama sekali tak bisa main kecapi! ha...ha ...ha..!" ucap Hua Tian yang tertawa girang.
"Ja...jadi Li'er belajar sendiri?" tanya Chen Bun yang sangat terkejut.
__ADS_1
"Iya, aku yang membuat jurus-jurusnya sendiri, dengan awalnya aku menguasai dasar-dasar memainkan kecapi." jawab Hua Li yang kemudian memanggul kecapinya, yang seperti ringan baginya.
"Li'er, kamu layak berjuluk Dewi Kecapi!" seru Chen Bun yang menaruh rasa kagum pada Hua Li.
"Sebaiknya kita kembali ke perguruan Bambu kuning sekarang juga!" seru Hua Tian pada kedua anak muda dihadapannya.
"Baik ayah!" jawab Hua Li.
"Iya guru!" jawab Chen Bun.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke biduk kecil mereka yang masih berada ditempat semula.
Mereka mendayung menyusuri sungai kuning dengan tanpa halangan yang merepotkan lagi.
Tak berapa lama mereka telah sampai di tepi sungai yang menuju ke arah perguruan bambu kuning.
Setelah sampai di daratan, mereka melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak dan pada akhirnya melewati pintu gerbang perguruan bambu kuning.
Mereka disambut dengan girangnya oleh para murid perguruan bambu kuning dan juga Chen Kun. Kemudian Chen Bun bercerita pada ayahnya dengan apa yang telah mereka lalui saat membasmi Tek San dan Lauw Seng.
Setelah kejadian itu, keadaan di perkampungan Bambu kuning kembali aman dan nyaman. Dan Chen Kun dan Chen Bun secara bergantian berpatroli melihat keadaan perkampungan disekitar perkampungan.
Beberapa bulan kemudian, ketika Hua Tian dan juga Hua Li yang sedang menjalankan biduk mereka perlahan di sepanjang tepi sungai kuning yang airnya tenang dan udara pagi yang sejuk.
"Ibu, Ayah! Bagaimana rupanya dan di mana mereka sekarang ya ayah?" tanya Hua Li pada saat memandang ke sepanjang aliran sungai kuning.
"Yang jelas Ibu kandung kamu adalah seorang wanita yang cantik sekali. Wajah Ibumu itu seperti dirimu, Hua Li." jawab Hua Tian yang mencoba menebak.
"Kira-kira, kemanakah aku harus mencari kedua orang tua kandungku ayah?" tanya Hua Li yang mengalihkan pandangannya pada ayah angkatnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1