
Pengemis itu rebah telentang di depan di tepi sebuah hutan di luar kota, dan dia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat dia bergerak karena tubuhnya sudah lumpuh oleh totokan.
"Sudah kukatakan bahwa ketua berada di Asrama! Bukankah tadi kau datang berkunjung d melihat sendiri!" jawab pengemis itu dengan sikap masih angkuh karena dia mengira bahwa kakek gembel yang ada dihadapannya itu agaknya jerih terhadap ketuanya, Sin Kai.
"Kau bohong!" seru Kwe Ong dengan membentak.
"Dia bukan setan tua Sin Kai! Dia hanyalah ketua yang palsu! Yang aku tanyakan, di mana Setan tua Sin Kai yang asli!" seru Kwe Ong dengan geram.
"Siapa bilang bahwa ketua kami palsu?" tanya pengemis itu yang membelalakkan matanya jelas nampak bahwa dia kaget bukan main.
"Tak perlu kau tahu siapa yang bilang, yang penting kau katakan di mana Ketua yang asli? Dan siapakah ketua palsu itu sebenarnya!" seru Kwe Ong.
Pengemis dari anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu memandang dengan wajah berubah pucat, lalu membuang muka ke samping.
"Aku tidak tahu!" seru pengemis itu.
Kwe Ong menambah kayu kering pada api unggun di dekat mereka sehingga api bernyala tinggi dan sinar-menimpa si pengemis itu yang kini berwajah sangat pucat.
Tiba-tiba tangan kiri Kwe Ong itu bergerak, cepat bukan main dan dia sudah menotok dua kali, pertama ke arah leher, dan ke dua kalinya arah pundak.
Anggota pengemis sabuk merah itu terbelalak, mulutnya terluka seperti hendak menjerit-jerit, akan tapi tidak ada suara keluar dari mulutnya, dan mukanya kini penuh kerut-kerut tanda bahwa dia menderita nyeri yang luar biasa hebatnya.
Rupanya Kwe Ong membiarkan dia menderita bebepa menit lamanya, lalu membebaskan totokannya sehingga rasa nyeri itu lenyap dan Si pengemis itu mampu bicara kembali.
"Nah, jawablah pertanyaanku dengan baik-baik. Di mana adanya ketua yang asli dan siapa ketua yang palsu itu?" tanya Kwe Ong dengan menatap tawanannya itu dengan tajam.
"Aku....aku tidak berani.... tidak berani menjawab.....!" racau si pengemis itu yang kini menangis karena rasa nyeri dan tak berdaya membuat dia dipenuhi rasa takut, sedih, dan penasaran.
Dia sudah mengatakan tidak berani, bukan tidak tahu lagi dan ini merupakan kemajuan, pikir Kwe Ong. Tiba-tiba dia menyeret tubuh tawanannya itu ke dekatnya api dan menarik lengannya, lalu membakar tangan kiri tawanannya itu pada api unggun.
Tercium bau sangit dan tawanannya itu mengerang kesakitan. Ketika dia menarik kembali lengan itu, jari-jari tangan kiri pengemis yang menjadi tawanan itu telah melepuh hangus.
__ADS_1
"Kau masih belum berani jawab? Akan kubakar tubuhmu sedikit demi sedikit sampai habis terbakar!" seru Kwe Ong yang mengancam.
Tawanan Kwe Ong itu menjadi ketakutan. Ancaman bahaya dari ketuanya masih jauh, masih belum terasa, akan tetapi ancaman Kwe Ong ini sudah di depan mata dan sudah dirasakannya pula.
"Baiklah aku... aku mengaku...!" seru pengemis itu yang ketakutan.
Dengan suara tersendat-sendat dia lalu menceritakan keadaan perkumpulan pengemis sabuk merah yang aneh. Kiranya telah terjadi hal-hal hebat di dalam markas mereka.
Seorang musuh besar ketua Sin Kai yaitu seorang pendekar aliran hitam dari selatan yang berjuluk Harimau Terbang dari Gunung Selatan, rupanya mendendam kepada setan tua Sin Kai yang menjadi ketua perkumpulan pengemis sabuk merah di kota raja.
Pernah Si Harimau Terbang ini dihajar oleh setan tua Sin kai dalam suatu bentrokan ketika pendekar aliran hitam ini melakukan kejahatan di kota raja. Karena itulah dengan hati yang penuh dendam, si Harimau Terbang melarikan diri kembali ke selatan di mana dia menggembleng diri dan memperdalam ilmu silatnya.
Lima tahun kemudian, menjadi seorang yang amat lihai dengan belasan orang anak buahnya yang sudah terlatih dan masing-masing memiliki kepandaian tinggi, kembalilah dia ke kota raja dan mengunjungi perkumpulan pengemis sabuk merah.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil membalas kekalahannya, bahkan dia merobohkan setan tua Sin Kai, menangkapnya dan menawannya ke dalam tahanan di bawah tanah.
Dia sendiri, dengan ilmu penyamaran yang telah dipelajarinya, lalu menyamar sebagai Sin Kai menjadi orang yang berkuasa di perkumpulan pengemis sabuk merah itu.
"Demikianlah, setahun yang lalu mulai terjadi perubahan besar dari perkumpan pengemis sabuk merah dan Ketua kami yang sekarang, Lam San yang menyamar sebagai ketua Sin Kai." kata anggota pengemis sabuk merah itu yang mengakhiri ceritanya.
"Lantas di mana adanya Setan tua yang asli?"'tanya Kwe Ong dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Di dalam kamar bawah tanah," jawab pengemis itu yang sudah terlanjur membuat pengakuan.
Dia merasa kepalang tanggung dan diceritakanlah tentang keadaan penjara bawah tanah itu. Yang ditawan di situ selain Sin Kai, dan ada juga kurang lebih sebelas orang pimpinan perkumpulan pengemis sabuk merah yang megetahui rahasia itu dan yang memberontak terhadap ketua palsu.
Setelah menguras pengakuan dari anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu, Sin Kai lalu menotoknya lagi dan meninggalkannya dalam keadaan tak mampu bergerak itu di dalam hutan.
Kemudian Kwe Ong melesat dengan cepat menuju ke markas perkumpulan pengemis sabuk merah.
Matahari pagi sudah mulai bersinar. Ketika dia tiba di dekat pintu gerbang kota raja, sesosok bayangan muncul dari balik pohon dan ternyata bayangan ini adalah Han Beng.
__ADS_1
"Eh, kau rupanya?" tanya Kwe Ong yang terkejut atas kedatangan muridnya.
"Iya guru, ma'af jika murid mengagetkan gurua." jawab Han Beng dengan sopan.
"Hm...! Lantas dimana Nona Hui?" tanya Kwe Ong yang melihat kedatangan muridnya yang seorang diri.
"Setelah guru pergi, murid mengkhawatirkan keselamatan guru yang masih belum sehat benar. Nona Hui murid suruh menanti di dalam hutan itu dan murid menyusul ke sini." jelas Han Beng.
"Bagus kalau begitu memang aku membutuhkan bantuanmu, Han Beng. Kau tahu, sahabatku Setan tua Sin Kai memang benar mereka tawan dan yang kini bertindak sebagai Sin Kai itu adalah seorang pendekar aliran hitam dari selatan yang bernama Lam San." jelas Kwe Ong yang menceritakan apa yang didengarnya dari kaki tangan ketua palsu itu.
Han Beng mendengarkan dengan heran dan juga kagum akan kecerdikan gurunya yang ternyata telah menduga tepat sekali
.
"Sekarang, apa yang akan guru lakukan dan apa yang harus murid bantu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Aku akan mencoba untuk membebaskan sahabatku Setan tua dan para pembantunya yang ditawan, dan kau dapat membantuku, Han Beng." jawab Kwe Ong yang kemudian mereka berunding untuk mengatur siasat agar berhasil membebaskan para tawanan itu dan membongkar rahasia kejahatan Lam San.
Setelah yakin dan siap, keduanya segera beraksi sesuai rencana mereka.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...