Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 287


__ADS_3

Hok Cu juga mengamuk, gadis ini masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi, akan tetapi kursi itu menerjang ke sana-sini dengan ganasnya.


Dua orang tawanan ia tidak dapat bergerak leluasa dan di situ terdapat banyak orang yqng lihai. Kalau Hong Lan dan para pembantunya menghendaki, tentu tidak terlalu sukar bagi mereka untuk menghentikan amukan dua orang itu dengan serangan yang mematikan.


"Jangan bunuh mereka!" seru Hong Lan untuk kesekian kalinya.


''Tangkap dan lumpuhkan saja. Aku masih belum selesai dengan mereka!" lanjut seru Hong Lan yang terkandung kemarahannya.


Dia akan menyikat dua orang musuhnya itu sepuas hatinya sebelum membunuhnya.


Hong Lan dan para pembantunya kini mengepung dua orang tawanan yang mengamuk itu dan kini baik Han Beng maupun Hok Cu menjadi bulan-bulanan kemarahan mereka.


"Bagh..,bugh.....bagh....bugh...!"


"Aaargh.....!"


"Dagh....dugh....dagh...dugh....!"


"Argh......!"


Mereka itu memukul, menendang dan dua orang itu terbanting-banting dan terguling-guling bersama kursi mereka. Dalam keadaan terbelenggu pada kursi itu, tentu saja gerakan mereka tidak leluasa sama sekali.


Walaupun mengerang kesakitan, dua orang muda yang memiliki tenaga dalam yang kuat sekali sehingga biarpun kaki tangan mereka terbelenggu, namun luncuran tubuh mereka dengan kursi itu masih berbahaya bagi lawannya.


Apalagi karena Hong Lan beberapa kali memberi peringatan agar dua orang itu jangan dibunuh. Para pembantunya menyimpan senjata mereka dan hanya mencoba untuk menangkap kedua orang yang mengamuk itu dengan kaki tangan mereka.


Inilah yang berbahaya karena siapa berani menghadapi terjangan Han Beng atau Hok Cu dengan tangan, tentu akan kena hantaman tubuh yang menjadi satu dengan kursi itu sehingga terjengkang dan terguling-guling.


"Yang lain mundur, biarkan aku, Wakil ketua dan ketua bertiga saja yang menangkap mereka!" kata Hong Lan setelah melihat beberapa orang pembantunya empat roboh sampai terguling-guling.


Dia sendiri membiarkan tubrukan Han Beng lewat dengan elakan, dan kakinya menyambar.

__ADS_1


"Dugh....!"


Tubuh Han Beng terpenting ketika dadanya kena ditendang tanpa dan mampu mengelak atau menangkis.


Mo Li dan Lui Seng juga berhasil menangkap Hok Cu dari kanan kiri, menangkap sandaran kursinya dan gadis perkasa itu tidak mampu berkutik pula.


Rupanya tidak ada harapan lagi bagi Han Beng dan Hok Cu untuk dapat menyelamatkan diri dari tangan para pim pinan aliran bumi dan langit itu dan mereka terancam bahaya maut, terutama sekali Hok Cu yang telah diancam akan diperkosa sampai mati di depan Han Beng kalau mereka berdua tidak mau menakluk dan membantu perkumpulan itu.


Dengan marah sekali Han Beng terguling-guling oleh tendangan Hong Lan tadi, mengerahkan lagi tenaganya dan tubuhnya meluncur kembali ke arah Hong Lan, bagaikan sebuah peluru besar yang ditembakkan dari mulut meriam.


Tidak mungkin mengelak dari serangan peluri manusia seperti itu. Hong Lan menyambut dengan hantaman kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga dalamnya. Ketika Han Beng meluncur ke arahnya, dia sudah siap memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah lawan.


"Desssss......!"


Kembali Han Beng bersama kursinya terlempar oleh hantaman kedua tangan itu, bahkan nampak sandaran kursi itu patah-patah.


Hong Lan mengelak ke belakang karena ketika dia memukul, Han Beng juga mengerahkan tenaga dalamnya sehingga pukulan lawan itu membalik.


"Han Beng, kau... kau larilah! Jangan korbankan diri untuk aku! ini urusanku, biar aku yang mengamuk sampai mati." bisik Hok Cu dengan napas terengah-engah.


"Hok Cu, kalau perlu, kita akan mati bersama." bisik Han Beng kembali.


Mendengar ini, Hok Cu menahan tangisnya. la tahu bahwa mereka berdua tak berdaya dan kalau melanjutkan mengamuk dalam keadaan terbelenggu seperti itu akhirnya mereka berdua pasti akan tewas.


Tidak ada harapan sama sekali untuk dapat meloloskan diri. Dan Han Beng mengatakan siap untuk mati bersama.


"Han Beng, a....aku cinta padamu!" kata Hok Cu yang membuat pengakuan terakhir ini, bukan hanya untuk menyatakan rasa terima kasih dan keharuannya, melainkan untuk membuka rahasia hatinya sendiri.


"Aku juga cinta padamu, Hok Cu." jawab Han Beng, suaranya terharu namun mengandung kebahagiaan besar walaupun dia tahu pula bahwa mereka berdua akan mati.


Mendengar percakapan singkat itu Hong Lan mengangkat tangan member isyarat kepada para pembantunya untuk berhenti menyerang.

__ADS_1


"Ha...ha...ha...! Han Beng, bagus sekali kalian saling menyatakan cinta. Kalau benar kau mencinta Hiok Cu, menyerahlah. Kalau kalian menyerah dan mau membantu kami, maka aku akan merayakan pernikahan kalian berdua. Kalian akan menjadi suami isteri yang hidup berbahagia bersama kami disini. sebaliknya, kalau kalian tetap menolak, kau akan melihat gadis yang kau cinta ini menderita penghinaan di depan matamu dan akhirnya kalian akan tersiksa sampai mati. Nah, pilihan yang mudah, bukan? Untuk yang terakhir kali, aku tawarkan kalian menakluk dan membantu kami." kata Hong Lan.


"Apa yang dikatakan pimpinan utama memang benar dan menguntungkan sekali untukmu, Hok Cu. Ingat, kau adalah bekas muridku dan kau tahu betapa aku sayang padamu. Menyerahlah Hok Cu, muridku!" seru Mo Li yqng ikut membujuk, karena dia tahu kalau Hong Lan yang ditakutinya itu ingin sekali agar dua orang pemuda perkasa itu menyerah dan bersekutu dengan mereka.


Hok Cu dan Han Beng saling pandang dan sejenak pandang mata mereka bertaut, penuh kasih sayang, juga penuh kebulatan tekad untuk melawan sampai akhir.


"Lebih baik mati daripada menyerah bentak Hok Cu.


"Hong Lan iblis busuk, kami adalah orang-orang yang rela mati mempertahankan kehormatan dan kebenaran!" seru Han Beng yang juga membentak dan kembali keduanya mengerahkan tenaga dan bergulingan dengan cepat untuk menyerang lawan dengan menghantamkan tubuh yang kaki tangannya terbelenggu itu kepada lawan. Han Beng menyerang kearah Hong Lan sedangkan Hok Cu menyerang kearah Mo Li.


Akan tetapi, dua orang yang diterjang itu mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian menendang.


Tubuh Han Beng dan Hiok Cu kembali terlempar dan membentur dinding. Sejak tadi Han Beng dan Hok Cu berusaha melepaskan belenggu kaki tangan, akan tetapi tidak berhasil.


Kalau saja belenggu itu dari besi, mungkin mereka akan mampu mematahkannya. Akan tetapi itu terbuat dari kulit kerbau yang kuat, ulet dan juga agak lentur sehingga tidak dapat dibikin putus.


Keadaan dua orang muda perkasa itu pada saat ini di situasi yang gawat sekali.


Keduanya telah dijadikan bulan-bulanan tendangan atau pukulan tanpa mampu membalas, bahkan tentu saja para pimpinan aliran Bumi dan Langit yang lihai itu dengan mudah akan dapat menotok jalan darah mereka atau menggunakan asap pembius.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2