
Menghadapi segerombolan orang muda, setan menjadi lebih leluasa menggoda hati.
Demikian pula dengan empat orang pemuda itu yang tadinya mereka bersikap biasa,melihat pembangunan istana, mengagumi keindahan bentuk istana yang megah itu seperti para penonton lainnya.
Namun ketika melihat kemunculan seorang gadis cantik seperti Hok Cu, sikap mereka berubah sama sekali. Kini mereka tidak lagi nonton bangunan, melainkan nonton gadis cantik dan mulailah mereka menyeringai, tersenyum atau tertawa, saling berbisik sambil melirik ke arah Hok Cu.
Godaan nafsu atau godaan setan memang seperti berkobarnya api, dari sedikit lalu makin lama makin membesar kalau tidak segera dipadamkan. Kalau tadinya mereka itu menyeringai dan berbisik-bisik, akhirnya bisikan mereka menjadi semakin keras sehingga terdengar orang lain, dan suara ketawa mereka pun makin keras.
"Yang laki-laki memang banyak harapan diterima bekerja. Lihat bentuk badannya tinggi besar seperti kuli kasar. Tentu dia diterima sebagai kuli angkat-angkat batu dan kayu!" kata seorang di antara mereka sambil melirik ke arah Han Beng dan Hok Cu.
"Memang, potongan badannya seperti kuli kasar. Dia dibutuhkan untuk pembangunan ini. Akan tetapi perempuan itu, mana mungkin diterima? hm, cantik dan manis, patutnya menemani kita! He...he...he...!" orang ke dua berkata sambil terkekeh dan diikuti oleh teman-temannya yang juga tertawa.
"Kenapa tidak? Di manapun kalau perempuan, apalagi yang jelita seperti ia, pasti diterima dengan tangan terbuka dan pakaian terbuka ! Ha....ha...ha...ha...!" seru mereka yang dengan tertawa-tawa.
Han Beng dan Hok Cu mendengar percakapan itu, akan tetapi karena percakapan itu tidak jelas menyinggung mereka maka keduanya pun diam saja, walaupun sepasang alis Hok Cu sudah berkerut karena ialah satu-satunya wanita situ, maka siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan dirinya.
"Jangan dengar kata mereka, lebih baik diam dan jangan buat keributan!" bisik Han Beng yang berpesan pada Hok Cu.
Gadis itu menganggukkan kepalanya dan ia pun pura-pura tidak mendengar serua empat laki-laki itu.
"Akan tetapi seorang gadis, disuruh bekerja apa?"tanya salah satu dari keempat laki-laki itu.
Ramailah empat orang itu berebutan, merasa bahwa masing-masing lebih pantas memiliki wanita itu.
"Sudahlah, siapa tahu ia menginginkan menjadi seorang di antara dayang Kaisar? Kabarnya tempat ini kelak akan penuh dengan dayang dan selir Kaisar." kata yang lainnya.
"Ssssst, lihat. Ia membawa pedang! jangan-jangan ia seorang wanita dunia persilatan!" seru laki-laki yang ketiga.
"Ah, mana mungkin? Lihat, kulitnya begitu mulus, halus dan pinggangnya ramping. Ia wanita seratus prosen, lemah gemulai. Pedang itu tentu hanya untuk menakut-nakuti saja, ha...ha...ha....!"
Wajah Hok Cu semakin merah dan Han Beng menyadari akan hal itu, maka Han Beng mengajk gadis itu untuk pergi dari situ karena takut kalau tidak tahan lagi.
Namun pada saat itu, salah satu pemuda yang berwajah bopeng menghadang mereka.
"Aduh, harum ........., harum ..........!" pemuda itu berseru seraya mengendus-endus di sekitar tubuh Hok Cu.
__ADS_1
"Wuuuttt ........!"
"Pla....!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi pemuda bopeng itu.
"Aduuuuuh.............!" suara Engan pemuda
Tubuh pemuda muka bopeng itu terpelanting dan mulutnya mengucurkah darah karena empat buah giginya copot ketika tangan
Hok Cu menamparnya tadi. Gadis itu tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Masih untung bagi pemuda itu bahwa Hok Cu tidak menggunakan tenaga sakti. Kalau ia mempergunakan tenaga saktinya, bisa remuk tulang rahang pemuda itu, atau kalau ia menggunakan tenaga beracun, pemudi muka bopeng itu tentu tewas seketika.
Kini, hanya giginya empat buah copot dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia melompat bangun dan menjadi marah bukan main.
"Dasar perempuan rendah, beraninya kau memukulku!" bentaknya dan dia pun menyerang dengan tubrukan seperti seekor biruang menubruk domba, dan tiga orang kawannya juga berebut maju untuk menangkap gadis yang sejak tadi telah membuat mereka tergila-gila. Mereka berempat masih lebih terpengaruh keinginan untuk merangkul gadis itu daripada untuk memukul.
Hok Cu menggerakkan kaki tangannya. Terdengar empat orang pemuda itu mengaduh. Pertama adalah Si Muka Bopeng yang menyerang lebih dulu, menerima tendangan pada perutnya.
"Ngekkk! Aughhhhh ...............!"
Rupanya usus buntunya kena tertendang ujung sepatu Hok Cu, nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk jarum rasa perutnya.
Orang ke dua dari kiri disambut sambaran tangan kiri yang mengenai dadanya.
"Plakkk! Hukkk............!"
Pemuda itu pun terpelanting, dan tidak mampu bangkit, hanya duduk terbatuk-batuk seperti mendadak sakit asmanya kambuh terengah-engah terasa sesak dan nyeri dalam dada.
Orang ke tiga dari kanan juga disambar tangan kanan mengenai lehernya dan dia pun terpelanting, lalu bergulingan dengan leher bengkok karena lehernya terasa nyeri seperti patah tulangnya.
"Bugh....bugh......!"
"Aarghh....!"
Orang ke empat disambut tendangan pula sehingga terjengkang dan karen kepalanya dengan kerasnya membentur tanah, maka dia pun pingsan seketika mungkin gegar otak.
__ADS_1
Gegerlah para penonton di situ. Da pada saat itu, terdengar bunyi roda kereta dan derap kaki kuda. Sebuah kereta berhenti di situ, dikawal oleh selosin pasukan pengawal.
Semua orang minggir dan seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang sikapnya agung dan berwibawa, turun dari kereta. Dia melihat kearah empat pemuda yang masih belum dapat bangkit bahkan seorang masih pingsan dan yang tiga lagi mengaduh-aduh, memijat perut, ada yang mengurut-urut dada, ada yang lehernya bengkok.
Kemudian dia memandang kepada gadis cantik jelita yang, berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, muka merah karena marah.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Pria berpakaian pembesar itu bertanya dan dia pun maju menghampiri tempat keributan itu.
Hok Cu yang sudah marah, membalik dan menghadapi laki-laki itu. Disangkanya laki-laki itu tentu hendak membela empat orang pemuda itu maka ia pun berkata dengan nada menantang, Siapa saja yang menibela empat ekor tikus busuk ini akan kuhajar!"
Akan tetapi pembesar itu sama sekali tidak nampak takut, melainkan menentang pandangan mata Hok Cu dengan tajam penuh selidik.
"Siapa yang membela siapa, Nona? Kami hanya bertanya apa yang telah terjadi disini? Mengapa terjadi perkelahian di sini?" tanya pria itu.
Pada saat gadis itu hendak menjawab dengan ketus, tiba-tiba Han Beng berseru girang
"Liu Tai...! Aih, Hok Cu, apakah kau tidak mengenalnya? Dia adalah Liu Tai, utusan dari kota raja yang kita jumpai di kota Siong-an itu!" seru Han Beng.
Hok Cu segera teringat dan ia pun seperti Han Beng memberi hormat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
"
__ADS_1