
"Apa adik Yauw seorang putri raja?" gumam dalam hati Liu Hong yang belum percaya dengan yang dia lihat dan dengarkan.
"Kakak Hong......!" panggil Yauw Lie yang kemudian mendekat dan merangkul pemuda yang sedari tadi bersamanya.
Liu Hong terkejut dan melangkah mundur beberapa langkah.
"Kau...... kau..... apakah kau seorang putri raja?" tanya Liu Hong yang gugup.
Yauw Lie maju, menangkap tangan Liu Hong dan menariknya sehingga gadis itu memeluk pemuda yang sebelumnya hendak menghindarinya.
"Kakak Hong, ingat ucapanmu tadi. Kau mencintaku dan akan selalu mencintaku tak peduli aku ini siapa!" bisik Yauw Lie yang mencoba mengingatkan Liu Hong.
"Kalau kau seorang putri raja? kenapa kau menyamar sebagai Yauw Lie?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"Mari kita duduk lagi kakak Hong dan akan kuceritakan semua tentang diriku. Percayalah, aku tidak akan membohongimu, aku cinta padamu, kakak Hong." ajak Yauw Lie yang melepaskan pelukannya dan menarik tangan sebelah kiri Liu Hong.
Pemuda itu mengikuti keinginan Yauw Lie dan Liu Hong menjadi tenang kembali, walaupun jantungnya masih berdebar penuh keheranan dan ketegangan. Ia duduk di atas akar pohon dan Yauw Lie duduk di depannya.
"Dengarlah pengakuanku, adik Hong dan kuharap engkau tidak akan menyesal mempunyai seorang calon istri seperti aku yang telah membohongimu. Aku adalah putri Yu, sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat, terutama dari para Pendeta Lhama di Tibet. Belasan tahun aku bahkan tinggal di sana. Ayahku adalah Pangeran Banagan, masih adik tiri dari mendiang Kaisar Kubilai Khan. Ketika aku setahun yang lalu pulang ke kota raja, dan mengetahui bahwa aku telah mempelajari berbagai ilmu. Kemudian Ayah menugaskan aku untuk mengabdi Kerajaan Mongol. Dan dengan persetujuan Kaisar, bahkan aku mendapatkan tanda kekuasaan dari Kaisar. Aku bertugas mengamankan negara dan mengamati para pembesar kami yang menyeleweng. Aku telah melaporkan banyak pembesar yang korup dan jahat dan dari istana telah dikeluarkan perintah untuk menangkapi dan menghukum mereka. Karena itu aku dimusuhi banyak pembesar dan panglima yang menganggap aku sebagai ancaman bagi kedudukan mereka. Diam-diam mereka itu berusaha untuk membunuh atau menyingkirkan aku." jelas Yauw Lie.
"Karena itukah engkau dulu dikepung dan dikeroyok di perairan Pulau Ular?" tanya Liu Hong yang mencoba mengingatkan peristiwa yang terjadi.
__ADS_1
"Ya, itu satu di antara usaha mereka membunuhku." jawab Yauw Lie seraya menganggukkan kepala secara pelan-pelan.
"Tapi kenapa kau berperahu dekat Pulau Ular dan ketika kami tolong, kau mengaku bernama Yauw Lie?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"Dalam perjalananku memang aku menyamar sebagai seorang gadis Han bernama Yauw Lie. Terus terang saja kakak Hong, aku mendengar berita tentang harta karun peninggalan Kerajaan Han maka aku mewakili pemerintah untuk menyelidiki dan mendapatkan harta karun itu. Aku sudah melakukan penyelidikan dan mendengar kalau Panglima Lim Bao yang ditugaskan pemerintah, berniat untuk menguasai harta karun untuk dirinya sendiri. Setelah mendengar bahwa asal mula peta harta karun itu menjadi millk pendekar Ceng, maka aku mengambil kesimpulan bahwa sumber pertama yang akan dapat memberi keterangan jelas tentang harta karun itu adalah pendekar Ceng. Dan para pengikutku yang melakukan penyelidikan memberitahu bahwa pendekar Ceng berada di Pulau Ular, maka aku menggunakan perahu untuk menyusul ke sana. Akan tetapi setelah dekat, aku dikepung pasukan dan dikeroyok sehingga terluka. Untung ada keluargamu yang menolongku, adik Hong. Ketika aku mendengar kalau pendekar Ceng dan kakak Hong akan menyelidiki ke pegunungan tengkorak untuk mencari harta karun, aku lalu menawarkan diri membantu dan kalian menerimaku. Itulah kesempatan baik bagiku untuk mendapatkan harta karun itu agar dapat kuserahkan kepada pemerintahan kami." jelas Yauw Lie.
"Ta...tapi tu..tuan putri...!" seru Liuu Hong yang dipotong oleh Yauw Lie.
"Jangan sebut aku tuan putri. Sekarang ini aku masih tetap Yauw Lie bagimu. Kelak kalau kakak Hong sudah menjadi suamiku dan tinggal di istana Ayah, boleh saja aku disebut tuan putri. Nah, tadi kakak Hong hendak berkata apa?" kata Yauw lie dan kemudian bertanya.
"Adik Yauw, harta karun itu adalah peninggalan Kerajaan Han, kenapa kau hendak menyerahkannya kepada Kerajaan Mongol? Bukankah yang berhak adalah Kerajaan Han atau pendukungnya?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"Kakak Hong, peraturan dalam perang, harta benda yang kalah menjadi hak milik yang menang. Maka harta karun Kerajaan Han itu menjadi hak milik Kerajaan Mongol. Kerajaan Han sudah terbasmi dan tidak ada lagi, bukan? Dan jangan lupa, aku adalah seorang putri raja Mongol, maka sudah menjadi kewajibanku untuk membela Kerajaan Mongol. Aku tidak menyalahkan pendekar Liu Ceng dan teman-temannya kalau hendak menyerahkan harta itu kepada para pejuang. Akan tetapi sekarang ini sudah tidak ada perang sehingga yang kalian sebut pejuang itu bukan lain adalah pemberontak. Apakah kalian menghendaki perang lagi yang selalu menyengsarakan rakyat jelata?" jelas sekaligus tanya Yauw Lie.
"Akan tetapi sekarang kau adalah keluargaku, keluargaku terdekat. Kamu adalah suamiku walaupun belum diresmikan orang tua kita. Kalau urusan harta karun ini sudah selesai, kita menikah dengan resmi. Maka, sekarang juga kakak Hong harus mengambil keputusan, apakah akan membantu aku, atau membantu orang lain?" jelas Yauw Lie yang kemudian bertanya.
"Sudah tentu aku membantumu, adik Yauw. Tapi aku minta dengan sangat, jangan kau memusuhi dan mencelakakan kakak Ceng dan kakak misanku Hua Li." kata Liu Hong yang masih memikirkan keselamatan kedua saudaranya.
"Aku berjanji tidak akan memusuhi mereka, tentu saja kalau mereka yang memusuhi aku, aku harus membela diri. Bukankah kau juga akan membela aku kalau aku dimusuhi orang?" jawab sekaligus tanya Yauw Lie.
Liu Hong hanya menganggukkan kepalanya pelan, namun hatinya merasa risau sekali.
__ADS_1
"Sekarang, mari kita hadang rombongan Lim Bao yang katanya telah menemukan harta karun itu. Kalau ternyata dia hendak menguasai sendiri harta itu, akan aku hukum dia!" seru Yauw Lie dengan lantang.
"Iya, ayo kita pergi sekarang!" balas Liu Hong yang menyetujui seruan Yauw Lie.
Kemudian mereka dengan berlari meninggalkan tempat itu dan menuju ke arah yang ditunjuk anak buah putri raja itu yang sebetulnya terdiri dari jagoan-jagoan istana yang sedang menyamar.
Di sebuah antara bukit-bukit yang tersebar banyak sekali di Pegunungan Tengkorak, Lim Bao mengumpulkan para perwira pembantunya yang belasan orang banyaknya, dan pasukannya yang tidak kurang dari tiga ratus orang jumlahnya itu, kini mereka sedang mengadakan perundingan.
"Siasat kita untuk mengadu domba di perguruan ular kobra telah gagal. Dan agaknya memang perguruan ular kobra tidak mencuri harta karun itu," kata Lim Bao yang diam-diam mengintai ketika semua orang berkumpul di depan pintu gerbang perguruan ular kobra waktu itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1