
Tapi Hua Li masih dapat menguasai dirinya dan dengan hati-hati sekali ia turun ke kamarnya. Ia segera memanggil pelayan dan memerintahkan memberitahu pada Pangeran Leng Song kalau dirinya telah datang.
Dengan wajah pucat Hua Li menanti datangnya pangeran Leng Song ke kamarnya. Ia merasa terhina sekali. Jika akan menjadi selir dan sedang diuji kesetiaannya baru pantas menjadi selir.
" Selir? Kurang ajar sekali! Alangkah hina aku jika aku ikuti permainannya!" gerutu dalam hati Huali dengan kesal.
Gadis itu masih dapat menetapkan gelora hatinya ketika Pangeran Leng Song melangkah masuk ke dalam kamarnya sambil tersenyum-senyum dan ketika pangeran itu hendak memeluknya, Hua Li dengan segera mencegahnya.
"Pangeran, coba katakan dengan terus terang! apakah kau sudah menikah?" tanya Hua Li dengan suara sebisa mungkin dibuatnya tenang.
Pangeran Leng Song sangatlah terkejut saat melihat perubahan sikap Hua Li. Kemudian pangeran itu tersenyum dan duduk di atas sebuah kursi sambil memandang wajah Hua Li yang bersandar ke dinding.
"Kau kan tahu kalau aku belum menikah!" seru Pangeran Leng Song yang tetap mengulas senyumnya.
"Tapi... tapi kau sudah mempunyai selir!" bantah Hua Li yang seketika itu juga pangeran Leng Song tertawa keras.
"Ha...ha ..ha...! Apakah kau cemburu? Itu kan hal biasa, tiap pangeran mempunyai selir! Tapi selirku tidak sebanyak mereka, hanya ada lima orang dan kau!" seru Pangeran Leng song dengan tawa lepasnya.
Mendengar hal itu, merahlah raut wajah Hua Li.
"Dan aku akan kaujadikan selir? Selir ke berapakah?" Suaranya terdengar menyeramkan dan tangis telah memenuhi kerongkongannya.
Pangeran Leng Song berdiri dan hendak memegang tangannya, tapi Hua Li menolaknya dan mendorong pangeran itu sehingga pangeran itu terduduk kembali.
"Nona, kau tahu bahwa aku cinta padamu. Kau tentu akan menjadi selirku nomor satu!" seru Pangeran Leng Song yang berusaha merebut hati Hua Li kembali.
"Katanya kau akan menjadikan aku sebagai istri, bukan selir!" seru Hua Li kesal.
"Apakah bedanya, Nona? Untuk menjadi isteri pertama, tak mungkin, karena aku sudah bertunangan semenjak kecil dengan puteri raja dari kerajaan Teratai." ucap Pangeran Leng Song dan semakin memerahlah wajah Hua Li.
"Bagus sekali! Jadi kau itu hanya seorang bangsat rendah yang berkedok bangsawan belaka!" seru Hua Li geram.
"Nona, apa katamu? Mengapa demikian? Sudah lazimnya seorang pangeran mempunyai banyak selir, kau tak perlu cemburu!" seru Pangeran Leng Song yang bersikeras dengan pendapatnya sendiri.
__ADS_1
"Bedebah! siapa yang cemburu!" seru Hua Li yang kemudian mengulur tangannya dan menampar pangeran Leng Song.
''Plakk...!"
Dan karena tak sempat berkelit, maka pipi Pangeran Leng Song itu menjadi merah karena terkena tamparan yang keras sekali.
"Kalau aku tidak ingat bahwa semua ini terjadi karena kebodohanku sendiri, anda tentu akan saya bunuh!" seru Hua Li yang menatap Pangeran Leng song dengan tajam.
"Nona, jangan begitu. Bukankah kita saling mencinta? Kalau kau kehendaki, biarlah kau menjadi selirku yang sah, isteri ke dua!" ucap pangeran Leng Song dan Hua Li merasa tertusuk sekali hatinya dan ia tak tahan lagi sehingga air matanya mengucur deras.
"Kau... kau... menghinaku! Kau kira aku ingin mendapat kedudukan sebagai isteri pangeran? Kau kira aku mencinta kau karena pangkatmu, karena hartamu? Ah... manusia rendah budi, kukira tadinya bahwa cintamu semurni cintaku, tak tahunya, kau hanya tukang mempermainkan hati wanita belaka. Kau gunakan wajahmu yang tampan itu untuk menutup wajah aslimu yang sebenarnya hanyalah seekor srigala yang kejam dan jahat! aku tak mau bernasib seperti ibuku!" seru Hua Li.
Pangeran Leng song bangkit dari duduknya dan melangkah maju, hendak merayu gadis dihadapannya, tapi Hua Li telah mencabut pedangnya.
"Pergi....! Pergi kau...! sebelum kutebas batang lehermu!" seru Hua Li yang mulai tak bisa mengontrol emosinya.
"Nona, aku cinta padamu dan harus menahanmu. Aku cinta padamu dan aku akan mendapatkan dirimu, biarpun harus kau gunakan kekerasan itu untukku!" rayu Pangeran Leng Song.
Tapi pada saat itu pangeran Leng Song sudah meloncat keluar dan bertepuk tangan.
Ketika Hua Li tiba di luar, ke lima pengawal berada di situ mengurung gadis itu.
"Nona Hua, kau tidak boleh pergi!" seru Pangeran Leng Song yang berada di antara barisan ke Liam pengawalnya itu.
"Pangeran Leng song, dengarlah baik-baik! Aku tidak membunuhmu karena aku menyesali kebodohanku sendiri. Aku pun cinta padamu, biarlah ketujuh kaki tanganku ini mendengar dan menjadi saksi. Tapi aku bukanlah perempuan serendah yang kauduga. Aku lebih baik mati daripada duduk di sampingmu dengan menderita karena kau hanya mempermainkan diriku! Terkutuklah semua lelaki semacammu ini!" seru Hua Li dengan Lantang.
"Nona Hua, aku sudah berlaku baik kepadamu, apakah kau ini akan mengkhianatiku? Manakah barang yang kau rampas dari Pangeran Leng?" tanya Pangeran Leng Song yang mengingatkan akan misi yang dia perintahkan buat Hua Li.
"Hm, kau masih menduga serendah itu! Aku tidak sudi mencampuri urusanmu yang kotor! Barang yang hendak kaurampas itu telah dibawa pergi oleh Kasim Mo. Dan kau carilah sendiri. Nah, aku pergi dan selama hidup akan kukutuk kepalsuanmu itu!" seru Hua Li yang kemudian meloncat ke atas.
"Tangkap dia!" seru Pangeran Leng Song pada para pengawalnya.
Hau Li kembali dikurung oleh kelima pengawal itu yang ternyata kepandaian kelima orang itu hebat juga dan tidak heran mereka dijuluki Lima Dewa dari Utara
__ADS_1
Pedang mereka dimainkan bergabung menjadi satu dan membuat Hua Li terdesak. Apalagi pada saat itu, perasaan hati gadis itu sedang hancur luluh karena asmara gagal, maka gerakannya menjadi lemah dan kurang gesit.
Kedukaan hatinya yang patah cinta itu membuat Hua Li kurang bersemangat pertempur. Maka ia segera terdesak hebat oleh kelima orang pengeroyoknya yang tangguh.
Pada saat Hua Li terdesak dan keadaannya gawat sekali, terancam maut, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Li'er, aku datang membantumu!" seru suara yang berasal dari sesosok bayangan hitam berkelebat dan dengan gerakan yang amat cepat dan kuat dia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga kepungan lima orang pengawal itu menjadi kacau, apalagi ketika seorang pengeroyok tertusuk pundaknya roboh sambil menjerit.
"Aaaarghh...!"
Kembali pedang Si Bayangan Hitam itu berkelebat dan ke empat pengawal lainnya pun tak dapat bergerak lagi, leher mereka terbabat pedang dan mereka tewas seketika.
"Sreet....sreet....sreet....sreet....!"
"Aaaarghh....!"
Darah segar mengalir di ujung pedang si bayangan hitam itu.
Alangkah senangnya hati Hua Li, pada saat mengenal bayangan itu. Yang tak lain adalah Chen Bun, putera Chen Kun, pemuda yang menjadi sahabat dan juga kakak seperguruannya karena pemuda itu juga menerima gemblengan dari ayah angkatnya Hua Tian, yang ternyata mengikutinya sampai di tempat itu.
"Kakak Bun! kau datang!" seru Hua Li dan kini semangatnya bangkit kembali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1