Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 12


__ADS_3

"Kira-kira, kemanakah aku harus mencari kedua orang tua kandungku ayah?" tanya Hua Li yang mengalihkan pandangannya pada ayah angkatnya.


"Hal inilah yang sangat menyusahkan hatiku. Kalau aku sendiri mengetahui dimana adanya orang tuamu, agaknya sudah sejak dulu aku mencari mereka. Tapi aku hanya bertemu dengan Ibumu dalam mimpi, dan aku tidak tahu di mana tempat tinggal mereka." jelas Hua Tian.


Hua Li menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


"Ayah, kalau aku ayah temukan di waktu banjir, berarti aku berasal dari arah dimana asal banjir itu!" pikir Hua Li seraya mengernyitkan kedua alisnya.


Mendengar hal itu, Hua Tian memandang wajah putri angkatnya.


"Hua Li, memang seharusnya kita mencari kedua orang tua kamu ke arah asal banjir, tapi dari sekian manusia yang kita temui nanti, yang manakah kedua orang tua kandung kamu? Ahh, seakan-akan mencari setitik air dalam Sungai kuning!" seru Hua Tian yang membuat Hua Li terdiam.


Semenjak terjadinya percakapan ini, wajah Hua Li nampak muram dan tidak bergembira sedikit pun seperti biasanya, hal itu membuat Hua Tian sangat khawatir.


Pada malam hari itu mereka bermalam dalam sebuah gubuk bambu yang telah lama kosong, dan yang berdiri di pinggir sungai dalam sebuah hutan yang sunyi.


Karena hatinya sedih dan terharu melihat putri angkatnya, maka Hua Tian tekun bersamadhi untuk menenteramkan hati dan pikiran sehingga seakan-akan mati duduk dan tak bergerak bagaikan sebuah patung batu.


Keesokan harinya dia sadar, dia merasa tidak enak hati seakan-akan ada sesuatu yang telah terjadi. Dan benar saja, karena Hua Li telah pergi meninggalkannya secara diam-diam.


Gadis yang dikasihinya itu pergi dengan nekad hendak mencari orang tuanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang kini dia pegang dan dibacanya dengan kedua tangannya yang gemetar.


Ayah, mohon beribu ampun bahwa Li'er terpaksa pergi karena tak tahan melawan desakan hati untuk mencari Ibu dan Ayahku dan takkan kembali sebelum bertemu dengan mereka.


Putrimu Hua Li.


Hua Tian menghela napas dalam-dalam. Hasrat hatinya hendak segera menyusul, tapi dia menggeleng-geleng kepala tanda tidak menyetujui kehendak hati sendiri ini. Kalau dia menyusul, maka gadis itu tentu akan kecewa dan menganggap dia menghalang-halangi maksudnya.


Lagi pula Hua Li sudah memiliki kepandaian tinggi dan dia tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Yang dia cemaskan jika gadis itu takkan mungkin bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dia sendiri tidak percaya bahwa wanita yang dilihatnya dalam mimpi itu benar-benar ibu kandung Hua Li.

__ADS_1


Gadis itu tentu takkan dapat menemukan orang tuanya di kota sepanjang sungai kuning dan dia akan kecewa hati. Inilah yang dikhawatirkan oleh Hua Tian.


Kini Hua Tian merasa sunyi dan sepi, karena yang biasanya mengamankan hati menyedapkan perasaan itu kini berubah menjadi sunyi yang menyayat hati, yang menimbulkan kenangan-kenangan sedih, kesunyian seorang yang kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dikasihaninya.


Hua Tian yang gagah perkasa itu akhirnya menundukkan kepala dan memejamkan mata sambil menahan napas untuk melawan gelora yang mengamuk di dalam dirinya dan membuatnya lemas.


Kini tujuannya adalah kembali ke perguruan bambu kuning, dan menetap disana.


Sesampainya di perguruan bambu kuning, Hua Tian bergegas menemui Chen Kun dan juga putranya. Setelah bertemu dengan mereka, Hua Tian menceritakan tentang kepergian putri angkatnya itu pada ayah dan anak itu.


"Kenapa saudara Hua tidak menahannya?"


"Ke manakah Li'er itu akan pergi?"


"Ahh, bagaimana kalau terjadi sesuatu?"


Rentetan pertanyaan dari Chen Kun dan Chen Bun yang sangat mencemaskan Hua Li.


Sementara itu Chen Bun yang merasa terkejut sekali, pemuda itu merasa seakan-akan hatinya terbawa pergi oleh gadis itu.


Diam-diam ia meninggalkan Hua Tian dan ayahnya yang sedang bercakap-cakap itu tanpa berkata sesuatu, dan dia melangkahkan kakinya dengan segera masuk ke kamarnya.


Pada malam harinya Chen Bun pergi secara diam-diam dengan sebuah biduk dan mengarungi sungai kuning.


Semua murid perguruan bambu kuning kalang kabut mencari keberadaan Chen Bun, sementara Hua Tian dan Chen Kun saling pandang dan mereka menyimpulkan kalau pastinya Chen Bun sedang mengejar Hua Li.


"Alangkah baiknya kalau dulu-dulu kita jodohkan kedua anak itu!" ucap Chen Kun dan Hua Tian hanya tersenyum tipis.


"Saudara Chen, jodoh itu tak dapat dipaksakan. Kita hanya bisa menunggu saja dan melihat perkembangan terlebih jauh. Sementara itu, biarlah kita doakan agar mereka dapat bertemu dan dijauhkan dari segala bencana." ucap Hua Tian dengan bijaksana, dan Chen Kun menganggukkan kepalanya dan mereka berdua tertawa terkekeh.

__ADS_1


Sementara itu Hua Li yang pergi melakukan perjalanannya dengan hanya membawa sebungkus pakaian, kecapi dan sebatang pedang.


Gadis itu berlari dengan mengeluarkan jurus meringankan tubuhnya, melalui tepian sungai kuning yang melawan arus.


Karena ia biasanya melakukan perjalanan dengan berperahu dan di sepanjang Sungai Kuning, kini gadis itu melalui gunung-gunung dan lembah-lembah yang penuh dengan pemandangan alam yang berbeda jauh dengan pemandangan di sepanjang sungai.


Setelah berjalan dua hari, ia tiba di sebuah kampung yang makmur, dengan rumah-rumah yang bagus. Tanah-tanah di sekitar kampung itu terbagi rata di antara para petani sehingga di situ tiada terjadi pemerasan tenaga seperti halnya di kampung-kampung yang terdapat tuan tanah yang menguasai seluruh sawah ladang dan para petaninya hanya buruh tani belaka.


Di kampung Hilir ini, para petani memiliki sedikit tanah yang hasilnya cukup untuk menghidupkan semua keluarga dan mereka hidup dengan rukun dan damai, saling tolong, dan membuat kampung itu menjadi sebuah tempat kediaman yang sangat menyenangkan.


Kepala kampung Hilir adalah seorang laki-laki tua yang bernama Hok Sang yang terkenal adil dan bijaksana, sehingga dicintai dan dihormati orang-orang kampung.


Akan tetapi, beberapa pekan ini terjadi perubahan hebat sekali di kampung itu. Sebetulnya yang sangat berubah dan membuat orang-orang kampung merasa heran dan penasaran adalah kepala kampung itu sendiri.


Tanpa mengetahui sebab-sebabnya, orang-orang kampung melihat betapa Hok Sang sekarang berubah menjadi pemeras rakyat yang kejam.


Kepala kampung yang bertahun-tahun dianggap sebagai seorang pemimpin yang cakap dan baik, tiba-tiba berubah menjadi seekor srigala yang ganas. Dia menetapkan pajak hasil sawah yang sangat berat, karena tujuh bagian hasil sawah harus diserahkan kepadanya dengan alasan untuk disetorkan kepada pembesar atasan di kota raja.


Juga peternak-peternak dikenakan pajak besar sekali, sehingga dalam beberapa pekan saja keadaan kampung itu menjadi berbeda sekali.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2