Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 152


__ADS_3

"Baik guru, dan jaga diri guru baik-baik. Agar nanti kita bisa bertemu kembali." kata Han Beng yang pasrah dengan keputusan gurunya.


"Belajarlah yang rajin di sana, kelak aku ingin menjajal kemampuan kamu. Jika kamu berhasil mengalahkan aku, maka aku mau menikah denganmu." kata Hua Li yang tentu saja menjadi semangat buat Han Beng.


"Guru, terima kasih dan selamat tinggal!" seru Han Beng yang bangkit dari duduknya dan dia berpamitan seraya mengulas senyumnya.


Han Beng merasakan keharuan karena dia harus berpisah dari guru yang disayangnya ini. Namun, dia melihat kenyataan bahwa perpisahan itu memang tidak dapat dihindarkan lagi.


"Pergilah, Han Beng. Masih ingatkah kau ke mana harus mencari gurumu yang baru, yaitu ketua Kwe Ong. Jangan lupa, carilah dia di daerah Propinsi Hok-kian. Di sana dia menjadi raja pengemis dan siapapun tentu akan mengenalnya dan dapat menunjukkannya. Sampaikan salamku kepadanya!" seru Hua Li disaat Han Beng melangkah meninggalkannya.


"Baik guru!" balas Han Beng seraya melambaikan tangannya.


Pemuda itu melanjutkan langkahnya seraya mengendong buntalan pakaiannya di punggung dan melangkah dengan tegap dan ringan menuruni bukit Kim Hong.


Ketika dia tiba di lereng yang berhutan, tiba-tiba muncul seorang yang memakai topeng di wajahnya, berpakaian serba hitam tanpa banyak cakap lagi orang ini menyerang Han Beng dengan membabi-buta.


Melihat gerakan orang itu, Han Beng terkejut karena selain gerakannya ringan dan gesit sekali, juga pukulan-pukulannya mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat.


Dia pun cepat mengelak. Setelah beberapa kali mengelak dan menangkis dia mendapat kenyataan bahwa orang itu memang memiliki tenaga dalam yang amat kuat. Dia meloncat jauh belakang.


"Hei...! berhenti dulu, Sobat! Kenapa kau menyerangku dan apakah kesalahanku padamu?" tanya Han Beng yang penasaran.


Orang itu tak menggubris pertanyaan Han Beng, dia meloncat dan menyerangnya lagi, kini lebih hebat lagi. Pukulannya merupakan serangan maut karena tangan yang menyambar ke arah kepalanya itu mengandung tenaga dalam yang akan dapat menghancurkan batu karang, apalagi kepala manusia.


Dia pun mulai merasa asaran dan segera di tangkisnya pukul itu dengan lengannya sambil mengerahkan tenaga dalam di tubuhnya.


"Dukk....!"


Penyerang itu terdorong mundur dan giranglah hati Han Beng melihat kenyataan bahwa dalam hal tenaga dalam, dia masih lebih unggul sedikit.

__ADS_1


Hal ini membesarkan hatinya dan dia pun mulai balas menyerang orang yang memakai topeng itu.


Akan tetapi, betapa gesitnya gerakan orang itu dan agaknya, semua jurus seranganan tidak membuat orang itu menjadi gugup dan bahkan dapat mengimbanginya dngan serangan-serangan balasan yang tak kalah hebatnya.


Mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh, dan Han Beng sudah mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang dipelajarinya selama lima tahun itu, namun tidak ada yang dapat menembus benteng pertahanan lawannya itu.


Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, Han Beng lalu mengeluarkan jurus andalannya.


Akan tetapi, kembali dia tertegun karena orang itu agaknya mengenal pula ilmu silatnya ini dan dengan mudah dapat mengelak dengan tepat sekali. Padahal ilmu silatnya ini gerakan amat cepat dan tidak terduga-duga.


"Bagaimana mungkin orang ini dapat mengelak sedemikian mudahnya? Bukankah hanya guru yang mengenal jurus ini?" gumam dalam hati Han Beng yang kemudian meloncat ke samping untuk mengelak dari sambaran sebuah tendangan dan dia terus mengamati orang itu.


Perawakannya dia seorang wanita dan dia menduga kalau perempuan yang dia hadapi itu adalah gurunya.


Biarpun memakai topeng dan mengenakan pakaian hitam, namun bentuk tubuh itu bentuk tubuh gurunya, dan lebih meyakinkan lagi, orang itu mengenal semua ilmu silatnya.


Tahulah dia bahwa gurunya sendiri yang agaknya hendak mengujinya, maka dia pun ingin menyenangkan hati gurunya dan menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan jurus-jurusnya dengan sebaik mungkin.


"Plak-plak....!"


Dua kali kedua tangan mereka bertemu dan tubuh orang bertopeng itu terdorong ke samping, akan tetapi tangannya sempat meluncur dan tahu-tahu buntalan pakaian Han Beng dapat direnggutnya lepas dari punggung pemuda itu.


Han Beng menjatuhkan dirinya berlutut.


"Guru, murid mengaku kalah!"


Orang itu berhenti, merenggut topengnya dan ternyata memang benar kalau orang yang bertopeng itu adalah Hua Li.


Dilemparnya buntalan itu kepada Han Beng dan dia mengusap keringatnya yang membasahi muka dan leher, lalu menarik napas panjang.

__ADS_1


"Siapa bilang kau kalah? Aku hanya menang sedikit dalam hal kematan ilmu silat kita, akan tetapi kalau kau berkelahi sungguh-sungguh, aku takkan kuat bertahan. Lihat, tubuhku sudah berkeringat. Han Beng, kau hati-hatilah di dalam perjalananmu, jangan sembarangan mempergunakan jurus-jurusmu kalau tidak terdesak sekali. Juga jangan kau terlalu ringan, tangan melukai, apalagi membunuh orang." pesan


"Semua petunjuk dan nasihat guru sudah tertanam dalam ingatan murid dan tentu murid akan mentaatinya." kata Han Beng dengan hormat.


"Nah, sekarang aku sudah bisa merelakan kamu pergi. Jadi pergilah cepat!" seru Hua Li yang mengulas senyumnya.


Maka Han Beng pun segera bangkit berdiri, memberi hormat sekali lagi lalu pergi dari situ dengan langkah lebar memasuki hutan agar cepat lenyap dari pandang mata gurunya.


Sinar matahari pagi mulai mengusir kabut-kabut yang menyelubungi dusun Ki-hyan-tung. Burung-burung dan ayam jantan menyambut sinar matahari dengan kicau dan kokok mereka saling berrsahutan dan penuh keriangan.


Lampu-lampu yang tergantung di depan rumah-rumah kecil di dusun itu sudah mulai dipadamkan, dan sebagai gantinya, nampak asap mengepul dari dapur. Para ibu sudah mulai memasak air, siap membuatkan minuman hangat dan sarapan untuk keluarganya.


Di sana-sini terdengar teriakan ibu-ibu yang tidak sabar kepada anak-anaknya, tangis anak kecil dan teriakan anak-anak yang nyaring, gerutu para ayah dengan suara parau.


Sinar matahari mulai menghidupkan dusun itu bukan saja menggugah para penduduknya untuk mulai bekerja, dan burung-burung juga segala macam binatang, akan tetapi juga menggugah pohon-pohon besar kecil setelah mereka ini terlelap dan dingin.


Para petani mulai mempersiapkan diri untuk bekerja di sawah ladang menanti sarapan sekedarnya, setiddkn minuman untuk menghangatkan perut, yang sudah berpuasa semalam suntuk.


Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan sekelompok orang yang berpakaian perajurit seragam masuk ke dalam perkampungan itu di atas kuda mereka. Jumlah mereka ada lima puluh orang dikepalai seorang komandandan bersama dua orang pembantunya.


Begitu memasuki dusun, mereka mengambil sikap mengurung, menjaga di semua penjuru, terutama di empat pintu dusun.


....~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2