
"Ah, kau benar, isteriku! Memang masuk akal sekali pendapatmu itu. Melihat kelihaian penjahat tadi, agaknya memang dia itu orangnya pendekar kecapi!" seru Coa Siang dengan geram.
"Bukan! Dia sama sekali bukan murid pendekar kecapi dan gadis yang gagah perkasa itu tidak membenci kalian, tidak ingin membunuh kalian!" seru Han Beng yang menutupi
Mendengar ucapan Han Beng itu, Coa Siang dan Cu Ming dengan cepat memandang kepada pemuda itu, karena mereka merasa penasaran sekali
"Adik Beng, tadi kau mengatakan bahwa kau tidak mengenal pemuda bercaping itu, bagaimana sekarang bisa tahu bahwa dia bukan murid Pendekar kecapi?" tanya Coa Siang yang penasaran.
"Karena murid Pendekar kecapi itu hanya ada seorang saja, yaitu aku sendiri."jawab Han Beng dengan mengulas senyumnya.
"Ahhh.........!"
Suami isteri itu berseru kaget dan keduanya bangkit dari tempat duduk mereka, memandang kepada Han Beng dengan mata terbelalak.
Akan tapi Han Beng tersenyum dan menggerakkan tangan memberi isyarat pada mereka untuk tenang.
"Sekarang tolong kalian ceritakan, kenapa kalian menganggap bahwa orang tadi murid guru dan kenapa pula kalian agaknya membenci guru dan menyebutnya sebagai gadis iblis. Aku sebagai muridnya berhak mengetahuinya, bukan?" kata Han Beng sekaligus tanyanya.
Coa Siang menarik napas panjang, demikian juga isterinya dan mereka berdua lalu duduk kembali.
"Maafkan kami, adik Beng. Bukan maksud kami menghina guru kamu, akan tetapi memang sungguh orang tua itu bagi kami amatlah jahatnya bahkan sebetulnya kamilah yang sepatutnya mendendam sakit hati kepadanya. Akan tetapi karena kejahatannya terhadap kami itu berakhir dengan baik dan membahagiakan bagi kami, maka kami mencoba untuk melupakan dia, dan karena kami masih takut terhadap dia, maka selama ini kami mengasingkan diri di dusun yang sunyi ini." jelas Coa Siang.
"Ceritakanlah, kakak Siang. Ceritakan saja apa adanya dengan terus terang, tidak perlu merasa sungkan kepadaku karena sudah dapat mempertimbangkan mana benar dan mana salah. Kalau tidak demikian, tentu aku tidak akan membantu kalian tadi, bukan? Apalagi karena sebelumnya aku pun sudah tahu bahwa kalianlah yang dicari oleh guru." kata Han Beng.
Kembali dua orang itu terkejut mendengar bahwa mereka dicari oleh Pendekar kecapi akan tetapi karena sikap Han Beng jelas baik, tidak memusuhi mereka bahkan telah menyelamatkan mereka, maka mereka pun tidak merasa ragu lagi untuk menceritakan semua yang mereka alami ketika mereka menyerbu tempat tinggal Hua Li, sekitar dua belas tahun yang lalu.
"Kami berdua mengeroyoknya, akan tetapi kami kalah dan dia berhasil merobohkan kami. Akan tetapi, kami tidak dibunuhnya! Dia memiliki rencana yang lebih kejam lagi untuk memuaskan hatinya. Kami diberi obat perangsang sehingga di luar kesadaran kami, kami melakukan hubungan suami isteri! Baiknya kami memang saling tertarik dan saling mencinta, maka kami melanjutkan hubungan itu dengan ikatan suami isteri. Akan tetapi akibatnya, aku diusir oleh Kakekku di perguruan, dan ketika kami berkunjung ke Ibu isteriku, kami pun diusir. Maka, kami lalu menyembunyikan diri di sini dan kini sudah mempunyai seorang anak laki-laki." jelas Coa Siang.
"Akan tetapi, kenapa guru melakukan hal itu? Kenapa guru ingin melihat kalian menjadi suami isteri kalau memang dia membenci kalian?" tanya Han Beng yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Hal itu hanya membuktikan betapa besarnya kebenciannya terhadap kami. Dia ingin kami menjadi suami isteri untuk kemudian dia dapat menghancurkannya, seperti rumah tangganya sendiri yang hancur karena hubungan antara mendiang Ayahku dan mendiang bibinya Cu Ming." jawab Coa Siang.
"Tapi.... tapi dua orang musuhnya itu sudah terbunuh. Kenapa kalian yang harus dibalas seperti itu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Karena wajah suamiku mirip dengan mendiang, Ayahnya, dan wajahku mirip dengan mendiang Bibiku. Dia seolah-olah ingin melihat Coa Kun dan Hui Cu hidup kembali, menjadi suami isteri agar dia dapat membalas dengan gangguan yang sama, yaitu membikin pernikahan itu menjadi hancur berantakan." jelas Cu Ming.
Han Beng menarik napas panjang dan melepaskannya secara pelan-pelan.
"Aihhh, sungguh aku merasa menyesal sekali. Guru sebenarnya mengutus aku yang harus menghancurkan rumah tangga dan kehahagiaan kalian! Mana mungkin aku lakukan hal yang sekeji itu?" ubap Han Beng yang menatap sepasang suami istri itu satu persatu.
Suami isteri itu saling pandang dan merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang. Kalau saja pemuda perkasa ini melaksanakan perintah gurunya, bagaimana mereka akan mampu menyelamatkan diri? Memang belum tentu pemuda ini akan mampu membujuk rayu dan menjatuhkan hati Cu Ming yang mencintai suaminya.
"Adik Beng, kau tidak mengganggu kami sama sekali, bahkan menyelamatkan kami dari malapetaka. Sungguh untuk itu, kami merasa berterima kasih dan hutang budi kami semakin mendalam." ucap Coa Siang dengan sopan.
"Tidak perlu berterima kasih, kakak Siang. Aku hanya melakukan hal yang wajar dan semestinya saja. Aku belajar silat bukan untuk melakukan kejahatan, bahkan sebaliknya, aku harus menentang kejahatan, dari mana pun juga datangnya!"jelas Han Beng.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak berkelebat bayangan seorang perempuan berpakaian serba putih.
"Gu....guru....!"
"Hu...Hua Li .................!"
Suami isteri itu pun berseru kaget setengah mati melihat munculnya gadis yang ramping dan gesit itu.
Gadis yang sudah berusia kepala tiga itu berdiri tegak dan memandang kepada muridnya dengan sepasang mata terbelalak penuh kemarahan.
Han Beng bersikap tenang dan dengan hormat dia pun lalu rnenjatuhkan diri berlutut di depan gurunya itu.
"Han Beng!" bentak si p3ndekar kecapi dengan suara lantang.
__ADS_1
"Tahukah kau siapa aku?" sambung Hua Li dengan geram.
Sambil memberi hormat dan berlutut Han Beng menjawab,
"Guru adalah Hua Li si pendekar kecapi, guru murid yang bijaksana." jawab Han Beng dengan menundukkan kepala.
"Hem, apakah kau masih ingat apa pesanku kepadamu terhadap dua orang suami isteri itu?" tanya Hua Li dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Murid masih ingat, guru. Guru mengutus murid untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga ini." jawab Han Beng dengan hati-hati.
"Murid gila! Lalu kenapa tidak segera kaulakukan itu?" tanya seru Hua Li dengan geram.
"Maaf guru! Murid melihat bahwa mereka adalah orang baik-baik, saling mencinta dan saling setia. Karena itu murid tidak dapat melaksanakan tugas yang guru berikan kepada murid." jawab Han beng dengan suara tenang sedikit pun tidak memperlihatkan bahwa murid itu merasa takut.
Marahlah perempuan yang gagah perkasa dan berwatak keras itu.
"Bagus! Kiranya kau berubah menjadi seorang yang berhati lemah dan lunak sekali! Kalau kau tidak sanggup menghancurkan mereka, biarlah aku yang akan membunuh sendiri mereka!" seru Hua Li yang menatap Coa Siang dan Cu Ming dengan tajam.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1