
Laki-laki itu nampak ragu-ragu dan bingung, ucapan wanita itu memang benar.
Dirinya terluka parah dan dalam keadaan seperti itu, kalau muncul orang-orang jahat, dan yang mengganggunya, tentu ia tidak akan mampu membela diri lagi.
"Pendekar siapakah Anda yang sebenarnya?" tanya Laki-laki itu yang memberanikan diri bertanya sebelum dia mengambil keputusan.
Hua Li tersenyum, karena dia dapat menduga apa yang membuat gadis itu meragu.
"Harap engkau jangan khawatir, Saudaraku, namaku Hua Li. Aku sering disebut pendekar Kecapi, karena selama ini aku selalu membawa alat musik kecapi." jelas Hua Li.
Sepasang mata bintang itu terbelak, dia sangat terkejut dengan apa yang didengarkannya.
"Ah, kiranya pendekar adalah pendekar Kecapi, Hua Li? Paman ku pernah bercerita kepadaku tentang pendekar!" seru laki-laki itu yang nampak sumringah.
"Siapakah nama Pamanmu itu?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Dia bernama Koan Tek." kWan Laki-laki itu d2ngan mengulas senyumnya.
"Hm, Koan Tek? Tokoh perguruan Elang Sakti itu? Pantas saja tadi kulihat permainan sepasang pedang darimu adalah ilmu pedang perguruan Elang sakti. Kiranya kau murid perguruan Elang sakti!" seru Hua Li.
"Itu benar pendekar!" seru Laki-laki itu.
"Hm,bagaimana? Apakah kau menerima usulku tadi demi kebaikan sendiri?" tanya Hua Li yang mengingatkan.
Keraguan kini lenyap sama sekali dan mata laki-laki itu. Sudah lama ia dengar tentang nama besar Pendekar kecapi Hua Li sebagai seorang pendekar perkasa walaupun menurut pamannya, watak pendekar ini aneh dan keras.
Namun, ia tidak melihat kekerasan dalam sepak terjangnya tadi.
"Baiklah, pendekar dan sebelumnya terima kasih atas kebaikan pendekar kepadaku." kata Laki-laki itu.
__ADS_1
"Hm, siapakah namamu? Sudah pantasnya aku mengetahuinya bukan?" tanya Hua Li yang penasaran karena sejak tadi tak terdengar laki-laki itu menyebut namanya.
Laki-laki itu jadi tersipu dan orang telah melimpahkan bantuan kepadanya dan ia pun lupa untuk memperkenalkan namanya.
"Namaku Lan Yi, pendekar." jawab laki-laki itu yang tak lain bernama Lan Yi.
"Nah, Lan Yi! mari kau ikut dengan aku. Sungai itu tidak berapa jauh lagi dan setelah tiba di sana, kita selanjutnya menggunakan perahu." jelas Hua Li.
Laki-laki itu tidak membantah, dan ia melawan perasaan malunya yang berjalan tapi dipapah oleh seorang wanita.
Hua Li mempergunakan ilmu berlari cepat sehingga dalam waktu dua jam saja dia sudah tiba di Sungai Kuning. Dia lalu menyewa perahu melanjutkan perjalanan sampai ke kaki bukit Kim-hong-san di lembah sungai Kuning.
Kemudian kembali dia memapah tubuh Lan Yi untuk mendaki puncak gunung itu dan semenjak hari itu juga Hua Li merawat Lan Yi dengan penuh perhatian. pemuda itu merasa terharu dan bersukur sekali karena wanita itu merawatnya dengan penuh ketelitian seolah-olah ia dirawat oleh ibunya sendiri.
Setelah laki-laki itu sudah pulih kesehatannya dan tidak lagi nyeri dadanya kalau bicara, barulah Hua Li menanyakan riwayat hidup Lam Yi.
Lan Yi hidup berdua saja dengan ibunya karena ayahnya telah meninggal dunia ketika ia masih kecil. Oleh pamanya, yaitu Koan Tek adik kandung ibunya, ia dimasukkan ke dalam perguruan silat seorang murid perguruan Elang Sakti, Karena ibunya sering sakit-sakitan, Lan Yi pulang ke kampungnya untuk merawat ibunya, dan pamannyalah yang sering mengajarkannya jurus-jurus dari perguruan Elang Sakti.
Biarpun agak jarang, namun Koan Tek sering singgah di dusun itu kalau dia kebetulan melakukan perjalanan melalui daerah itu sehingga hubungan antara paman dan keponakan itu cukup akrab.
Akan tetapi, dua bulan yag lalu, ibu Lan Yi jatuh sakit dan meninggal dunia. Tentu saja Lan Yi yang menjadi sebatangkara itu merasa berduka sekali. Hanya dibantu oleh para tetangga, ia mengurus penguburan jenazah Ibunya, dan setelah itu ia hidup menyendiri kesepian.
Pamannya Koan Tek yang sudah lama tidak pernah datang itu ditunggu-tunggunya, akan tetapi tidak pernah muncul. Akhirnya, Lan Yi mengambil keputusan nekat untuk mencari pamannya.
"Paman memberi dua alamatnya kepada kami, yaitu di perguruan Elang sakti dan di kota raja. Karena kota raja lebih dekat, maka saya hendak menyusul dan mencarinya di sana, pendekar." kata Lan Yi.
Hua Li mengelus dagunya merasa iba kepada laki-laki ini. Lan Yi telah memiliki ilmu silat perguruan Elang Sakti yang cukup tangguh namun kepandaian itu masih belum cukup untuk bekal seorang laki-laki muda yang tampan dalam melakukan perjalanan seorang diri.
"Kota raja itu ramai dan luas, Lan Yi. Tahukah kau di mana rumah tinggal Koan Tek?" tanya Hua Li dan Lan Yi menarik napasnya panjang.
__ADS_1
"Paman Koan Tek tidak pernah memberitahu dengan jelas di mana letaknya hanya di kota raja saja. Saya akan mencari keterangan di sana." jawab Lan Yi.
"Aih, sungguh berbahaya sekali, Lan Yi. Perjalanan ke kota raja cukup jauh dan melalui daerah-daerah rawan, banyak sekali orang jahat di dunia ini kau tentu akan menemui banyak halangan. Biarpun aku tahu bahwa kau telah menguasai ilmu silat cukup baik, namun kiranya masih belum cukup untuk melindungi dirimu dari gangguan para tokoh sesat di dunia persilatan." jelas Hua Li.
"Bagaimanapun juga, saya harus berani menghadapi bahaya itu, pendekar. Saya tidak mungkin hidup sebatangkara saja di dunia ini. Saya masih mempunyai seorang paman, maka saya akan menumpang hidup pada Paman Koan Tek." kata Lan Yi yang penuh harap.
"Memang benar pendapatmu itu. Akan tetapi setelah kau bertemu denganku, bagaimana mungkin aku membiarkan kau pergi menempuh bahaya seperti itu? Lan Yi, terus terang saja, aku merasa kasihan kepadamu dan kalau kau mau biarlah kau tinggal beberapa lama di sini. Aku akan mengajarkan beberapa ilmu silat kepadamu agar kau lebih kuat dan lebih mampu membelamu di dalam perjalananmu mencari Pamanmu. Bagaimana pendapatmu?" saran Hua Li.
Mendengar ucapan penolongnya itu, Lan Yi menjadi girang sekali dan segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar tua itu.
"Sungguh berlimpahan menumpuk budi kebaikan guru terhadap diri murid, semoga Tuhan yang akan membalasnya. Murid mentaati perintah guru!" seru Lan Yi.
Hua Li tersenyum, hatinya merasa lega sekali dan diapun memegang kedua pundak gadis itu dan menyuruhnya bangkit dan duduk kembali di atas pembaringannya.
"Cukup, Lan Yi. Aku hanya ingin melengkapi kepandaianmu, akan tetapi kalau kau suka mengakui aku sebagai gurumu, aku pun merasa gembira sekali. Ketahuilah bahwa selama hidupku, hanya mempunyai seorang saja murid dan kini kepandaiannya sudah jauh melampaui kepandaianku sendiri." kata Hua Li.
"Dan kau adalah murid ke dua, padahal engkau sudah menguasai banyak ilmu silat perguruan Elang Sakti dan aku hanya akan menambahi beberapa jurus saja untuk memperkuat dirimu dan sebagai bekal." lanjut kata Hua Li.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
__ADS_1
.