
Tak lama kemudian, batang jerami yang menonjol di permukaan air dan semenjak tadi bergerak ke arah tepi, telah tiba di tepi dan tampaklah kini kepala Hua Li yang segera muncul ke permukaan sungai.
Dengan wajah berseri-seri dan pada mulutnya tergigit sebatang jerami yang panjang.
Hua Li telah mengalahkan Chen Bun dalam bertahan di bawah air dengan menggunakan akal, yaitu dengan menggigit batang jerami yang berlubang dan dengan telentang ia dapat berenang di bawah air seenaknya karena dapat bernapas dengan mulutnya melalui batang jerami yang berlubang itu.
Semua orang tertawa dan memuji kecerdikan gadis itu, terutama Chen Kun yang merasa kagum dan tak menyangka sekali kalau Hua Li mempunyai pemikiran begitu.
"Saudara Hua, nampaknya putri kamu itu cocok sekali dengan putraku, bagaimana kalau kita jodohkan mereka?" tanya Chen Kun perlahan seraya mengulas senyumnya.
"Ha...ha ..ha ..! aku tak memikirkan sampai begitunya. Masalah jodoh, biar mereka yang menentukan sendiri. Jalani saja seperti air yang mengalir." balas Hua Tian sembari tertawa.
Sejak saat itu, hubungan mereka terjalin semakin erat. Karena Hua Tian dan Hua Li yang sekarang ikut tinggal di perguruan Bambu kuning, Hua Tian membantu Chen Kun dalan mengajar para murid-murid perguruan dan termasuk juga Chen Bun serta Hua Li.
Hua Tian dan Chen Kun tidak pilih kasih dalam memberi pelajaran kepada Chen Bun dengan Hua Li, mereka sungguh-sungguh menlatih para murid sehingga mendapat kemajuan pesat sekali terutama pada Hua Li dan Chen Bun.
Chen Bun saat ini telah dapat ikut bersilat di atas air dengan menggunakan papan terompah air bermain-main dengan Hua Li.
Hubungan kedua anak itu menjadi erat, karena Hua Li sangat suka kepada Chen Bun yang bersikap lemah-lembut, sopan-santun dan pandai pula berkelakar.
Sebaliknya semenjak pertemuan pertama Chen Bun sudah kagum sekali kepada Hua Li yang dianggapnya sebagai seorang gadis yang tidak ada nomor duanya di dunia ini.
"Saudara Hua, lihatlah mereka sangat cocok sekali!" bisik Chen Kun pada saat melihat Hua Li dan Chen Bun berlatih.
"Tentang hal itu, aku tidak berpendirian kukuh. Biarlah hal itu diputuskan sendiri oleh Hua Li. Anak itu berdiri sendiri di dunia ini, maka segala hal yang menyangkut dirinya, biarlah dia sendiri mengambil keputusan. Aku orang tua yang hanya sebentar lagi berada di dunia ini cukup mengamat-amati saja." balas Hua Tian dengan bijaksana.
Mendengar hal itu Chen Kun sangat maklum. Dia tahu kalau Hua Li bukanlah putri kandung Hua Tian, sedangkan dia tahu pula bahwa orang disampingnya itu berhati mulia dan penuh welas kasih, hingga untuk kebahagiaan orang lain, dia sendiri rela berkorban. Apalagi untuk menjaga kebahagiaan Hua Li yang dikasihi, dia tentu tidak perdulikan perasaan hatinya sendiri dan menyerahkan saja kepada anak itu agar tidak sampai salah pilih.
Hua Li pernah bertanya pada Hua Tian tentang masa lalunya karena gadis itu sering bermimpi tentang masa lalunya, dan Hua Tian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Flash back on ;
Saat itu Hua Tian dan Yan Qiu istrinya telah menemukan Hua Li yang terombang-ambing diatas aliran sungai Kuning.
Hua Tian mengajak putri angkatnya untuk berhalan-jalan di sepanjang aliran sungai kuning, seraya melihat pepohonan dan tanaman yang tumbuh subur disekitar mereka.
"Ayah, kira-kira orang tua kandungku sekarang ada dimana ya? dan apakah mereka ingat padaku?" ucap Hua Li yang bertanya sama ayah angkatnya Hua Tian dengan rasa penasaran.
"Sabarlah, Li'er aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka karena tidak tahu siapa orang tuamu." ucap Hua Tian yang apa adanya.
"Kalau begitu mari kita cari mereka ayah!" seru Hua Li yang saat itu masih berusia delapan tahun.
"Apakah kamu kira aku tidak suka melihat kau berjumpa dengan kedua orang tuamu? Ayah dan istri ayah itu mendidik kau menjadi orang pandai juga dengan maksud agar kelak kau dapat mencari kedua orang kamu dan juga asal-usul kamu.Tapi nanti, kalau kau sudah dewasa dan sudah memiliki kepandaian tinggi. Sekarang kamu belajarlah dengan tekun dan rajin, kelak tentu akan tiba masanya aku melepaskan kau pergi mencari orang tuamu." jelas Hua Tian seraya mengusap lembut kepala Hua Li.
Hua Li memeluk ayah angkatnya itu, dan terdengarlah isakan tangis gadis cilik yang selama ini bersama Hua Tian. Dan laki-laki setengah baya itu menghela napasnya.
Flash back off ;
Sehingga tingkat kepandaian mereka saling susul dan tidak berbeda jauh. Chen Bun tumbuh menjadi seorang pemuda yang sabar, hati-hati dan sebelum bertindak selalu mengadakan perhitungan tepat dan cermat, sedangkan Hua Tian menjadi seorang gadis yang sangat periang dan pemberani.
Pada suatu hari Hua Tian mengajak Hua Li jalan-jalan dan bercerita tentang perjuangan para pendahulunya dalam membangun perguruan Bambu kuning.
"Ketahuilah Li'er, disekitar tempat ini dulu masih hutan dan banyak sekali binatang-binatang entah itu binatang jinak maupun binatang buas." ucap Hua Tian pada saat mereka berada di padang rumput, dan di sekitarnya banyak para warga yang menggembala ternaknya di sekitar tanah lapang itu.
"Sungguh perjuangan yang sangat berat pada saat itu ya Yah!" seru Hua Li yang menyimak apa yang dikatakan oleh ayah angkatnya.
"Iya begitulah! tapi dulu dibawah kepemimpinan patriak An dan patriak Jingmi, semuanya patuh dan bersemangat untuk membangun perguruan dan juga membuka pemukiman di sepanjang aliran aliran sungai di lembah sungai kuning ini." jelas Hua Tian yang nampak adanya kerinduannya di masa lampau.
"Ayah, bolehkah Li'er memainkan kecapi? Li'er ingin menghibur ayah dan orang-orang yang mendengarkan alunan kecapi Li'er!" pinta Hua Li seraya mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Boleh saja! ayo kita cari tempat yang lebih teduh!" jawab sekaligus usul Hua Tian yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Hua Li.
Keduanya pun melangkahkan kaki menuju ke sebuah pohon yang tinggi dengan daun yang lebar.
Sesampainya dibawah pohon itu, Hua Li segera duduk bersila dan menata kecapi yang selalu dia bawa.
"Teng ....teng....teng....!"
Terdengar suara kecapi yang mengalun dengan indahnya saat dipetik dan dimainkan oleh Hua Li.
Sementara Hua Tian berada dibelakang Hua Li dengan posisi bersandar di pohon yang rindang itu.
Suara kecapi terus mengalun dan membuat para penggembala ternak yang sebelumnya merasakan bosan dan mengantuk, seketika segar bugar dan ada rasa penasaran dengan siapa yang memainkan alat musik kecapi itu dengan merdunya.
"Wah merdu sekali, siapa yang memainkan kecapi itu?"
"Iya, ayo kita dekati dan lihat siapa yang memainkan kecapi itu!"
Seru beberapa orang yang penasaran dengan suara kecapi yang dimainkan oleh Hua Li.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...