Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 187


__ADS_3

Yi Hui menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Han Beng, dengan hati masih bertanya-tanya dengan sosok si Pendekar Kecapi itu.


Mereka pun mulai dengan perjalanan mereka yang cukup jauh. Tanpa mereka sadari, keduanya saling tertarik.


Han Beng memang sejak semula amat tertarik kepada Yi Hui, namun dia masih ragu. Apakah itu rasa sayang pada adik atau pada kekasih. Dan dia bingung, karena dalam hidupnya kini ada tiga wanita, Hok Cu, Hua Li dan Yi Hui.


Dalam pertemuan pertama saja Yi Hui telah memperlihatkan kebaikan budinya, disamping kegagahannya yang menimbulkan rasa kagum dalam hatinya. Kini, setelah melakukan perjalanan bersama, makin, jelaslah bahwa Yi Hui memang seorang gadis yang luar biasa.


Han Beng sendiri seorang pemuda yang berpakaian tambal-tambalan seperti seorang pengemis. Biar pun gadis itu sudah mengetahui bahwa dia bukanlah seorang pengemis hina yan sembarangan saja, namun orang lain tentu tidak mengetahuinya.


Walaupun demikian, Yi Hui sama sekali tidak kelihatan canggung atau malu-malu melakukan perjalanan dengan seorang pemuda gembel dan miskin.


Pada saat keduanya memasuki sebuah kota yang pertama, nampak Yi Hui menebarkan pandangannya ke sekitar tempat yang mereka datangi.


"Kakak Beng, tunggu sebentar, ya? Aku ingin sekali memasuki toko itu!" seru Yi Hui yang tanpa memberi kesempatan kepada Han Beng bicara nona cantik itu sudah melangkahkan kakinya memasuki sebuah toko yang menjual pakaian.


Melihat hal ini, Han Beng menahan senyumnya.


"Agaknya memang wanita suka berbelanja. Tapi itu berarti adik Hui mempunyai uang, padahal dia kan terpaksa meninggalkan rumah secara mendadak?" gumam dalam hati Han Beng.


Ternyata tidak berapa lama Yi Hui memasuki toko, dan Han Beng berada diluar toko, agak jauh karena dia tidak ingin disangka hendak mengemis. Han Beng menunggu dan dia melihat Yi Hui yang keluar dari toko dengan membawa sebuah buntalan dan Yi Hui melangkahkan kakinya dengan riangnya menghampiri Han Beng sambil tersenyum.


Memang Yi Hui itu memiliki watak yang periang sehingga agaknya ia sudah mengusir kedukaannya dan kini ia lalu memperlihatkan wajah ceria.


"Wah, kau memborong pakaian adik Hui!" seru Han Beng seraya mengulas senyumnya.


Yi Hui hanya menganggukkan kepalanya, dan membalas senyum Han Beng.


"Ayo kita cepat keluar kota, aku ingin segera mencoba pakaian ini!" seru Yi Hui, dan kembali Han Beng tersenyum.


"He...he...he...! rupanya memang semua wanita suka akan pakaian indah!" pikir dalam hati Han Beng.

__ADS_1


Kemudian dengan cepat mereka keluar dari kota itu. Setelah mereka tiba di tempat yang sunyi dan dimana tidak nampak ada seorang pun yang lewat, Hui mengajak Han Beng berhenti di dekat sebuah gubuk di tengah sawah tepi jalan.


"Kakak Beng! Kita berhenti di gubuk itu!" seru Yi Hui seraya menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


"Oh, baiklah!" balas Han Beng yang kedua matanya mengikuti arah petunjuk dari Yi Hui.


Keduanya mempercepat langkah kaki menuju ke arah gubuk itu, dan setelah itu mereka memeriksa gubuk yang telah lama ditinggal oleh pemiliknya itu.


"Nah disini kakak Beng dapat mencoba pakaian ini. Sekarang kakak Beng gantilah pakaianmu, aku sudah ingin sekali melihat kakak Beng mengenakan pakaian ini!" seru Yi Hui yang menyerahkan buntalan yang tadi dibawanya dari toko pakaian.


Han Beng tertegun ketika Yi Hui mendorongkan buntalan ke dalam kedua lengannya yang terpaksa menerimanya, dan dia merasa bingung. Sejenak di hatinya bengong, tidak tahu apa yang dimaksudkan gadis itu karena dia tadinya membayangkan bahwa Yi Hui yang akan segera berganti pakaian indah.


"Apa.... apa ini....? Apa maksudmu, adik Hui?" tanya Han Beng yang penasaran.


Yi Hui tersenyum, agak lebar sehingga deretan gigi putih nampak sedikit.


"Aku tadi masuk toko untuk membelikan kakak Beng pakaian. Pakaian untukmu hanya dua stel saja. Lihatlah pakaianmu robek-robek dan sudah kumal jadi perlu diganti, bukan?" jawab Yi Hui sekaligus bertanya.


"Ta...tapi adik Hui....!" seru Han Beng yang masih bingung.


Sementara Yi Hui berada di luar dan ternyata setelah membuka buntalan Han Beng melihat dua stel pakaian sederhana namun kuat dan berwarna biru polos. Dia menanggalkan pakaian gembelnya dan memakai pakaian baru.


Kedua alisnya agak berkerut karena memikirkan kenapa Yi Hui membeli pakaian untuknya dan apakah dugaanya keliru kalau sesungguhnya Yi Hui itu merasa malu berjalan dengan seorang dirinya yang memakai pakaian seorang pengemis.


Ketika dia keluar dari gubuk itu, Yi Hui memandang Han Beng dengan wajah yang berseri, sepasang matanya menyinarkan kekaguman.


"Ah kakak Beng! kau kelihatan tampan dan gagah sekali...!" seru Yi Hui dengan gembira. Akan tetapi Han Beng tidak nampak gembira, sebaliknya mengamati wajah gadis itu


.


"Adik Hui...!" panggil Han Beng dengan si agak kaku dan Yi Hui menatap wajahnya.

__ADS_1


"Katakanlah kenapa kau membeli dan memberi pakaian untukku? Apakah kau merasa malu berjalan bersama aku yang berpakaian seperti seorang pengemis?" tanya Han Beng yang penasaran.


Sepasang mata yang tadinya bersih dengan sinar penuh kegembiraan itu terbelalak dan wajah yang tadinya berseri gembira dan kemerahan itu kini tiba-tiba berubah pucat.


"Ah, tidak... tidak....! harap jangan salah duga kakak Beng! Ah, kau maafkanlah aku, sama sekali bukan maksudku membelikan pakaian karena aku malu berjalan denganmu. Hanya kukira pakaianmu sudah begitu kotor dan tidak pantas untuk dipakai." jelas Yi Hui yang terbata-bata.


Melihat kegugupan Yi Hui, Han Beng merasa kasihan dan yang dia sesalkan kecurigaannya sendiri.


"Ma'afkanlah aku, adik Hui! aku pun percaya bahwa kau tidak melakukannya karena malu. Akan tetapi bagaimana kau dapat membelinya? Bukankah kau tidak sempat membawa uang ketika meninggalkan rumah orang tuamu?" kata Han Beng yang bertanya.


Kemudian Yi Hui mengeluarkan segenggam uang dari saku bajunya dengan tangan kanan,


sedangkan tangan kirinya meraba leher sendiri.


"Aku tadi menjual kalung emasku pada pemilik toko kakak Beng, dan ini kelebihan uangnya." jawab Yi Hui yang menunjukkan sisa uangnya.


Han Beng merasa terharu sekali, Yi Hui menjual kalungnya untuk membelikan pakaian untuknya. Di samping keharuan itu, juga dia merasa malu, karena dia membawa bekal emas dari gurunya yang cukup untuk pembeli keperluan apa pun juga.


Han Beng melihat bahwa Yi Hui juga tidak mempunyai bekal pakaian kecuali yang dikenakan pada tubuhnya. Dan gadis yang telah menjual kalungnya itu hanya membeli pakaian untuk dia sama sekali tidak membeli untuk dirinya sendiri.


"Adik Hui...!" panggil Han Beng dengan rasa haru dan kedua mata mereka saling beradu.


 


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2