
Dimana mereka yang sudah menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah patung intuk ikut menghormati patung itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara yang datangnya dari patung itu.
"Lui Seng, kau telah mengkhianati aturan Aliran Bumi dan Langit!"
Tentu saja Lui Seng dan juga Mo Li yang terkejut bukan main. Bahkan Lui Seng menatap patung itu dengan muka berubah pucat, dan timbul lagi dugaannya bahwa gurunya tentu telah hadir di situ walaupun belum memperlihatkan diri.
Lui Seng mengira kalau gurunya bersembunyi di balik patung itu, maka dengan sikap hormat dia menghadap ke arah patung.
"Guru yang mulia, mohon guru dapat memperlihatkan diri dan mendengarkan keterangan murid. Sama sekali murid tidak pernah mengkhianati aliran Bumi." kata Lui Seng dengan hormat.
"Hemmm, masih hendak menyangkal? kau mengangkat dirimu sendiri menjadi ketua, dan mengangkat seorang wanita menjadi wakilmu, bukankah itu mengkhianati pendiri aliran Bumi dan Langit!" bentak suara itu.
Lui Seng menjadi semakin ketakutan.
"Mohon guru ampuni murid, karena murid tidak tahu ke mana harus mencari guru, maka murid bertindak sendiri tanpa sepengetahuan guru. murid tidak bermaksud hendak mengkhianati....." kata Lui Ceng yang belum selesai, terpotong oleh suara misterius itu.
"Aku bukan gurumu!" kata suara itu, dan tiba-tiba dari belakang patung nampak bayangan orang berkelebat dan tiba-tiba berada di atas meja sembahyang telah berdiri seorang pemuda tampan.
Alangkah terkejut dan marahlah Lui Seng yang merasa dipermainkan, apalagi melihat pemuda itu berani berdiri di atas meja yang dikeramatkan.
"Siapa engkau?" bentak Lui Seng yang sangat marah.
__ADS_1
Hong Lan tersenyum mengejek. Dia tadi menggunakan peledak mendatangkan asap tebal untuk mencari kesempatan menyelinap tanpa diketahui orang dan bersembunyi di balik patung.
Kini dia berdiri tegak dan memandang kepada Lui Seng Cu, matanya mencorong tajam dan terdengar suaranya lantang, terdengar oleh semua anggota dan tamu yang hadir di tempat itu.
"Lui Seng dan seluruh penganut Aliran Bumi dan Langit, dengarlah baik-baik. Pendiri aliran ini, yaitu yang mulia Hong Cu telah meninggalkan dunia dan beliau telah bersatu dengan junjungan kita Raja Iblis. Dan sebagai pengganti atau penerusnya, ada seorang puteranya, yaitu aku sendiri. Namaku Hong Lan dan mendiang ayah Hong Cu telah mewariskan kepemimpinan Aliran Bumi dan Langit kepadaku. Akulah yang berhak memimpin Aliran ini, dan menunjuk para pimpinan yang membantuku. Lui Seng telah bertindak lancang tanpa perkenanku yang melanjutkan kepemimpinan Ayahku!" seru Hong Lan yang m3nata Lui Seng dengan tajam.
Lui Seng pernah mendengar dari Hong Cu bahwa gurunya itu memang mempunya seorang putera, akan tetapi dia tidak pernah bertemu dengan putera gurunya itu. Gurunya berasal dari tempat yang amat jauh, yaitu di Pegunungan Himalaya dan ketika dia bertemu dengannya orang sakti itu sedang dalam perantauan.
Dia tidak pernah mendapat kesempatan berkunjung ke tempat asal gurunya itu. Kini, mendengar bahwa pemuda tampan itu mengaku putera Hong Cu, apalagi katanya berhak untuk meneruskan kepimpinan Hong Cu yang dikatakan telah bersatu dengan aliran Bumi dan Langit atau telah meninggal dunia, tentu saja dia tidak mau menerima semudah itu.
Apalagi dia telah dipermainkan dan direndahkan di depan semua anggauta dan para tamu, oleh seorang pemuda asing.
Pemuda ini berani memaki dia sebagai seorang pengkhianat. Padahal, dialah ketua dari aliran Bumi dan Langit, orang nomor satu dari perkumpulan aliran itu.
"Orang muda sombong dan lancang!" bentak Lui Seng dengan suara mengguntur.
"Tidak kusangka bahwa pendiri aliran Bumi dan Langit adalah guruku Hong Cu, akan tetapi beliau yang memberi tugas kepadaku untuk menyebar-luaskan dan mengembangkan Aliran ini. Karena beliau tidak ada, hanya akulah yang berhak menjadi ketua! kau ini orang muda sombong berani mengaku sebagai putera guru! Sungguh kurang ajar!" seru Lui Seng yang kemudian memberi aba-aba kepada para murid utama,
"Kepung dan tangkap jahanam yang telah menghina agama kita ini!"
Dua puluh lebih murid tingkat atas perkumpulan itu sudah maju dan bergerak mengepung. Akan tetapi dengan gerakan yang indah dan cepat seperti burung terbang saja, tubuh Hong Lan sudah melayang turun dari atas meja sembahyang dan berdiri di tengah ruangan, menghadapi tuan rumah dan para tamu agung yang duduk di atas panggung kehormatan.
"Lui Seng, beginikah sikap seorang ketua? Hanya garang kalau menyuruh anak buah mengeroyok? Aku bukan musuh aliran ini, bahkan aku pemimpin besarnya, menggantikan kedudukan Ayahku, maka aku tidak melawan anak buah aliran Bumi dan Langit, kecuali kalau mereka itu memang patut dijatuhi hukuman. Biarlah para Saudara yang gagah dan hadir di sini menjadi saksi. Aku Hong Lan adalah putera pendiri aliran Bumi dan Langit, maka tentu aku akan mampu mengalahkan kau yang hanya dua tahun saja dilatih silat oleh mendiang Ayahku. Kalau aku kalah olehmu, kau berhak menjadi pemimpin aliran bumi dan Langit dan aku akan mundur. Akan tetapi kalau kau kalah olehku, itu membuktikan bahwa keteranganku tadi semua benar!" seru Hong Lan.
__ADS_1
"Guru, biar murid yang menghajar bocah sombong ini!"
Terdengar teriakan dan dua orang pemuda berloncatan dari kursi mereka menghadapi Hong Lan. Mereka itu adalah dua orang murid utama Lui Seng yaitu Siok Boan yang berusia dua puluh delapan tahun, berperut gendut dan bertubuh gagah namun mukanya kekanak-kanakan, dan adik seperguruannya bernama Kian So yang bertubuh pendek dan hidungnya pesek sekali.
Mereka adalah dua orang murid andalan Lui Seng. Melihat guru mereka yang kini berkedudukan tinggi sebagai ketua itu dihina oleh seorang pemuda asing, mereka sudah marah sekali dan tanpa diperintah mereka maju mewakili guru mereka untuk menghajar pemuda sombong itu.
"Aku akan bantu kalian menghajar bocah kurang ajar itu!"
Terdengar bentakan lain dan seorang pemuda yang bertubuh kurus kering dan bermuka pucat meloncat maju pula. Pemuda kurus kering berusia dua puluh tujuh tahun ini adalah San Bo, murid dari datuk sesat Kok Sian yang juga hadir ditempat itu bersama murid utamanya ini.
Sebetulnya antara Kok Sian dan Lui Seng hanya ada hubungan kenalan yang saling menyegani saja dan tidak sepatutnya kalau San Bo yang datang mengikuti gurunya sebagai tamu kini langsung turun tangan membantu tua rumah menghadapi seorang lawan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
__ADS_1