Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 265


__ADS_3

Karena dia memliki tenaga dalam yang kuat, maka dari semua gerakannya timbul angin pukulan yang mendorong pergi semua hawa beracun yang keluar dari gerakan kedua tangan lawan.


Semua orang yang menonton pertandingan itu merasa tegang. Bukan main hebatnya gerakan Mo Li, bukan saja gerakannya amat cepat sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan.


Namun juga amat kuat karena setiap tangannya menampar atau memukul, terdengar angin bersiut. Akan tetapi mereka amat kagum kepada Hong Lan. Pemuda itu sama sekali tidak nampak terdesak, melainkan membalas dengan serangan dahsyatnya sehingga pertandingan itu berlangsung amat seru dan menegangkan


Akan tetapi hal ini disengaja oleh Hong Lan. Dia melihat betapa wanita ini lebih lihai dan kelak akan dapat menjadi tangan kanannya yang boleh diandalkan. Selain itu, gairahnya sudah bangkit oleh gerak-gerik wanita yang usianya sudah lanjut namun masih cantik menarik ini, dan dia tidak ingin menanam kebencian dalam hati wanita itu.


Kalau dia menghendaki, tentu pertandingan itu tidak akan berlangsung lama itu. Dia sengaja mengalah dan membuat pertandingan itu nampak seru dan ramai.


Setelah lewat lima puluh jurus, barulah dia mencari kesempatan baik dan ketika kedua tangan lawannya itu menyerang dengan cakaran dari kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya meluncur ke atas dan berjungkir balik, lalu di meluncur turun menyerang dari atas den gan kedua tangan melakukan pukulan dasyat ke arah ubun-ubun kepala lawan.


"Ihhhhh ........!"


Mo Li terkejut bukan main karena serangan itu sungguh dahsyat dan tidak mungkin baginya untuk mengelak lagi.


Satu-satunya jalan hanya mengangkat kedua tangan menangkis dengan resiko terluka dalam karena tentu tenaga pemuda itu ditambah berat badannya akan merupakan beban yang sukar dapat ditahannya.


"Dukkk.....!"


Mo Li terkejut ketika kedua lengannya bertemu dengan sebuah lengan saja, itu pun lunak. Ia segera menduga bahwa tentu tangan lain pemuda itu akan menyerangnya, namun terlambat.


Jari tangan kiri Hong Lan sudah menotok punggungnya dan seketika tubuh Mo Li menjadi lemas, kehilangan tenaga dan ketika Hong Lan melayang turun, ia pun terhuyung dan hampir jatuh.


"Mo Li hati-hati...!" seru Hong Lan menubruk, tangan kanan memegang pundak akan tetapi tangan kiri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga tidak nampak oleh siapapun, memegang payudara kanan Mo Li.

__ADS_1


Hanya memijat sekali saja namun tentu saja. terasa sekali oleh wanita itu, yang juga merasa betapa totokan itu telah dibebaskan pula oleh Hong Lan ketika pemuda itu menahan sehingga ia tidak sampai terjatuh itu.


Wajah Mo Li menjadi merah sekali, akan tetapi bibirnya tersenyum dan matanya menatap tajam wajah yang tampan itu. Bukan main bocah ini, kirnya. Masih begitu muda, tampan pandai bicara, lincah Jenaka, dan miliki ilmu kepandaian sehebat itu.


Bukan itu saja, bahkan tadi pemuda itu sempat memijat dadanya dan hal ini saja sudah jelas baginya bahwa kecantikannya masih sempat dikagumi pemuda itu.


Jantungnya berdebar dan ia melihat kesempatan baik untuk memperoleh seorang kekasih baru yang selain muda, tampan, akan tetapi juga lihai sekali dan agaknya akan menjadi seorang atasannya.


Akan tetapibia harus menjaga nama besarnya, bukan hanya sebagai wakil ketua dari Aliran Bumi dan Langit, akan tetapi juga sebagai Mo Li yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia persilatan.


Biarpun tadi kekalahannya tidak kelihatan mutlak berkat sikap Hong Lan, namun tetap saja semua orang melihat betapa ia terhuyung akan jatuh dan bahkan dibantu oleh Hong Lan sehingga tidak jadi terpelanting jatuh.


Kini ia habis memperlihatkan kehebatannya bermain senjata, bukan saja kepada Hong Lan akan tetapi juga kepada semua orang yang berada di situ. Selain itu, juga ingin membuktikan sendiri kehebatan pedang dan suling di tangan pemuda itu.


"Singgggg .........!"


Pedang kemerahan itu pun merupakan pedang beracun yang dimiliki Mo Li, dan kedua adalah pedang hitam ini telah ia berikan kepada Cu Ming, puterinya.


Yang pegangnya itu, pedang beracun yang merupakan pedang pusaka yang ampuh karena telah direndam racun ular merah yang amat berbahaya.


Jangankan sampai tertusuk atau terbacok pedang itu, baru tergores sedikit saja kulitnya, kalau sudah berdarah, maka luka itu akan melepuh dan kalau tidak cepat mendapatkan obat pemunah, racunnya akan naik dengan darah dan membuat seluruh tubuh yang dilalui racun itu melepuh membengkak.


"Tuan muda Hong, ilmu silatmu sungguh hebat dengan tangan kosong. Sekarang, harap tidak bersikap pelit, berilah petunjuk kepadaku dalam ilmu silat bersenjata jelas!" ucapan Mo Li yang mulai merendahkan diri dan menghormat, seperti orang bicara kepada lawan yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya.


Senang hati Hong Lan mendengar itu dan dia pun ingin memamerkan ilmu kepandaiannya kepada wanita cantik ini dan kepada semua orang yang hadir.

__ADS_1


Dia tidak mengeluarkan suling dan pedang seperti tadi, melainkan kini memegang suling di tangan kanan dan dia mengambil caping (topi dari anyaman bambu) dengan tangan kirinya.


"Mo-li, bagaimanapun juga, aku adalah seorang pria dan engkau seorang wanita. Tidak enak kalau aku harus menggunakan senjata tajam terhadap seorang wanita. Nah, aku menggunakan suling dan capingku ini saja dan kita main-main sebentar. Aku sudah siap, kau boleh mulai menyerangku!" seru Hong Lan.


Mo Li jengkel pada pemuda ini, karena dia terlalu memandang rendah kepadanya.


"Walaupun pemuda itu lihai, kalau senjatanya hanya suling dan caping bambu, mana akan mampu menghadapi pedang dan kipasnya yang merupakan senjata senjata beracun yang ampuh sekali." gumam dalam hati Mo Li.


 "Kalau kau kalah dan mati terluka oleh senjataku, salahmu sendiri dan kau layak mampus karena telah memandang rendah kepadaku. Akan tetapi kalau kau dengan senjata seperti itu mampu menandingiku, sungguh pantas menjadi atasanku dan lebih pantas la menjadi kekasihku!" seru Mo Li yang kemudian mengeluarkan jerit melengking dan pedangnya berkelebat menjadi sinar merah menyambar dengan tusukan ke arah ulu hati. Sedangkan kipasnya ditutup dan ditusukkan sebagai totokan ke arah leher.


Sementara itu Hong Lan menangkis pedang dengan santai, menggunakan sulingnya dan totokan kipas itu pun dapat dihalau dengan menggerakkan capingnya yang lebar.


Caping itu dapat bertugas seperti perisai dan ketika gagang kipas menyambar, terdengar bunyi keras dan tahulah Mo Li bahwa caping yang dipandangnya rendah itu ternyata hanya di luarnya saja merupakan anyaman bambu, akan tetapi di sebelah dalamnya terlindung baja atau besi atau semacam logam yang kuat.


Mo Li tidak berani memandang rendah dan memainkan pedang dan kipasnya dengan cepat sehingga nampak gulungan sinar yang menyambar-nyambar.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2