Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 176


__ADS_3

 "Dasar pembohong! Kau adalah murid dari perguruan Elang Sakti!" seru seseorang yang tiba-tiba muncul di antara para pimpinan pengemis itu.


Terkejutlah Yi Tiong dengan Dia tahu bahwa keadaannya menjadi semakin gawat kalau orang-orang itu sudah tahu bahwa dia seorang murid perguruan Elang sakti, apalagi mengingat bahwa saudara seperguruan yang berada di sebelahnya itu dalah seorang murid perguruan Elang sakti yang lolos dari perguruan Elang sakti pada saat dibakar.


 


"Memang kuakui bahwa ilmu silatku bersumber dari ilmu silat perguruan Elang sakti, akan tetapi ilmu silat mana yang tidak bersumber dari sana? Aku, bukan murid perguruan Elang sa


"Orang kurus bermata lebar itu seorang di antara murid perguruan Elang sa yang memberontak! Aku ingat benar! Dia seorang di antara lima murid perguruan Elang sakti yang mengamuk di Ki-nyan-tung!" kembali orang itu berseru.


Kini Cui Siong yang terkejut. Dia adalah seorang buruan, dan dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, hanya dia menyesal sekali bahwa kini saudaranya yang hidup aman di kota raja ini akan menanggung akibat dari persembunyiannya di situ.


Pada saat itu, Han Beng dan Kwe Ong muncul. Pada saat melihat mereka, prajurit yang tadi berteriak segera mengenal mereka.


"Nah, itu dia yang membantu para murid perguruan Elang Sakti! Pengemis tua itu yang menendang roboh padaku, dan pemuda tinggi besar itu ikut mengamuk!" seru orang itu.


Kini tidak ada jalan lain lagi untuk menyangkal. Yi Tiong memang sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan semenjak Cui Siong berada tempat tinggalnya.


Yi Tiong pun sudah meloncat ke depan sambil mencabut pedangnya, langsung saja menyerang pengemis yang tadi membocorkan rahasianya sebagai murid perguruan Elang Sakti.


Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, akan tetapi tongkat itu patah dan pedang di tangan sudah melukai pundaknya sehingga dia jatuh terguling dan berteriak kesakitan. Segera ada banyak sekali tongkat yang mengeroyok tabib itu.


Melihat saudara seperguruannya sudah mengamuk, Cui Siong yang merasa betapa kehadirannya yang menyebabkan keributan itu, segera mencabut pula pedangnya dan juga mengamuk.


"Ayah, mari kita hajar para jahat ini!" Seru Yi Hui yang juga membentak dandia pun sudah melompat ke depan, mengenakan pedang yang sudah dipersiapkannya untuk membantu ayah dan saudara seperguruan ayahnya.

__ADS_1


Memang sementara keributan pagi tadi dengan orang-orang perkumpulan pengemis sabuk merah, keluarga ini sudah mempersiapkan pedang agar setiap saat dapat membela diri.


Melihat betapa pihak tuan rumah sudah terjun ke dalam perkelahian dan dikeroyok banyak orang yang rata-rata lihai, Han Beng menoleh kepada gurunya.


"Guru, apa yang harus murid lakukan?" tanya Han Beng yang selama ini gurunya itu selalu menekankan bahwa dia harus hidup sebagai seorang pendekar yang menentang para penindas dan penjahat.


Akan tetapi gurunya juga berpesan agar dia tidak memusuhi pemerintah karena kalau dicap pemberontak maka akan sukarlah mencari tempat yang aman bagi kehidupannya.


Kwe Ong menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan-lahan.


"Wah, agaknya perguruan pengemis sabuk merah yang telah bersekutu dengan pasukan keamanan dan kalau pembesar sudah bersekutu dengan orang-orang yang jahat dan menyeleweng, sungguh tidak tahu lagi aku apa yang harus kita akukan. Akan tetapi, jelas bahwa keluarga Yi sudah terancam maka kita harus menolong dan menyelamatkan mereka!" jelas Kwe Ong.


Penjelasan Kwe Ong ini amat ditunggu-tunggu oleh Han Beng, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu terjun kedalam gelanggang perkelahian, dengan tamparan dan tendangannya dia merobohkan tiga orang pengeroyok yang membuat repot Yi Hui.


Selanjutnya ia melindungi nona cantik itu dari pengeroyokan. Kwe Ong masih ragu-ragu. Dia sudah tua dan sedang tidak sehat, menggunakan tenaga untuk berkelahi dapat membahayakan nyawanya sendiri. Lagi pula dia pun tahu bahwa kedaan amatlah berbahaya.


Akan tetapi, keraguannya lenyap ketika dia melihat betapa tubuh Yi Tiong dan Cui Siong sudah berlumuran darah oleh luka-luka yang mereka derita. Walaupun kedua saudar seperguruan ini mengamuk, namun para pengeroyok mereka itu pun rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dan dikeroyok demikian banyaknya, akhirnya mereka pasti luka-luka.


"Han Beng! Nona! Kalian tolong Yi Tiong dan Cui Siong untuk melarikan diri, biar aku yang menahan mereka!" seru Kwe Ong.


Tiba-tiba kakek ini terjun ke dalam pertempuran dan dengan gerakan kedua lengan bajunya yang tambal-tambalan dia menyapu roboh beberapa orang. Gerakan kakek ini memang hebat bukan main.


Kedua lengan bajunya yang lebar itu mengeluarkan angin yang bagaikan badai. Baru terkena anginnya saja, orang-orang yang berada dekat dengannya terpelanting roboh, apalagi yang sampai tercium ujung lengan baju. Tenaga sakti yang keluar dari kedua lengannya amat dahsyat.


Juga amukan Han Beng yang bertangan kosong itu hampir sama dengan suhunya, kalau tidak malah lebih hebat lagi. Pemuda ini selama lima tahun telah warisi ilmu kepandaian Kwe Ong setelah dia mewarisi ilmu kepandaian dari pendekar Kecapi Hua Li.

__ADS_1


Pukulan dan tendangannya pasti merobohkan seorang lawan, walaupun mereka itu sudah mencoba untuk mengelak dan menangkisnya. Tangkisan senjata tajam tidak dipedulikan oleh Han Beng.


Senjata yang bertemu dengan lengan atau kakinya terpentai diikuti robohnya pemilik senjata itu. Mendengar seruan gurunya, Han Beng juga maklum. Kalau dilanjutkan, tentu akan datang bala bantuan yang amat banyak karena mereka berada di kota raja. Kalau sampai lambat melarikan diri, dapat berbahaya sekali.


 "Nona, mari kita larikan Ayahmu dan paman Gurumu!" seru Han Beng.


Yi Hui yang tadinya repot menghadapi pengeroyokan banyak orang, kemudian keadaannya menjadi ringan setelah pemuda perkasa itu mengamuk di sebelahnya dan melindunginya, mengangguk karena ia pun melihat betapa ayahnya dan saudar seperguruan ayahnya yang juga menjadi gurunya itu telah menderita luka-luka berdarah.


Keduanya lalu cepat mengamuk mendekap dua orang yang luka-luka itu. Ketika Han Beng tiba di situ, dia melihat keadaan Yi Tiong sudah payah dan terhuyung-huyung. Maka dia pun cepat menangkap tubuh orang tua itu, memanggulnya, dan mempergunakan pedangnya untuk melindungi diri mereka, juga melindungi Yi Hui yang sudah menggandeng tangan paman kakak seperguruan ayahnya yang diajak lari.


Jalan untuk lari sudah terbuka karena Kwe Ong sudah mengamuk lebih dahulu membuka jalan. Larilah mereka, Han Beng memondong tubuh Yi Tiong dan Yi Hui menggandeng dan menarik Cui Siong yang juga sudah terhuyung huyung.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


   


__ADS_2