
"Dan aku melihat bahwa bibimu itu persis wajahmu, sama cantik jelita dan manis." rayu Coa Siang yang mampu membuat Cu Ming tersenyum.
Kalau begitu pantas kalau mereka itu saling jatuh cinta, mereka berciuman lagi dan setelah itu bangkit dari duduk mereka dan keduanya saling bergandengan tangan, mereka lalu keluar dari dalam pondok.
"Kakak Siang, sekarang marilah kau ikut bersama aku untuk menghadap ibuku, akan kuperkenalkan kepada ibu, sebagai calon mantunya." kata Cu Ming yang sedikit memohon.
"Nanti dulu adik Ming! Karena tempatku lebih dekat, tidakkah sebaiknya kalau kita pergi menghadap ibuku dan kakekku lebih dulu? Akan kuperkenalkan kau kepada mereka dan akan kuberitahukan mereka tentang keadaan kita, setelah itu, baru aku minta kakek dan ibuku mengajukan pinangan kepada ibumu secara resmi dan kita pergi menghadap ibumu." jelas Coa Siang seraya menatap Cu Ming.
"Baiklah, kakak Siang. Dan setelah itu baru kita berdua pergi mencari musuh besar kita itu. kita berdua akan membunuhnya." kata Cu Ming yang membalas tatapan Coa Siang.
"Benar, jika melihat kelihaian Pendekar kecapi itu, sebaiknya kita minta bantuan orang-orang yang lebih pandai." saran Coa Siang.
"Aku akan mencoba membangkitkan kemarahan ibuku agar ia suka pergi menghadapi pendekar kecapi itu. Agaknya ibu akan mampu menandinginya dan mengalahkannya." kata Cu Ming dan Coa Siang setuju akan hal itu.
Sambil bergandengan tangan, kedua orang muda itu meninggalkan pondok sunyi itu, tapi sebelumnya mereka menggali sebuah lubang besar dibantu oleh Cu Ming untuk mengubur jenazah tiga belas orang murid Perguruan Harimau Hitam.
Setelah mereka pergi, menjelang malam barulah Hua Li keluar dari tempat sembunyinya. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk gembira. Semua rencananya berjalan dengan baik sekali. Mereka berdua akan menjadi suami isteri.
Pendekar kecapi itu mengulas senyumnya dan dia tidak peduli melihat pondoknya dibakar orang dan dia pun pergi meninggalkan tempat itu, membawa buntalan yang terisi pakaian dan juga kecapinya.
Pada waktu itu, yang menguasai Tiongkok sebelah utara dan sebagian besar daerah tengah adalah Kerajaan Sui. Setelah zaman Sam Kok. Tiongkok dilanda perang saudara yang tiada henti-hentinya. Negara itu terpecah-belah.
Setiap orang gubernur atau jenderal yang berkuasa di suatu daerah, membentuk wangsa-wangsa sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling gempur, maka terjadilah perang saudara yang kacau balau, memperebutkan wilayah dan kekuasaan.
__ADS_1
Keadan ini membuka kesempatan bagi bangsa-bangsa asing dari utara dan barat untuk menyerbu ke pedalaman Tiongkok. Mereka adalah bangsa Sui-nu, Turki, Tibet dan bangsa Toba. Masih banyak lagi bangsa-bangsa nomad yang kecil-kecil menyerbu masuk dan menduduki wilayah kecil-kecil.
Rakyatlah yang menjadi korban perebutan kekuasaan diantara para pembesar itu. kekacauan dan keadaan perang saudara seperti ini terjadi sampai berabad-abad lamanya sehingga catatan sejarah pun lenyap dalam kekacauan itu.
Seorang penguasa bernama Yang Cian berhasil mempersatukan para raja kecil yang saling berebut kekuasaan itu dan berdirilah wangsa baru, dinasti baru yang diberi nama dinasti atau kerajaan Sui.
Mulailah Kaisar Yang Cian ini menyusun kekuatan dan berhasil mengamankan seluruh daerah dan rakyat mulai dapat hidup teratur dan tentram setelah selama beberapa generasi menderita terus-menerus sebagai akibat perang saudara yang tiada hentinya.
Kaisar Yang Cian adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pendai. Dia menghapuskan beban rakyat berupa pajak-pajak yang tadinya secara semena-mena ditetapkan oleh penguasa setempat untuk menggendutkan perut sendiri, menggantikan dengan aturan pajak yang adil bahkan cukup ringan bagi rakyat.
Hukum Negara pun diadakan dan dijalankan dengan baik. Bahkan kaisar yang bijaksana ini mementingkan kebutuhan rakyat petani, maka dia pun memelopori usaha penggalian terusan-terusan yang menghubungkan Sungai Kuning dengan Sungai Yang-ce.
Bukan hanya ini saja usaha Kaisar Yang Cian, bahkan dia pun memperkuat Negara dan mengembalikan kedaulatan Negara dengan menundukkan kembali daerah-daerah yang tadinya dirampas oleh bangsa-bangsa asing.
Kaisar Yang Cian meninggal dunia, dan pemerintahan dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Yang Ti. Kaisar baru ini melanjutkan usaha yang dirintis ayahnya, bahkan lebih aktif lagi daripada ayahnya. Dia memperluas penggalian terusan-terusan anatara Huang-ho dan Yang-ce, bahkan diteruskan sampai ke Hang-couw.
Bukan ini saja, bahkan dalam hal memperluas wilayah dan merebut kembali wilayah-wilayah di pinggiran yang tadinya dikuasai bangsa asing diapun amat aktif. Dia sering kali memimpin sendiri pasukan-pasukan besar, memerangi bangsa Toba, Turki dan Mongol.
Kaisar Yang Ti terkenal sebagai seorang kaisar yang gagah perkasa dan mencintai rakyatnya. Dia berpendapat bahwa sebuah pemerintahan tiada bedanya dengan sebatang pohon. Kekuatan dasar pohon itu terletak pada akar-akarnya yang harus dengan kokoh kuat tertanam didalam tanah samapai dalam.
Demikian pula dengan pemerintahan, kekuatannya terletak pada rakyat jelata. Pemerintah yang mencintai dan dicintai rakyat, yang mempunyai hubungan mendalam dengan rakyat, pastilah menjadi pemerintah yang kuat.
Kekuatan ini yang akan menyuburkan pohon melalui akar-akarnya. Dan kalau pohonya subur, tentu ranting-rantingnya juga subur, dan akan menghasilkan bunga dan buah yang amat baik.
__ADS_1
Demikian pula, kalau pemerintahan kuat, kalau pemimpinnya yang tertinggi bijaksana dan dicinta rakyat, tentu akan muncul pejabat-pejabat yang bijaksana dan baik pula, dan pemerintahan itu akan menjadi sehat, subur dan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.
Tapi sayang, terkadang manusia lupa akan dirinya kalau sudah mabuk kekuasaan. Bukan hanya arak yang memabukkan, akan tetapi juga semua hal yang mendatangkan kesenangan dapat memabukkan seseorang.
Harta, nama, kekuasaan dapat membuat orang menjadi mabuk dan lupa diri. Demikian pula halnya dengan Kaisar Yang Ti. Saking semangatnya, saking senangnya melihat kemajuan-kemajuan dan hasil-hasil yang diperolehnya, dia lupa diri dan mulailah terjadi tindakan yang berlebihan.
Untuk membangun terusan-terusan yang merupakan pekerjaan besar, berat dan sukar, demi melihat segera tercapainya hasil baik, dia melakukn tekanan kepada bawahannya sehingga para bawahan itu pun mulai menekan kebawah lagi.
Akibatnya, banyak rakyat dipaksa bekerja berat untuk membangun pembangunan terusan. Semacam kerja paksa atau kerja rodi, tentu saja hal ini tidak diketahui oleh kaisar yang selalu sibuk itu. dan mulailah terdapatgolongan yang tidak setuju, bahkan mulai membenci pemerintah, terutama di kalangan para pendekar yang selalu memperhatikan keadaan rakyat jelata.
Memang benar bahwa terusan itu dibangun demi kepentingan pertanian, akan tetapi caranya membangun itu yang tidak menyenangkan hati para pendekar karena banyak rakyat yang ditekan, bahkan banyak pula yang menjadi korban dan tewas dalam pembangunan yang amat besar itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1