Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 191


__ADS_3

Biksu ini kulitnya hitam dan perutnya gendut, akan tetapi muka yang hitam itu memiliki sepasang mata yang ramah dan mulutnya selalu tersenyum.


"Amithaba....! Seorang gadis remaja yang begini manis dan gagahnya, ternyata memiliki watak yang amat jahat suka menyiksa orang lain! Nona, sungguh amat tidak baik kalau kau lanjutkan menyiksa dua orang ini yang sudah kehabisan tenaga, kau paksa dan kau seret untuk berjalan, bahkan berlari. Dimana perikemanusiaanmu!" seru Biksu itu.


Hok Cu adalah seorang yang galak, apalagi sekarang ia merasa tidak bersalah, disangka yang bukan-bukan oleh seorang kakek tua renta berkepala gundul yang perutnya gendut. Ia membelalakkan matanya, memandang penuh kemarahan dan ia menudingkan telunjuknya ke arah perut yang gendut itu.


 "Hei Biksu tua! Apa kaukira prikemanusiaan sudah diborong semua oleh Biksu-bisku gendut seperti kau ini? Apa kau kira perutmu yang gendut itu terlalu penuh oleh kebaikan dan prikemanusiaan sehingga manusia macam aku tidak mengenalnya lagi? Hayo minggir dan jangan menghalang di tengah jalan!" seru Hok Cu.


"Ha-ha-ha, bukan main galaknya! Pantas sekali, wataknya galak dan perbuatannya pun kejam. Kenapa sih engkau menyeret-nyeret kedua orang muda ini. Nona? Apa kesalahan mereka?" tanya Biksu itu seraya tersenyum semakin lebar.


"Biksu tua, buka telingamu baik-baik dan dengar omonganku! Semua urusan kami bertiga ini tidak ada sangkut pautnya dengan seorang tua renta seperti kau! Minggir atau terpaksa aku tidak akan sungkan lagi terhadap orang tua renta seperti kau!" seru Hok Cu yang semakin mendongkol.


"Hei, Nona Kecil, kalau aku tidak mau minggir, lalu apa yang akan kau lakukan kepadaku?" tanya biksu itu.


"Aku akan mendorongmu sampai engkau jatuh!" jawab Hok Cu yang mengancam.


"Ho...ho...ho....! bagus sekali. Aku tidak mau minggir sebelum kau mau melepaskan dan membebaskan kedua orang anak yang sudah kehabisan tenaga itu!" seru Biksu itu.


"Kurang ajar...!" maki Hok Cu yang saat 8ni sangat marah dan tidak dapat menahan dirinya lagi. melepaskan lengan kedua orang remaja itu, lalu mengerahkan tenaga dalam dan mendorongkan kedua tangannya ke arah perut yang gendut itu.


Kakek gendut itu tidak mengelak bahkan mendorong perutnya yang gendut ke depan, seperti sengaja menyerahkan perutnya untuk dipukul atau didorong.


"Bugh...!"


Kedua telapak tangan Hok Cu mengenai perut itu dan ia terkejut bukan main. Ia merasa seolah-olah mencorong agar-agar yang lunak dan yang menyedot semua tenaga dorongnya sehingga tenaganya lenyap dan sama sekali tidak berhasil, seperti mendorong air saja.


Hok Cu masih belum mau menerima kenyataan bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, melainkan mengira bahwa biksu itu memang memiliki perut yang luar biasa sehingga tidak dapat diserang dengan dorongan tenaga dalam.


"Hemmm, kau mencari penyakit sendiri!" seru Biksu itu dan kini tangan kirinya memukul dengan telapak tangannya yang berubah menjadi kehitaman.

__ADS_1


Itulah tamparan yang mengandung hawa beracun, Memang inilah satu di antara watak yang mewarisi Hok Cu dari gurunya, yaitu ganas terhadap lawan.Tamparan itu merupakan ilmu pukulan beracun yang berbahaya.


Melihat hal itu,biksu itu agaknya tidak mengetahuinya, hanya mulutnya saja yang menyeringai dan matanya terbelalak kaget.


 "Amithaba...! sungguh tak terkira kekejianmu nona!" ucap biksu itu.


"Dugh...!"


Tangan yang menampar itu bertemu dada yang banyak dagingnya, akan tetapi sama sekali tidak lunak seperti perut tadi, melainkan keras seperi baja sehingga Hok Cu merasa telapak tangannya nyeri dan panas.


Tapi sebaliknya, kakek itu seperti tidak merasakan pukulan beracun itu.


Hok Cu menjadi marah sekali, dan ia mulai menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang pandai. Tapi karena biksu itu menentangnya, berarti musuhnya yang harus dirobohkan agar ia dapat melanjutkan pelariannya bersama dua orang muda itu.


Tanpa banyak cakap lagi, ia pun lalu menyerang dengan dahsyatnya, tangan kanan mencakar ke arah kedua mata lawan, tangan kiri mencengkeram ke arah lambung.


"Amithaba...! seperti harimau muda yang ganas...!" biksu itu yang menggerakkan tongkatnya, mendorong kearah kedua kaki Hok Cu dan tubuh gadis itu terpelanting dan terbanting keras ke atas tanah.


Sementara itu, dua orang muda yang melihat betapa penolong mereka itu berkelahi dan dibuat jatuh bangun oleh biksu tua itu, maka dengan cepat mereka menjatuhkan diri berlutut di depan biksu itu.


"Guru, harap jangan ganggu penolong kami...!" kata yang pria.


"Iya guru, pendekar itu menolong kami dari ancaman bahaya maut. Ia menolong kami, bukan menyiksa!" kata yang wanita.


"Apa maksud kalian? Aku tak mengerti?" tanya biksu tua itu dengan wajah yang hitam itu terbelalak, karena sangat terkejut.


Kemudian kedua anak muda itu menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi pada mereka.


"Amithaba...! apa yang telah aku lakukan ini!" gumam biksu itu yang merasa tak enak hati.

__ADS_1


Keadaan Hok Cu sudah membaik dan dia melangkah maju untuk melawan Biksu itu lagi. Akan tetapi pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan disusul bentakan nyaring,


 "Hok Cu....!"


Terdengar suara yang memanggilnya dan sangat dikenal oleh Hok Cu. Gadis itu terkejut setengah mati ketika mengenal suara gurunya.


Hok Cu menoleh dan ternyata memang gurunya Mo Li dan Lui Seng sudah berdiri di sekitar posisinya dengan mata menyinarkan marahan.


Sementara itu, dua orang muda yang masih berlutut, kini terbelalak dan memandang dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Gadis itu malah sudah mulai menangis sesenggukan saking ketakutan.


Biksu tua bermuka hitam memandai semua ini dengan alis terangkat dan sinar mata melirik ke sana-sini penuh selidik.


Mo Li marah bukan main, ketika semalam terjadi kebakaran besar pada gudang di samping rumahnya, dan dia mengira ada penyerbuan musuh. Karena itulah dia bersama Lui Seng keluar membantu para pelayan memadamkan api yang berkobar besar.


Untung api dapat dipadamkan sebelum melahap bangunan induk. Tapi dia merasa curiga karena tidak nampak tanda-tanda adanya penyerbuan musuh sehingga Mo Li merasa terheran-heran.


Mo Li juga merasa heran kenapa muridnya, Hok Cu, tidak muncul membantu orang-orang untuk memadamkan api. Setelah ia dan Lui Seng kembali ke kamar, barulah ia tahu, kalau ta2anannya telah lenyap dan juga Hok Cu tidak berada di dalam kamarnya.


Guru Hok Cu itu teringat ketika muridnya itu pernah menentang akan dikorbankannya dua orang muda, maka siapa lagi kalau bukan muridnya yang kini menghalangi hendaknya dan membebaskan dua orang muda itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


... ...


__ADS_2